Ritual Ontang-Anting, Identitas Orang Jawa

0 80

Ritual Ontang-Anting, Identitas Orang Jawa

Jawa seolah tak pernah lepas dari kepercayaan yang berbau metafisika. Seperti halnya ritual ontang-anting yang pelaksanaannya dipengaruhi oleh mitos-mitos. Ritual Ontang-anting merupakan ritual yang dilaksanakan untuk meruwat anak semata wayang.

Ritual ini biasannya dilakukan untuk anak laki-laki semata wayang, sedangkan untuk anak perempuan disebut unting-unting. Namun sebagian orang Jawa menyamakan istilah ontang-anting untuk anak laki-laki dan perempuan.

Ritual ini sangat erat dengan kepercayaan masyarakat Jawa. Mereka mempercayai bahwa ritual ontang-anting mampu membebaskan seorang anak dari ancaman bathara kala, digambarkan sebagai sesosok raksasa yang mengerikan dan berwajah seram.

Sebab menurut mitos di Jawa, bathara kala menyukai anak-anak yang memiliki jumlah hitungan tertentu dalam keluarga.

Dalam mitologi Jawa terdapat beberapa anak yang menurut perhitungan Jawa, lahir dalam keadaan sukerta alias bernasib buruk. Di sisi lain anak yang lahir dalam keadaan sukerta dianggap berpotensi ingkar pada sang Tuhan.

Anak semacam ini harus diruwat untuk mensucikan diri. Ritual ini penting dilakukan karena dipercaya mampu menghilangkan kesialan atau sarana tolak bala. Kesialan yang dimaksud bisa berupa musibah, kecelakaan, sakit dan gangguan dari bathara kala.

Ritual ini harus dilakukan sebelum pernikahan sang anak kelak. Namun biasannya dilakukan saat seorang anak mulai menginjak dewasa atau baligh. Mengenai waktu pelaksanaan sebenarnya tidak ada waktu khusus.

Hanya saja biasannya dilaksanakan pada weton sang anak. Terkadang orang yang ingin melakukan ritual ini juga mendatangi sesepuh untuk memastikan mendapatkan hari baik.

Pelaksanaannya tidak dipertegas harus dilakukan siang atau malam hari. Namun sering dijumpai dilakukan malam hari setelah isya.

Siang harinnya diggunakan secara penuh untuk mempersiapkan segala kebutuhan dan hidangan. Dalam mengelar ritual ontang-anting ada beberapa yang harus disiapkan.

Seperti kain dengan tujuh warna, bunga tujuh rupa (kembang setaman), dan beras kuning menjadi barang wajib (sandingan) yang harus ada saat prosesi ontang-anting.

Makanan yang disediakan adalah sego sak tempeh sebutan untuk nasi yang dimasukkan dalam tempeh ( semacam wadah makanan yang terbuat dari anyaman bambu). Makanan dalam tempeh ini terdiri dari nasi kuning, 5 ayam ingkun, dan boleh ditambahkan dengan makanan lain.

Makanan ini nantinya akan dihidangkan saat malam hari pada prosesi kenduren. Di samping itu ada hidangan yang harus disertakan seperti jenang menir, jenang abang, jenang sengkolo, jenang ombak, ketan towo, dan gedhang setangkep. Setiap makanan yang dihidangan memiliki makna sendiri-sendiri.

Pada malam ritual ontang-anting dilakukan dengan menggelar pagelaran wayang. Dimulai pengantar ruwatan, setelah itu sang anak didudukkan dikursi lalu sang sesepuh membacakan doa dan mantra-mantra dalam ritual Jawa.

Ritual dilaksanakan serta disaksikan keluarga dan tetangga. Selanjutnya sang anak didampingi anggota keluarga, dipotong sebagian rambutnya, kemudian dimandikan air kembang tujuh rupa yang diyakini mampu menyingkirkan roh-roh jahat dan kesialan bagi anak tersebut.

Saat prosesi ritual selesai baju yang digunakan sang anak diharuskan dilarung di sungai. Hal ini dianggap sebagai bentuk pembuangan keburukan. Rangkaian acara terakhir ritual ini adalah makan bersama. Ini merupakan inti dari shadaqah ruwatan.

Shadaqah dipercaya dapat menjaga dari gangguan makhluk halus. Tamu undangan akan melingkar dan menyantap sego sak tempeh dan hidangan lainnya. Biasannya mereka tidak menghabiskan seluruhnya akan tetapi disisakan untuk dibawa pulang.

Seiring perkembangan zaman, ritual ontang-anting mulai mengalami pergeseran, pelaksanaannya dipengaruhi budaya Islam. Seperti mantra-mantara yang diganti dengan doa-doa Islam dan pembacaan manaqib. Akan tetapi simbol dan ketentuannya masih mengikuti ritual adat Jawa.

Ontang-anting merupakan ritual yang berkaitan erat dengan mitos-mitos Jawa dan kepercayaan gaib terhadap ganguan bathara kala. Keberadaan mitos memang sangat erat hubungannya dengan ritual.

Mitos diklaim muncul untuk menjelaskan ritual. Klaim ini dicetuskan oleh William Robertson Smith. Menurutnnya orang-orang mulai melaksanakan suatu ritual untuk alasan tertentu yang berhubungan dengan mitos (Ummu Fatimah, 2014 : 22).

Terlepas dari benar tidaknya kepercayaan tentang bathara kala yang menganggu manusia, sebuah ritual memang harus tetap dilestarikan karena hal ini terkait dengan identitas budaya manusia.

Kembali lagi tradisi merupakan sarana menegaskan nilai-nilai yang ada di masyarakat yang terwujud dalam simbol-simbol ritual. Sebagaimana Victor Turner melihat ritual sebagai simbol dari apa yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat yang mendefinisikan dirinnya sebagai makhluk sosial (Turner, 1974).

Source www.timurjawa.co http://www.timurjawa.com/2018/12/23/ritual-ontang-anting-identitas-orang-jawa/
Comments
Loading...