Ritual Yadnya Kasadha Jawa Timur

0 51

Ritual Yadnya Kasadha Jawa Timur

Ritual Yadnya Kasada adalah sebuah upacara adat umat Hindu suku Tengger yang diselenggarakan setiap tahun pada hari ke empat belas bulan Kasada. Upacara yang selalu berlangsung pada saat bulan purnama ini sudah dilangsungkan sejak abad ke-14. Melalui upacara Yadnya Kasada ini warga setempat disibukkan dengan kegiatan adat untuk mempersiapkan peranti upacara.

Yadnya Kasada bagi masyarakat suku Tengger di Gunung Bromo merupakan sebuah ritual adat yang wajib diselenggarakan setiap tahunnya tanpa ada kompromi. Jadi walaupun Gunung Bromo sedang bererupsi, atau hujan tengah turun derasnya, dan angin badai menerpa, upacara tetap harus dilakukan.Tak ada alasan bagi warga Tengger untuk tidak menyelenggarakan ritual Yadnya Kasada di kawah Gunung Bromo.

Berdasarkan cerita rakyat setempat dan beberapa referensi sejarah yang ada, Yadnya Kasada merupakan sebuah ritual upacara adat untuk memohon keselamatan, kemakmuran, dan tolak bala kepada Sang Hyang Widhi. Ritual ini sudah diselenggarakan sejak berabad-abad silam saat manusia pertama kali mendiami kawasan kaki Gunung Bromo.

Sebuah cerita rakyat menceritakan bahwa pada saat menjelang runtuhnya Kerajaan Majapahit dibawah pimpinan Prabu Brawijaya V pada sekitar abad ke XIV, ada seorang putri bernama Dewi Rara Anteng. Dewi Rara Anteng merupakan putri dari salah satu selir sang Raja Majapahit saat itu, yakni Prabu Brawijaya V. Karena terjadi pergolakan dan kerusuhan di pusat pemerintahan Majapahit di Trowulan, terjadilah eksodus besar-besaran oleh rakyat pada saat itu. Kebanyakan dari mereka menyeberang ke arah timur, seperti ke Kadipaten Blambangan atau sekarang dikenal dengan nama Kabupaten Banyuwangi, Pulau Bali, dan Pulau Lombok.

Namun ada beberapa diantara mereka yang memilih melarikan diri menuju kaki Gunung Bromo, tak jauh dari pusat pemerintahan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur. Mereka adalah Dewi Rara Anteng bersama suaminya Raden Jaka Seger seorang putera Brahmana, para pengawal, dan juga pengikutnya. Setelah berhasil melarikan diri, Dewi Rara Anteng dan Raden Jaka Seger beserta rombongannya kemudian tinggal menetap di kaki gunung tersebut dan membuat sebuah pemukiman. Kemudian mereka memerintah di kawasan Tengger dengan gelar ‘Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger’ atau penguasa Tengger yang budiman. Kawasan Tengger sendiri diambil dari nama belakang penguasanya saat itu, yakni Dewi Rara Anteng (Teng) dan Raden Jaka Seger (Ger).

Seiring berjalannya waktu, Dewi Rara Anteng dan Raden Jaka Seger beserta rakyatnya hidup damai, tentram, dan makmur. Tanah subur kaki pegunungan membuat hasil panen melimpah ruah, akan tetapi setelah bertahun-tahun menikah meraka tak kunjung dikarunia keturunan juga. Oleh sebab itu, Raden Jaka Seger dan Dewi Rara Anteng melakukan semedi atau bertapa di puncak Gunung Bromo (Brahma) tepat di tepi kawah.

Di tengah malam dalam pertapaanya, Dewi Rara Anteng dan Raden Jaka Seger mendapatkan bisikan gaib bahwa wirid atau keinginan mereka untuk mempunyai keturunan akan terkabul dengan satu syarat, yakni anak bungsunya harus dikorbankan di kawah Gunung Bromo. Pasangan suami istri keturunan Majapahit itupun menyanggupinya. Lantas singkat cerita, pasangan tersebut akhirnya dikarunia 25 orang anak, dan sang anak bungsu yang harus dikorbankan tersebut bernama Raden Hadi Kusuma yang tengah tumbuh menjadi seorang pria yang gagah perkasa.

Sebagai orang tua, naluri Dewi Rara Anteng dan Raden Jaka Seger tentu tidak rela apabila anaknya sendiri dikorbankan dengan dilarung ke dalam kawah Gunung Bromo. Karena mereka ingkar janji, Dewa pun murka. Langit di kawasan Tengger seketika berubah menjadi gelap gulita dan Gunung Bromo pun meletus dan mengeluarkan api. Raden Hadi Kusuma seketika lenyap terjilat oleh api dan masuk ke kawah Gunung Bromo. Bersamaan dengan kejadian tersebut kemudian terdengar suara gaib dari Raden Kusuma yang mengatakan bahwa dirinya telah dikorbankan untuk keselamatan warga Tengger dan mengingatkan untuk selalu menyembah Sang Hyang Widhi dan mengadakan sesaji setiap hari ke-14 di bulan Kasada. Semenjak saat itulah ritual Yadnya Kasada ini pertama kali dilakukan oleh warga suku Tengger di Gunung Bromo.

Source https://www.maioloo.com https://www.maioloo.com/seni-budaya/yadnya-kasada/
Comments
Loading...