Ruwat Spiritual

0 6

Manusia adalah makhluk berbudaya dan memiliki akal budi, dapat membuat sejarah mengelola masa kini, dan merancang kehidupan yang akan datang. Agar dapat memahami kehidupannya dengan baik sesuai adat istiadat dan warisan budaya dari nenek moyang dan para leluhur yang tentu saja tidak bertentangan dengan akidah agama. Keyakinan akan perluanya ruwatan, masyarakat Jawa muncul secara cultural sebagai akal budi kesadaran jiwa. Betapa pentinya hidup bersih dan mulia secara luas. Selalu mawas diri, menilai dan mengkoreksi perbuatan sehari-hari yang disengaja maupun tidak, atau pengaruh karena lingkungan.

Dengan melakukan intropeksi diri terus-menerus sehingga tercapainya kwalitas diri yang diharapkan mencapai keharmonisan damai sejahtera dan indah sebagai insan hamba Allah. Masyarakat Jawa percaya bukan hanya badan yang dibersihkan tetapi jiwa, akhlak, dan mental perlu disucikan supaya tidak mudah dihancurkan oleh sang waktu, sang kala (bethara kala). Begitu juga sebenarnya badan kita perlu semua dibersihkan dan diperbaharui untuk dapat bertahan menghadapi sang waktu, sang kala (bethara kala). Itulah yang disebut bersih diri meruwat sekaligus buka aura, sinar dari badan memancar. Acara ruwatan bersih diri buka aura bersifat universal yang dilakukan masyarakat Jawa mulai dilakukan sejak dari zaman Hindu-Budha berkembang dengan baik, sebagi adat istiadat bahkan yang diruwat bukan hanya manusia tetapi juga  negara.  Contohnya antara lain: Sesaji RajasuyaMaswameda, ruwat wabah penyakit Sudamala,  ruwat rejeki tanam padi Sri Mulih, pertobatan Pandu Swarga,  Sangkan paraning dumadiSutasoma,Purnawijaya, Kunjara Karna, Arjuna wiwaha, Kidung Sunjayan, Murwakala Pandawa Pitu, Sukasarana dan lain-lain.

Ruwatan bukan hanya kebutuhan cultural secara pribadi tetapi juga secara masal atau kolektif bersama-sama. Disini penting proses ritual ruwatan harus dipahami betul baik oleh pelakunya, penyelenggara, pemimpin upacara atau dalang, apalagi para sukerto/ yang diruwat. Tantangan jelas adalah relefansi ruwatan dengan masakini masa globalisasi ketakutan masyarakat larut dalam moderenisasi segala bentuk tradisi sering ditinggalkan, dikesampingkan, bahkan sama sekali dihilangkan. Dalihnya tak sesuai akal sehat takahyul dan sebagainya. Tetapi, setelah masyarakat haus akan rasa lapar dibidang rohani, masyarakat kembali mencari peganggan sepiritual. Semakin kuat desakan globalisasi semakin kuat juga keinginan untuk mencari peganggan sepiritual agama juga ajaran adat istiadat.

Menurut kitab-kitab kuno ruwat artinya lepas, keluar dan bebas dari segala jenis kotoran jiwa, dosa, karma buruk, dan energy negative agar kehidupan manusia menjadi terlepas dari segala kesulitan dan bencana, serta memperoleh kesejahteraan dan kebahagiyaan. Kedua, ruwat juga merupakan upaya memberi kekuatan / jog energy, jadi bukan saja kesengsaraannya hilang tetapi jiwa manusia diperkuat supaya sanggup menanggung segala beban dan mengatasi kesulitan yang dihadapi. Maka ruwatan disebut juga menyatukan manusia dengan irama sang waktu atauMurwakala. Bila manusia bersatu dengan irama alam meraka akan sanggup menanggun segala beban kehidupan.

 Ruwatan juga disebut menyatukan manusia dengan irama sang waktu /Murwakala sedangkan wayang kulit sendiri bukan sekedar tontonan hiburan semata, tetapi merupakan bungkus budaya sepiritual yang halus, jenius, bijak dan komunikatif, untuk menyampaikan pesan nilai-nilai luhur dan hakekat hidup sejati. Hakekat hidup sejati, yang berisi etika, ajaran moral dikemas sempurna dalam seni musik, seni tari, drama, seni pagelaran, seni sastra,  seni lukis, seni suara, seni pahat, dan seni rupa. Jadi wayang kulit merupakan suatu totalitas performen. Bentuk maupun karakter yang ditampilkan diharapkan mengandung filosofi yang memungkingkan penonton dapat bercermin. Dalam pagelaran wayang kulit ruwatan, muncul kepercayaan adanya energy fisik maupun metafisik yang tak terlihat tetapi bisa dirasakan keberadaannya dialam ini. Pagelaran ruwatan mampu mendisain seni ritual yang religius sehingga tanpa disadari proses pagelaran wayang kulit sendiri merupakan kolaborasi mantra-mantra dalang, suluk, suara gending, alur cerita, sendon-sinden, pada frekuwensi tertentu terjadilah menejemen metafisika, itulah yang disebut mangejowantahnya Sang Hyang Adi luhung.

Orang-orang pengaranaran atau sukerto.

  1. Ontang anting, anak tunggal laki-laki atau perempuan.
  2. Uger-uger lawang, anak dua laki-laki semua.
  3. Sendang kapit pancuran, anak tiga laki-laki, perempuan, laki-laki.
  4. Pancuran kapit sendang, anak tiga perempuan laki-laki perempuan.
  5. Anak bungkus.
  6. Anak kembar, laki-laki atau perempuan sekaligus dua sama jenisnya.
  7. Kembar sepasang, anak dua kembar sepasang.
  8. Gedini-gedono, anaknya dua perempuan , laki-laki.
  9. Gedono-gedini, anak dua laki-laki, perampuan.
  10. Sarimpi, anak empat perempuan semua.
  11. Sarombo, anak empat laki-laki semua.
  12. Pandawa, anak lima laki-laki semua.
  13. Pandawi, anak lima perempuan semua.
  14. Pandawa ipil-ipil, anak lima perempuanya satu.
  15. Pandawi ipil-ipil, anak lima laki-lakinya satu.
  16. Julung wujud, anak yang lahir pada waktu matahari terbenam.
  17. Julung sungsang, anak yang lahir pada waktu bedung siang.
  18. Julung mani, anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari.
  19. Tiba wungker, anak yang lahir lalu meninggal.
  20. Jempina, anak lahir premature.
  21. Tiba sampir, anak lahir kalung usus.
  22. Margono, anak lahir dalam perjalanan.
  23. Wahono, anak lahir dikendaraan.
  24. Slewah, anak lahir yang badanya/ kilitnya dua macam hitam/ putih.
  25. Bule, anak lahir yang kulitnya putih tanpa pixmen.
  26. Kresna, anak lahir kulitnya hitam.
  27. Waliko, anak bajang.
  28. Wungkuk, anak yang lahir bengkok punggunya.
  29. Dengkok, anak lahir punggungnya menonjol.
  30. Wujil, anak cebol.
  31. Jlengkapok, anak lahir dalam candi kala.
  32. Made, anak lahir tanpa alas di lantai/ ditanah.
  33. Orang yang merobohkan dandang , tempat menanak nasi.
  34. Orang yang memecahkan pipisan atau gandik
  35. Orang yang tinggal didalam rumah tanpa tutup keong.
  36. Orang yang membuat dekorasi samir tanpa daun pisang.
  37. Orang yang tidur dikasur tanpa seprei.
  38. Orang yang memiliki lumbung padi tanpa diberi alas dan atap.
  39. Orang hamil berdiri ditengah pintu.
  40. Orang duduk diambang pintu.
  41. Orang yang selalu bertopang dadu.
  42. Orang yang mengadu wadah, dandang diadu dandang.
  43. Orang yang senang membakar rambut.
  44. Orang yang senang membakar tikar dari bamboo.
  45. Orang yang senang membakar tulang.
  46. Orang yang senang menyapu sampah tapi tidak membuangnya.
  47. Orang yang senang menyimpan sampah dikolong tempat tidur.
  48. Orang yang tidur pada waktu matahari terbit.
  49. Orang yang tidur pada waktu matahari tengelam.
  50. Orang tidur diwaktu bedug tengah.
  51. Orang idiot.
  52. Orang kembar siam.
  53. Dalam pertunjukan wayangan ada bayi lahir.
  54. Palguna, bayi lahir pas bunga mekar.
  55. Orang dalam perjalanan jam 12.00 siang tidak mau berhenti.
Source http://sulistiyowatiss.blogspot.com http://sulistiyowatiss.blogspot.com/2014/06/ruwat-spiritual.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.