Ritual Satu Suro Di Gunung Kawi Malang

0 84

Ritual Satu Suro Di Gunung Kawi Malang

Perayaan malam tahun baru Islam atau 1 Muharram jatuh pada tanggal 11 September 2018 mendatang. Di Jawa, tanggal 1 Muharram bertepatan dengan hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura atau Suro. Malam 1 Suro biasanya diperingati sehabis Magrib pada tanggal 10 September 2018 mendatang. Dalam tradisi Jawa, malam 1 Suro dianggap keramat sehingga sering diadakan berbagai perayaan tradisional. Meskipun dianggap keramat, tetapi tidak jarang orang penasaran dengan perayaan yang diselenggarakan.

Keberadaan Pesarean Gunung Kawi sebagai objek wisata religi di Kabupaten Malang memang bukan hal baru. Begitu banyak kisah mistis dan hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan atau kekuatan supranatural di tempat ini. Tak hanya itu, ada pula ritual-ritual yang masih dipegang teguh masyarakat untuk memohon hal tertentu di waktu tertentu pula, salah satunya adalah ritual satu suro.

Pesarean Gunung Kawi yang menjadi tempat berlangsungnya ritual tersebut. Objek wisata religi ini  terletak di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, tepatnya berada di lereng selatan Gunung Kawi. Jarak dari Kota Malang sekitar 38 kilometer, bisa ditempuh antara 1 – 1,5 jam perjalanan menggunakan kendaraan.

Pesarean Gunung Kawi berada di lingkungan pemukiman padat penduduk, layaknya perkampungan di atas bukit yang ramai. Di daerah ini terdapat satu adat istiadat yang masih dijalankan sampai sekarang, mereka menyebutnya dengan ritual satu suro.

Warga Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, melakukan kirab sesaji mengelilingi desa di kawasan Gunung Kawi. Mereka yang terlibat ritual harus mengenakan pakaian tradisional Jawa. Setelah berkeliling desa, sesaji dan gunungan akan dibawa ke makam Eyang Junggo dan Iman Soedjono.

Setelah dibacakan doa-doa, gunungan itu akan diperebutkan oleh warga yang menyaksikan. Puncak perayaan 1 Suro di Gunung Kawi berupa pembakaran sangkala, yakni patung raksasa yang melambangkan sifat jahat. Dengan ritual ini, masyarakat diharapkan dapat dijauhkan dari sifat jahat, tamak, serta terhindar dari malapetaka.

Hal yang menarik dari adanya kirab satu suroan ini adalah adanya akulturasi budaya. Kirab tersebut menyajikan aneka tarian tradisional, pakaian adat, barongsai, hadrah, dan tontonan menarik lainnya. Seperti yang kita tahu, barongsai adalah salah satu produk budaya masyarakat Tionghoa, dan hadrah lekat kaitannya dengan hal-hal berbau Islami.

Tak hanya itu, penamaan ritual itu sendiri pun kurang lebih diambil dari perhitungan kalender Jawa. Jadi, setidaknya kita dapat melihat adanya tiga budaya yang berakulturasi di sini. Sebagaimana ritual pada umumnya, setiap ritual selalu memiliki tujuan.

Ritual Satu Suro ditujukan untuk menyampaikan rasa syukur warga setempat kepada Sang Pencipta alam semesta. Namun, masyarakat belum menemukan rasa syukur terhadap apa sehingga mereka melakukan ritual tersebut. Puncak ritual ini terletak pada iring-iringan pembawa replika patung buto atau yang lebih dikenal dengan sebutan ogoh-ogoh.

Replika patung buto yang cukup besar tersebut pada akhirnya nanti akan dibakar dan disaksikan oleh banyak orang. Pembakaran replika patung buto ini dilakukan sebagai simbol pembakaran nafsu angkara murka yang ada pada sosok manusia.

Source https://ngalam.co/ https://ngalam.co/2017/05/05/ritual-satu-suro-tradisi-yang-masih-melekat-di-masyarakat-gunung-kawi/ https://www.msn.com/id-id/travel/culture/5-tradisi-perayaan-malam-satu-suro-1-muharram-1440-hijriah-di-jawa/ar-BBMJWr9
Comments
Loading...