“Rengkong” Kesenian Cianjur Yang Lahir Dari Budaya Agraris

0 95
Sejarah
Asal-usul kesenian ini bermula dari pemindahan padi huma (ladang) ke saung (lumbung padi). Masyarakat Jawa Barat pada umumnya, termasuk masyarakat Warungkondang (Cianjur), di masa lalu sebelum mengenal bercocok tanam padi di sawah (sistem irigarasi), pada umumnya adalah sebagai peladang (ngahuma) yang berpindah-pindah. Padi ladang yang telah dituai tentunya tidak dibiarkan di ladang, tetapi mesti dibawa pulang. Mengingat bahwa jarak antara areal ladang dan pemukiman (rumah peladang) relatif jauh, maka diperlukan suatu alat untuk membawanya, yaitu pikulan yang terbuat dari bambu. Mereka menyebutnya sebagai “awi gombong”. Pikulan yang diberi beban padi kurang lebih 25 kilogram yang diikat dengan injuk kawung (tali ijuk) ini jika dibawa akan menimbulkan suara atau bunyi yang dihasilkan dari gesekan antara tali ijuk dan batang pikulan itu sendiri. Bunyi yang dihasilkan menyerupai suara burung rangkong (sejenis angsa). Oleh karena itu, ketika bunyi yang dihasilkan dari gesekan antara tali ijuk dan pikulan dikembangkan menjadi sebuah jenis kesenian disebut “rengkong”.
 
Konon, kesenian rengkong ini dikenal oleh masyarakat Warungkondang, khususnya masyarakat Kampung Sukaratu, Desa Cisarandi, sejak akhir abad ke-19. Adupan orang memperkenalkan dan atau mengembangkannya adalah Said (almarhum). Di kampung lain (Sukaratu) dikembangkan oleh seorang pengusaha genteng (1920–1967). Jadi, beban yang semula berupa padi diganti dengan genteng. Sedangkan, di Kampung Kandangsapi dikembangkan oleh Sopian sejak tahun 1967.
 
 
Pementasan

Kesenian Rengkong yang ada di Warungkondang ini biasanya hanya dipentaskan dalam rangka memeriahkan hari-hari besar agama dan atau nasional (17 Agustusan) dalam bentuk arak-arakan. Dalam sebuah pementasan biasanya pemain rengkong yang berjumlah 5 orang berada di barisan depan. Kemudian, diikuti oleh para pemain Angklung Buncis dan para Pemain Dodog. Namun demikian, adakalanya pementasan dikemas secara kolektif. Artinya, para pemain boleh bergerak kemana saja (bercampur jadi satu). Jumlah pemain rengkong secara keseluruhan ada 14 orang dengan rincian, 2 orang sebagai pembawa rengkong besar, 3 orang sebagai pembawa Rengkong kecil, 4 orang sebagai pemain Dodog, (dodog: tingrit, tongsong, brung-brung, dan gedeblag) dan Pemain Angklung Buncis yang terdiri atas 5 orang. Sedangkan, busana atau pakaian yang dikenakan adalah pakaian tradisional yang berupa, kampret atau pangsi, ikat kepala, dan sarung.

Secara umum semua bahan pembuat Rengkong berasal dari alam, antara lain bambu yang memiliki diameter besar, umbul-umbul yang terbuat dari daun pisang yang sudah mengering, tali injuk, dan kumpulan padi yang beratnya lebih dari 5 kg. Pemain Rengkong biasanya adalah laki-laki dewasa, mereka berjumlah 5-6 orang dengan mengenakan pakaian adat tradisional Kasepuhan Sunda yang dikenal dengan baju kampret. Dilengkapi celana pangsi hitam dan pada bagian kepala dihiasi dengan iket atau totopong, yaitu tutup kepala tradisional Sunda.

Meski dahulu banyak dijumpai dalam berbagai perhelatan tradisi, kini kesenian tradisional Rengkong jarang ditemukan. Selain tidak adanya regenerasi, mengingat hanya orang-orang tua saja yang mau memainkannya. Kesenian ini juga hanya dipentaskan setahun sekali dalam tradisi Seren Taun yang diadakan setiap menyambut panen raya tiba.

Source "Rengkong" Kesenian Cianjur Yang Lahir Dari Budaya Agraris "Rengkong" Kesenian Cianjur Yang Lahir Dari Budaya Agraris "Rengkong" Kesenian Cianjur Yang Lahir Dari Budaya Agraris

Leave A Reply

Your email address will not be published.