Ritual Mai Song

0 48

Ritual Mai Song

Masyarakat Tionghoa pertama masuk ke Indonesia disebabkan oleh faktor-faktor antara lain faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal tersebut seperti keadaan di Tionghoa pada saat itu sangat tidak baik. Tionghoa merupakan daerah yang miskin sehingga banyak terjadi tindak kriminal, selain itu sering terjadi bencana kelaparan dan bencana alam. Hal ini didukung oleh pemerintah Tionghoa yang mengizinkan rakyatnya untuk bermigrasi. Keinginan mereka untuk bermigrasi juga didorong oleh transportasi di Tionghoa yang semakin lancar, contoh: kapal uap. Sedangkan faktor eksternalnya seperti ketertarikan masyarakat Tionghoa akan Indonesia karena kekayaan alamnya dan letak strategisnya sehingga memberi peluang cerah sehingga menarik orang-orang Tionghoa untuk datang dan membuka usaha di Nusantara.

Saat masyarakat Tionghoa masuk ke Indonesia, secara tidak langsung membawa tradisi-tradisi yang sering mereka lakukan. Antara lain tradisi kelahiran, hari-hari besar, perkawinan serta kematian dan banyak tradisi lainnya. Kelompok kami akan membahas salah satu tradisi yang dibawa oleh masyarakat Tionghoa yang juga sudah diterapkan oleh keturunan Tionghoa yang ada di Indonesia yaitu tradisi kematian atau dikenal sebagai Mai Song.

Mai Song adalah salah satu tradisi orang Tionghoa yang berhubungan dengan kematian orang Tionghoa, dimana dalam budaya tersebut terdapat banyak sekali keunikan. Keunikan-keunikan tersebut dimulai dari tradisi-tradisi dalam melakukannya maupun kisah dari tradisi ini bagaimana tradisi ini dapat bertahan dan masih berlangsung sampai saat ini. Secara singkat, tradisi Mai Song merupakan sebuah kepercayaan dimana orang yang kaya saat di dunia akan kaya di kehidupan yang kekal saat kelak di surga melainkan orang miskin di dunia akan tetap miskin di surga.

Dalam kepercayaan Mai Song, anak dan cucu dari leluhur yang meninggal akan memberikan persembahan dengan cara membakar uang-uangan ataupun rumah-rumahan dan kebutuhan lain dalam bentuk miniature sehingga di surga dapat menjadi kebutuhan berwujud nyata dan bisa berguna bagi arwah mereka, sedangkan orang miskin biasanya tidak dapat membeli miniature tersebut sehingga arwah mereka akan tetap miskin. Selain itu, pewarisan Mai Song hingga saat ini tidak semudah yang kami bayangkan, banyak permasalahan yang timbul mulai dari masa Orde Baru dan timbulnya perbedaan kepercayaan.

Pada zaman sekarang ini, Mai Song yang merupakan tradisi suku Tionghoa sudah menjadi sedikit asing bagi masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa. Mai Song merupakan tradisi kematian yang unik dengan berbagai kepercayaan di dalam rangkaian kegiatannya yang berasal dari Tiongkok dan sudah lama berlangsung atau menjadi tradisi bagi orang-orang yang termasuk dalam etnis Tionghoa maupun tidak.

Seperti yang kita ketahui bahwa pada masa Orde Baru semua hal yang berhubungan dengan “Cina” dihantam. Pemerintah pun berusaha mengasimiliasikan orang – orang etnis Tionghoa itu dan melakukan berbagai cara untuk memutuskan hubungan mereka dengan leluhur mereka, proses asimilasi ini terlihat dalam :

  1. Aturan penggantian nama Tionghoa menjadi nama Indonesia
  2. Melarang segala bentuk penerbitan dengan Bahasa serta aksara Tionghoa
  3. Memberikan batasan pada kegiatan upacara tradisi ( hanya boleh dalam keluarga )
  4. Tidak mengizinkan pagelaran dalam perayaan hari raya tradisional Tionghoa di muka umum.
  5. Melarang sekolah – sekolah Tionghoa dan menganjurkan anak – anak Tionghoa masuk ke sekolah umum atau swasta. *
Source https://budaya-indonesia.org/Mai-Song/ https://budaya-indonesia.org/Mai-Song/
Comments
Loading...