Ritual Mapag Cai

0 159

Ritual Mapag Cai

Mapag dalam kosa kata sunda berarti menjemput dan Cai berarti air (menjemput air) adalah sebuah tradisi agraris yang masih ada di Karawang, dimana tatakelola air diatur berdasarkan keikutsertaan semua masyarakat (partisipatoris), bagaimana air didistribusikan secara adil dengan penjadwalan pergiliran air sesuai dengan musim tanam dan penggolongan air. Biasanya peristiwa ini dilakukan ketika musim tanam tiba, dimana pada musim tanam, kebutuhan air untuk  pertumbuhan tanaman padi sangat diperlukan. Begitu pentingnya air untuk pertumbuhan tanaman padi, menjadikan konflik-konflik perebutan air antar petani masih sering terjadi, tidak sedikit yang menjadi korban atas perebutan air ini.

Tradisi mapag cai sendiri sebenarnya sudah lama dilakukan ditatar sunda Karawang dengan basis pertanian yang begitu luas, tradisi ini bisa dilihat dengan ditemukannya Candi Jiwa & Blandongan yang ditengarai keberadaannya sejak abad 2 M di tengah hamparan persawahan, di areal kawasan percandian ditemukan beberapa sumber mata air (sumur) yang diyakini sumber mata air tersebut adalah sebagai pusat pengambilan prosesi ritual air Mapag Cai, dimana air adalah lambang keberkahan, kesuburuan dan kemakmuran, sehingga air harus diperlakukan dengan arif. Pemberian sesajenan seperti jajanan pasar, kembang dan ayam panggang yang ditaruh di dekat sumber air sebenarnya adalah upaya-upaya pelestarian sumber air dari pengrusakan yang masih kental dalam tradisi agraris.

Dalam kekinian, Proses upacara ritual Mapag Cai sendiri dilakukan dengan pembukaan pintu air utama dengan dilakukan secara adat sunda Karawang, Bupati sebagai sesepuh dan wakil pemerintah melakukan opening dengan pembukaan pintu air sebagai tanda prosesi Mapag Caidilakukan dan dimulainnya musim tanam.

Menurut pengakuan salah satu petani di Desa Teluk Jaya, Kecamatan Pakis Jaya, Bapak Adang, dengan adanya upaya menghidupkan kembali tradisi Mapag Cai ini, cukup dirasakan manfaatnya. Sawah miliknya yang Cuma 0,25 h yang tadinya sulit kebagian air ketika musim tanam tiba, apalagi posisi persawahan di kecamatan pakis jaya adalah paling hilir, artinya air sampai areal persawahannya dalam kondisi yang sangat terbatas karena sudah banyak di bagi-bagi di daerah hulu, dengan adanya Mapag Cai ini air sampai ke areal persawahannya tidak lagi sekecil sebelumnya, walaupun harapannya air sampai di areal persawahannya lebih dari cukup, untuk itu Bapak Adang berharap tradisi yang hampir punah ini harus terus dilestarikan.

Source https://budaya-indonesia.org/Mapag-Cai/ https://budaya-indonesia.org/Mapag-Cai/
Comments
Loading...