Ritual Tolak Hujan, Ritual Orang Jawa Kuno

0 343

Ritual Tolak Hujan

Pawang hujan dianggap lazim dan jasanya diperlukan pada saat akan berlangsungnya upacara hajatan maupun resepsi kenegaraan. Tapi tahukah bagaimana sebenarnya ritual menolak hujan tersebut?

Dalam tradisi adat Jawa, setiap kali masyarakat ingin menggelar suatu hajatan pasti akan diawali dengan berbagai upacara ritual tradisi keselamatan, upacara ini selain sebagai wujud keselamatan bagi yang punya hajat, sekaligus untuk penolak bala. Dari sekian ritual orang Jawa ada satu ritual yang menarik dan hingga saat ini dilakukan masyarakat Jawa yakni upacara tolak hujan. Upacara ritual ini sebenarnya bukan untuk menolak hujan yang sudah menjadi kodrat alam, melainkan menyingkirkan hujan.

Ritual adat ini merupakan tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun sejak ratusan tahun yang silam hingga sekarang kini. Oleh karena itu upacara tolak hujan yang biasa dilakukan oleh pawang hujan menjadi sebuah ritual yang jamak dilakukan di masyarakat Jawa.

Upacara ini tak hanya dilakukan pada saat upacara adat saja, dalam resepsi pernikahan, acara pemerintahan dan upacara resmi kenegaraan sekalipun ritual tolak hujan biasa dilakukan dengan harapan agar seluruh prosesi rangkaian acara berjalan lancar.

Salah satu pawang hujan menjelaskan bahwa, upacara ini sudah dikenal sejak dari jaman kesukuan ada di tanah Jawa, atau jaman sebelum peradaban kerajaan terbentuk. Selain tolak hujan upacara ini juga biasa dilakukan pada saat musim kemarau berkepanjangan, atau yang lebih dikenal dengan upacara pemanggilan hujan.

Dalam Budaya Jawa, upacara tolak hujan bisa dilakukan dengan menggunakan berbagai cara, diantaranya dengan memakai sesaji, doa dan kekuatan spiritual seorang pawang hujan. Namun yang pasti ketiga kekuatan tersebut disatukan hingga memiliki kekuatan ghaib yang di ucapkan sebagai mantera dengan memohon ridho kepada Tuhan agar hujan bisa disingkirkan.

Cara menolak hujan

Perlu diketahui, dalam tradisi Jawa dikenal beberapa cara menolak atau menyingkirkan hujan, salah satunya dengan cara mendirikan sapu lidi di tengah tanah lapang sembari menancapkan berbagai macam bumbu dapur. Beberapa bumbu ini diantaranya adalah bawang merah, lombok, kunyit, jahe dan dlingo bengle.

Selain dengan cara mendirikan sapu lidi di tengah tengah halaman, sesaji komplit juga dilakukan oleh para tokoh spiritual pada saat melakukan upacara ritual tolak hujan. Sesaji ini memiliki kekuatan khusus sebagai perantara atau pendorong doa pada saat mantera di ucapkan. Sesaji yang dipergunakan untuk upacara tolak hujan diantaranya adalah, pisang setangkep, kopi kental, teh manis, gecok bakal, sodo lanang, jajan pasar, ubi ubian, bunga wewangian serta kemenyan madu.

Sesaji ini dipergunakan sebagai salah satu perwujudan rasa syukur kepada Gusti Allah, sekaligus penghaturan selamatan rasa syukur kepada para leluhur agar berkenan membantu menjaga kelancaran upacara resepsi tak terkecuali menyingkirkan hujan.

Penghaturan sesaji kepada para leluhur sudah sejak dari jaman dahulu kala telah dikenal di kalangan masyarakat Jawa, tak hanya dipergunakan pada saat ritual tolak hujan, sesaji sesaji ini juga biasa dilakukan menjelang bulan puasa atau bulan ruwah dalam penanggalan Jawa.

Pisang setangkep dimaknai sebagai satu rangkaian pemersatu menyatukan seluruh cipta rasa karsa manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai satu satunya tempat untuk memohon dan meminta. Oleh sebab itu di dalam rangkaian pisang setangkep akan di beri bunga wewangian sebagai salah satu wujud keinginan yang menyatu dalam doa akan membuahkan hasil yang sempurna ibarat bunga.

Sementara, sesaji teh dan kopi serta gecok bakal menjadi simbol bahwa masyarakat Jawa masih terus peduli dengan para leluhurnya. Hal ini sebagai simbol bahwa para leluhurnya dalam mengarungi lautan kehidupan telah merasakan manis dan pahitnya kehidupan seperti kopi dan teh manis, serta masih ditambah lagi dengan liku liku persoalan hidup yang di ibaratkan seperti rangkaian gecok bakal, yang terdiri dari aneka macam syarat pelengkap perjalanan hidup manusia.

Sedangkan rangkaian sesaji polo pendem diantaranya, ketela, ubi, kacang tanah, umbi umbian di wujudkan sebagai bentuk penghaturan rasa terima kasih kepada ibu pertiwi yang telah menganugerahkan hasil bumi yang terus berlimpah ruah. Sesaji sesaji ini dipersembahkan kembali bagi kehidupan ibu bumi demi kelangsungan kehidupan lain ( ghaib) yang juga ada di atas ibu bumi.

Selain rangkaian sesaji tersebut masih ada sesaji lainya yang terdiri dari berbagai macam buah buahan. Sesaji sesaji ini dipersembahkan kepada ghaib sebagai salah satu wujud kebersamaan manusia dan kehidupan alam lain yang terus hidup berdampingan di alam semesta. Masyarakat Jawa sangat meyakini bahwa selain kehidupan umat manusia Tuhan juga telah menciptakan kehidupan lain yang berdampingan dengan manusia namun dalam wujud yang tidak kasad mata. Oleh sebab itu sesaji buah buahan menjadi simbol kebersamaan bebrayan agung di alam semesta.

Ajian tolak hujan pada dasarnya melakukan permohonan kepada Sang Hyang Batara Indra, di kalangan masyarakat jawa kuno sebelum masuknya agama di tanah Jawa, masyarakat Jawa telah mengenal penguasa alam yang menjadi manifestasi dari ke Esaan Sang Hyang Tunggal.

Sang Hyang Batara Indra menguasai angkasa raya sedangkan Sang Hyang Hananta Boga menguasai bumi pertiwi, dan Batara Surya yang menguasai matahari sebagai sumber kehidupan bagi umat manusia.

Ilmu tolak hujan ini merupakan ilmu kuno yang mengacu pada kitab kitab kuno yang tertulis pada daun lontar. Diperlukan laku yang tekun untuk bisa memiliki ilmu tolak hujan ini, dengan melakukan puasa mutih selama tiga hari tiga malam ditambah lagi dengan melakukan ngebleng puasa dan harus tidur di atas pohon, seseorang bisa memiliki ilmu kesaktian ini. Di masyarakat era modern, tetap mempercayai bahkan menggunakan ilmu kono ini ketika sebuah acara berlangsung.

 

Source Ritual Ilmu Kuno Jawa
Comments
Loading...