Ritual Ulur-Ulur Tulungagung

0 208

Ritual Ulur-Ulur Tulungagung

Ratusan warga empat Desa di Kecamatan Campurdarat Tulungagung, menggelar tradisi Ulur-Ulur. Tradisi di pinggir Telaga Buret ini bertujuan agar mata air Telaga Buret terus mengulur atau mengalir tanpa henti. Baik saat musim kemarau atau musim hujan, sehinga para petani bisa menanam padi sepanjang tahun dan terhindar dari bencana alam. Menurut sesepuh setempat, tradisi Ulur-Ulur ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Dari legenda yang berkembang di masyarakat, konon pada masa lampau empat desa mengalami kekeringan yang cukup panjang, sehingga warga tidak bisa bercocok tanam.

Empat desa di Kecamatan Campurdarat Tulungagung yaitu Desa Sawo, Desa Gedangan, Desa Ngentrong dan Desa Gamping. Akibatnya, Dewi Sri dan Joko Sedono sebagai simbol kemakmuran petani pergi meninggalkan daerah itu. Dewi Sri dan Joko Sedono yang dipanggil kembali oleh petani bersedia kembali dengan syarat petani harus membuat bendungan yang kemudian dikenal dengan Telaga Buret. Sejak adanya Telaga Buret, area persawahan di Kecamatan Campurdarat tak lagi pernah mengalami kekeringan.

Menurut Ketua Kasepuhan Sendang Tirto Mulyo .”Tradisi Ulur-Ulur ini sebagai sedekah dan perwujudan rasa syukur warga kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberi kemakmuran khususnya melimpahnya air dari Telaga Burtet. Meski masa kemarau panjang seperti sekarang, hasil pertanian warga melimpah dan tak mengalami gagal panen akibat kekeringan”.

Kegiatan ini diawali dengan arak-arakan warga mengantar temanten kecil yang menggendong padi di bungkus kain putih menuju Telaga Buret, di Desa Ngentrong Kecamatan Campurdarat. Temanten cilik yang mengendong padi ini, menggambarkan perwujudan Dewi Sri dan Joko Sedono, simbol kemakmuran kaum petani. Di belakang arak-arakan temanten cilik, kesenian reog kendang yang dimainkan anak-anak turut memeriahkan kirab ulur-ulur ini. Sesampai dipinggir telaga, sesepuh desa membakar dupa dan mengelar berbagai sesaji.

Sementara para ibu menghias patung Dewi Sri dan Joko Sedono dengan memberi bedak, memasang mahkota dengan hiasan daun kelapa dan kalung ronce bunga melati, sebagai permohonan kepada penguasa alam agar lahan pertanian di desa mereka subur makmur. Karena tradisi ini hanya digelar setahun sekali, tak pelak ritual ini mengundang perhatian warga. Tidak saja warga dari Kecamatan Campurdarat, tapi warga dari daerah lain berbondong-bondong melihat tradisi unik ini.

Ritual ini diakhiri dengan tradisi tabur bunga di Telaga Buret. Mereka percaya permohonan kemakmuran akan dikabulkan oleh penguasa alam melalui mata air dari Telaga Buret yang terus mengairi sawah sepanjang tahun tanpa terputus. Hingga kini, ritual yang telah dilakukan secara turun temurun itu rutin dilaksanakan setiap tahun. Namun sayang, masih saja ada penggrusakan alam seperti penebangan pohon di sekitar telaga dan penangkapan hewan seperti kura-kura dan ikan yang hidup di telaga.

Source Ritual Ulur-Ulur Tulungagung indospiritual.com
Comments
Loading...