Retno Marpinjun Paguyuban Kesenian

0 17

Retno Marpinjun  merupakan sebuah tari menak klasik gaya Yogyakarta yang ide ceritanya diambil dari serat menak Kandhabumi tulisan Yasadipura yang didalamnya menceritakan tentang seorang putri dari kerajaan Mendayin dengan Raja Nursewan bernama Retno Marpinjun. Retno Marpinjun dilamar oleh Tyang  Agung Jayengrana dari kerajaan Koparman, tapi ternyata hal itu juga dilakukan oleh Prabu Banakamsi dari kerajaan Purwokondo. Tyang agung Jayengrana mengutus Harya Maktal seorang senopati panglima yang termasyur untuk membawa Retno Marpinjun, sehingga Harya Maktal harus berhadapan dengan Prabu Banakamsi. Dalam peperangan tersebut Prabu Banakamsi dapat dikalahkan oleh Harya Maktal dan bahka ajal menjemputnya, sehingga Retno Marpinjun dapat dibawa ke kerajaan Koparman.

Tapi dalam perjalanan ke kerajaan Koparman, ada seorang raksasa Barduwas menculik Retno Marpinjun untuk diperistri dan dibawa ke kerajaannya. Sebenarnya raksasa Barduwas ini dendamnya sama Tyang agung Jayengrana, karena ayah dari raksasa Barduwas mati ditangan Tyang Agung Jayenrana. Pertempuran keduanyapun tidak dapat dihindari, tapi pada akhirnya raksasa Barduwas mati ditangan Tyang Agung Jayengrana. Tarian ini ditarikan di Pendopo Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta, Jl. Parangtritis No 364 Panggungharjo.

Paguyuban Seni Suryo Kencono  berdiri pada tanggal 29 Juni 1979  di Ndalem Suryowijayan. Dalam usahanya mengenalkan dan mengembangkan tari klasik, Suryo Kencono  selalu mencari inovasi-inovasi baru supaya tari klasik bisa diterima dan dikenal oleh masyarakat luas sesuai dengan perkembangan jaman. Suryo Kencono  mengambil kebijakan bahwa sanggit atauinterpretasi cerita bisa diserahkan pada pelaku seni, hanya saja tetap harus pada koridor-koridor yang ada. Itulah yg mendasari atau alasan Suryo Kencono didirikan. Pagelaran Wayang Menak 2018 diadakan oleh Dinas kebudayaan Daerah, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta yang diadakan selama 3 hari mulai tanggal 6 sampai 8 Mei 2018. Pagelaran ini diikuti oleh 6 Sanggar Tari klasik Gaya Yogyakarta yang sudah melegenda di Yogyakarta, antara lain Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram, Yayasan Siswa Among Beksa, Perkumpulan Tari Kridha Beksa Wirama, Yayasan Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa, Paguyuban Kesenian Suryo Kencono dan Irama Tjitra.

Beksan menak merupakan salah satu tari menak klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dimana ide tarian ini didapat beliau ketika melihat pertunjukan wayang golek menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari daerah Kedu pada tahun 1941. Dari sinilah maka beliau dibantu oleh seniman-seniman tari dan karawitan Kraton Yogyakarta menciptakan tarian ini dan beliau terjun secara langsung dalam penciptaan tarian menak ini.

Ragam gerak dalam wayang menak pada dasarnya belum ada pembakuan gerak yang jelas, hanya saja meminjam istilah dari ragam gerak tari klasik gaya Yogyakarta dalam wayang purwo, seperti impur, kinantang, bapang, tambeng dan sebagainya. Dimana disini tiap sanggar- sanggar yang tampil dalam pada pagelaran wayang menak 2018 disini punya kekayaan gerak sendiri-sendiri terhadap ragamnya. Walaupun pada jaman HB IX telah dicoba dibakukan, tapi sebelum ragam gerak ini jadi, beliau sudah wafat. Pemerintah DIY pada pagelaran ini ingin adanya pembakuan gerak wayang golek menak ini, tapi setelah sampai pada sanggar-sanggar, ternyata mereka menginterpretasikan sendiri-sendiri ragam gerak wayang menak ini.

Sanggar-sanggar ini mempunyai basik tari klasik gaya Yogyakarta dan wayang wong yang sangat kuat, sehingga struktur kontruksinya meminjam dari tari klasik wayang orang sebagai dasarnya. Busananya pun sama, dulu dimasa HB IX menciptakan tari golek menak ini,  waktu itu desain kastumnya belum punya, sehingga beliau meminjam dari kastum langendrian yang sudah ada, seperti puthut. Busana yang dipakai dalam pagelaran wayang menak kali ini banyak diilhami dari wayang golek menak. Biasanya pembakuan semuanya ini berasal dari kraton/istana. Tapi ternyata sampai sekarang ini belum ada pembakuan untuk busana wayang golek menak. Apapun yang terjadi, sanggar-sanggar ini selalu berkiblat terhadap pembakuan dari Kraton/istana.

Riasnya pun juga sama, tapi lebih cenderung terinspirasi terhadap riasan wayang orang, seperti umarmoyo itu bapang, riasannya hampir sama dengan prodo tapi ada make up realistis dimana kumisnya memakai kumis realistis. Sangat diyakini riasan-riasan dulu yang pernah dilakukan empu-empu yang membantu HB IX ini, dulunya mencari di luar riasan-riasan dari wayang orang, bukan hanya itu saja, kastumnya juga sama, seperti batiknya sama pakai sapit urang tapi dalam wayang menak memakai cepoan kampuan serta baju lengan panjang. Hal ini juga dilakukan dengan gendhingnya, yang juga sama tidak sama dengan wayang orang, seperti memakai gendhing hoyag-hoyag, playon dan sangupati, yang semua ini dibuat berbeda  dan tidak jamak dipakai pada wayang orang.

Dalam wayang menak Retno Marpinjun dibuat special, karena kali ini dibuat dengan dimensi yang berbeda. Tidak hanya adegan perang saja, karena hidup ini banyak dimensi yang mau disuguhkan dalam pagelaran ini, seperti humor, melankolis, manusiawi, gotong royong, toleransi dan saling berbagi. Walaupun bisa dikatakan, dalam kesenian Jawa itu dasar ceritanya berupa harta, tahta dan wanita, maka perlu dilihat dalam dimensi lain yang sangat susah untuk mempresentasikan keadaan sekarang ini seperti hoax, multi culture, emansipasi karena kebudayaan benar-benar kebudayaan laki-laki dimana pada wayang orang domainnya itu domain laki-laki, orang dewasa, sehinga domain anak-anak hampir tidak ada. Maka dalam tari menak Retno Marpinjun ini menyuguhkan domain anak-anak dan wanita dan kedua domain ini dibuat hebat. Perubahan-perubahan dalam seni tradisi dalam menghadapi era globalisasi dan digitalisasi harus disikapi sebijaksana mungkin dan harus diikuti.

Source https://myimage.id https://myimage.id/retno-marpinjun/

Leave A Reply

Your email address will not be published.