Reog Cemandi, Kesenian Dari Sidoarjo

0 255

Sejarah

Pada tahun 1917 Abdul Katimin yang merupakan santri di pesantren Tegalsari, Ponorogo telah selesai dari kegiatan pesantren melakukan perjalanan pulang ke Sidoarjo dengan berjalan kaki, ketika di Pagerwojo Abdul Katimin bertemu dengan para petani muda yang sedang menabuh kendang yang mengerjakan pertanian cengkih untuk melaksanan shalat ashar berjamaah, tetapi para pemuda tersebut kurang begitu paham melakukan shalat.

Abdul katimin kemudian mengajarkan agama Islam lebih dalam kepada para pemuda tersebut yang ternyata pernah menjadi gemblak seorang warok di Ponorogo, setelah beberapa bulan di Pagerwojo Abdul Katimin berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke sidoarjo, tetapi para pemuda tersebut berkeinginan mengikuti dan menemani Abdul Katimin.

Setelah sampai di Cemandi pada tahun 1918, Abdul Katimin dan para pemuda membuka lahan dan membangun surau untuk beribadah, tetapi para pemuda yang merupakan mantan gemblak tidak meninggalkan kebiasannya menabuh kendang serta menari-nari yang kemudian oleh Abdul Katimin di gunakan sebagai dakwah islam yang dilakukan didalam surau, cara menabuh kendang dirubah menjadi seperti menabuh rebana sehingga banyak warga yang tertarik masuk kedalam surau untuk shalat berjamaah.

Tokoh

Reog Cemandi terdiri dari dua tokoh topeng barongan yakni

1. Barongan Lanang, Topeng ini terbuat dari kayu nangka dengan paras pria yang menyeramkan berwarna merah dan berkumis. barongan lanang berpakaian serba hitam seperti penadon ponorogo, kaos lorek atau polos merah dengan membawa pedang.

2. Barongan Wadon,Topeng ini terbuat dari kayu nangka dengan paras perempuan yang cantik berwarna putih. barongan wadon berpakaian kebaya, batik dengan membawa selendang.

Barongan dari reog Cemandi memiliki kekerabatan dengan Ondel – Ondel di jakarta, mengingat tokoh topeng ini dibuat oleh abdul katimin ketika teringat topeng di tegalsari, Ponorogo. yang merupakan sepasang gmahluk raksasa yang dikutuk singo barong, hanya saja penyajian dalam reog cemandi tidak seperti ondel – ondel dengan kerangka besar, yakni hanya topeng yang langsung digunakan oleh manusia.

Pemusik

Reog Cemandi terdiri dari beberapa pemain 6 hingga 7 kendang yang ditutup kulit hanya satu sisi saja, kendang ini terbuat dari kayu nangka dengan ditutup kulit kambing satu sisi aja pada permukaan atas. pemain kendang menggunakan pakaian serba hitam yang dipadu kain warna cerah.

kendang pada reog Cemandi ini memiliki kekerabatan dengan reog kendang di tulungagung, mengingat Abdul katimin ketika perjalanan ke sidoarjo bertemu dengan para mantan gemblak di Tulungagung hingga mengikutinya dan mebuka lahan.

Source https://dekesda.wordpress.com https://dekesda.wordpress.com/2011/02/10/jenis-kesenian-di-sidoarjo/
Comments
Loading...