Ruwatan Dalam Masyarakat Jawa

0 40

Ruwatan, sebagai salah satu warisan upacara tradisional Jawa sampai sekarang masih terlestarikan. Terlestarikannya upacara ini oleh karena keberadaaannya memang dianggap masih bermanfaat bagi pelestarinya.

Asal-Usul Tradisi Ruwatan

Batara Guru ingin mengelilingi dunia bersama istrinya. Mereka naik diatas punggung Lembu Andini, terbang diangkasa. Mereka telah selesai mengelilingi Pulau Jawa, lalu terbang di atas samudra. Kebetulan waktu matahari terbenam, waktu senjakala, sinar matahari merah menyinari air samudra, menimbulkan pandangan indah di lautan.Batara Guru memandang keindahan samudra, bimbang ragu hatinya, bangkit asmaranya, karena sejak Weton Wisnu, jauh dari rindu asmara. Sejak itulah bangkit keinginan untuk bersatu rasa dengan istrinya. Tetapi sayang Dewi Uma tidak menanggapinya, sebab rasa hati masih jauh untuk bersenggama. Namun Batara Guru berkeinginan keras, Dewi Uma dipegang, lalu dipangku & akan digaulinya. Dewi Uma menolak & berkata kasar.

Dikatakannya Batara guru terlalu kasar seperti raksasa, berbuat disembarang tempat, di atas punggung lembu. Dewi Uma mengharap agar Batara Guru lebih sabar, namun sumpah serapah Dewi Uma yang telah terucap bagaikan sumpah ampuh, sehingga seketika Batara Guru bertaring seperti raksasa. Karena tak kuasa menahan gairah & timbul amarahnya, Kama (benih) Batara guru terlanjur keluar dan tumpah di samudra, menggelegar suaranya. Air samudra berdebur hebat, lalu mereka segera mereka kembali ke Kahyangan. Air samudra masih hebat membual-bual, gegap gempita suaranya, menggemparkan para Dewa, lalu disuruhnya para Dewa mencari penyebabnya. Setelah jelas, mereka kembali melapor, bahwa yang menimbulkan huru-hara berasal dari dasar laut. Mereka tidak dapat mendekat karena panas sinar seperti panas api. Batara Guru berkata bahwa yang tampak bersinar itu disebut Kama Salah. Dan menyuruhnya untuk membinasakannya. Namun apa daya, mereka semua yang diperintahkan tak sanggup membunuhnya. Bahkan mereka lari kocar kacir tunggang langgang dikarenakan kuatnya Kama Salah ini. Sampai akhir kata, Batara Guru memberi penjelasan kepada Kama Salah bahwa ia adalah putera dari Batara Guru, Kemudian ia diberi nama Batara Kala dan lalu disuruhnya bertempat tinggal di Nusakambangan untuk merajai makhluk jahat dan semua Jin di pulau Jawa.

Sesajen Dalam Ruwatan
  1. Tuwuhan, yang terdiri dari pisang raja setudun, yang sudah matang dan baik, yang ditebang dengan batangnya disertai cengkir gading (kelapa muda), pohon tebu dengan daunnya, daun beringin, daun elo, daun dadap serep, daun apa-apa, daun alang-alang, daun meja, daun kara, dan daun kluwih yang semuanya itu diikat berdiri pada tiang pintu depan sekaligus juga berfungsi sebagai hiasan/pajangan dan permohonan.
  2. Dua kembang mayang yang telah dihias diletakkan dibelakang kelir (layar) kanan kiri, bunga setaman dalam bokor di tempat di muka dalang, yang akan digunakan untuk memandikan Batara Kala, orang yang diruwat dan lain-lainnya.
  3. Api (batu arang) di dalam anglo, kipas beserta kemenyan (ratus wangi) yang akan dipergunakan Ki Dalang selama pertunjukan. Kain mori putih kurang lebih panjangnya 3 meter, direntangkan dibawah debog (batang pisang) panggungan dari muka layar (kelir) sampai di belakang layar dan ditaburi bunga mawar dimuka kelir sebagai alas duduk Ki Dalang, sedangkan di belakang layar sebagai tempat duduk orang yang diruwat dengan memakai selimut kain mori putih.
  4. Nasi golong dengan perlengkapannya, goreng-gorengan, pindang kluwih, pecel ayam, sayur menir, dsb. Nasi wuduk dilengkapi dengan ikan lembaran, lalaban, mentimun, cabe besar merah dan hijau brambang, dan kedele hitam. Nasi kuning dengan perlengkapan telur ayam yang didadar tiga biji. Srundeng asmaradana.
  5. Jenang (bubur) yaitu: jenang merah, putih, jenang kaleh, jenang baro-baro (aneka bubur).
  6. Jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam) seperti : pisang raja, jambu, salak, sirih yang diberi uang, gula jawa, kelapa, makanan kecil berupa blingo yang diberi warna merah, kemenyan bunga, air yang ditempatkan pada cupu, jarum dan benang hitam-putih, kaca kecil, kendi yang berisi air, empluk (periuk yang berisi kacang hijau, kedele, kluwak, kemiri, ikan asin, telur ayam dan uang satu sen).
  7. Benang lawe, minyak kelapa dipergunakan untuk lampu blencong
Makna Filosofis

Ruwatan dapat ditafsirkan sebagai sarana pengendali dalam upaya manusia untuk menjaga hubungan selaras dengan Tuhan, dengan lingkungan sosialnya dan dalam lingkup kultural dan pengetahuan yang dimiliki manusia akan berbudi luhur, sehingga dapat mencapai kautamaning ngagesang.

Source Ruwatan Dalam Masyarakat Jawa Ruwatan Dalam Masyarakat Jawa Ruwatan Dalam Masyarakat Jawa

Leave A Reply

Your email address will not be published.