Rebut Dandang, Tradisi Pesta Pernikahan Betawi Pinggir

0 122

Rebut Dandang, Tradisi Pesta Pernikahan Betawi Pinggir

MASYARAKAT Betawi pinggir dari Bekasi hingga Depok pada masa lalu sangat akrab dengan tradisi Rebut Dandang saat melangsungkan pesta pernikahan. Hasil akulturasi dari ‘Adu Jaten Parebut Se’eng’ yang merupakan budaya Sunda tersebut mengalami beberapa polesan yang tidak seragam tergantung kebiasaan yang berlaku di wilayah masing-masing.

Pada Adu Jaten Parebut Se’eng, dua jawara yang memperebutkan dandang biasanya melakukan adu tulang kaki (tulang bagian depan kaki di bawah lutut yang biasa disebut tulang kering). Sedangkan di Rebut Dandang, perebutan dandang lebih diramaikan dengan unjuk kebolehan bertarung para jawara yang mewakili kedua mempelai. Sebagai seni tradisi hasil adopsi, Rebut Dandang banyak menggunakan pantun seperti laiknya tradisi Palang Pintu, tetapi tentu saja bahasa yang digunakan adalah subdialek Betawi pinggir yang dikenal dengan istilah Betawi Ora.

Musik pengiring pun untuk saat ini banyak ragamnya. Di depok, misalnya, ada yang menggunakan Tanjidor atau Gambang Kromong. Di Bekasi ada yang menggunakan Gendang Pencak, Hadroh, bahkan Rebana Ketimpring sebagai musik pengiringnya. Di kawasan Depok dan sekitarnya, jawara pihak mempelai pria merebut dandang yang diikat selendang dan disematkan pada punggung jawara mempelai wanita. Sementara di Bekasi justru jawara pihak mempelai wanita yang harus merebut dandang di punggung jawara mempelai pria.

Tetapi ada pula jawara yang meletakan dandang di tengah arena untuk direbut oleh lawannya. Tentu, proses merebutnya harus melalui adu jurus dan pukulan kedua belah pihak. Pada awalnya, di luar kue, buah-buahan, sayur mayur dan berbagai cinderamata lainnya, mempelai pria di daerah Bekasi harus menyertakan ikan gabus dan ikan lele yang masih hidup sebagai pelengkap hantaran. Kedua jenis ikan tersebut ditempatkan pada wadah yang terbuat dari anyaman daun kelapa.

Di samping sebagai simbol membawa lauk pauk, ikan gabus yang dikenal hanya makan makanan bersih (serangga, ikan kecil, udang dll) adalah gambaran sebuah harapan bahwa kelak kedua mempelai pun hanya memakan makanan yang bersih dan halal. Sementara ikan lele yang terkenal mampu hidup dan beradaptasi dengan kondisi air sekeruh apa pun, juga memberi harapan pada pasangan agar kuat melawan cobaan dan mampu beradaptasi dengan keluarga barunya. Wadah terbuat dari anyaman daun kelapa pun memiliki makna bahwa hidup haruslah bermanfaat bagi orang banyak, seperti layaknya pohon kelapa yang bermanfaat dari kayu buah hingga daunnya.

Di Bekasi, dandang yang bakal diperebutkan oleh jawara diisi dengan beras, hal ini perlambang bahwa suami mampu mencukupi kebutuhan pangan keluarganya. Permukaan dandang yang ditutup dengan kain berwarna hitam polos, menandakan masalah sebesar apa pun yang kelak dihadapi dalam berumah tangga, hendaknya ditutup rapat-rapat dan jangan sampai diketahui oleh orang lain. Pepatah orang Betawi mengatakan, “Boleh meleduk di perut, asal jangan terucap di mulut”. Bagi orang Betawi, masalah yang terjadi dalam rumah tangga adalah aib bagi yang harus disembunyikan, dan tabu bila diketahui pihak lain.

Sementara itu di atas kain hitam yang menutupi dandang, biasanya disematkan sebuah cincin atau ‘Cingkrem’. Cingkrem tersebut melambangkan terjalinnya ikatan atau pertalian dua keluarga besar sebagai besan. Pada babak akhir setelah dandang berhasil direbut, selendang yang digunakan untuk mengikat dandang akan diiikatkan ke pinggang ibu dari mempelai wanita. Hal itu menandakan bahwa seorang menantu bukan hanya sanggup menafkahi isteri dan anak-anaknya, namun mampu pula menopang perekonomian mertuanya.

Berakhirnya fragmen tradisi rebut dandang ini menandakan bahwa mempelai pria telah mendapatkan izin untuk duduk bersanding dengan pasangannya di singgasana pelaminan. Derasnya arus modernisasi dan gencarnya gempuran budaya asing, membangunkan kesadaran para praktisi budaya lokal di berbagai wilayah di tanah Betawi untuk menghidupkan kembali dan melestarikan tradisi rebut dandang ini lewat berbagai ajang festival. Dukungan dari para pemangku kebijakan tentu berperan besar dalam proses pelestarian tradisi ini.

Source http://mediaindonesia.com http://mediaindonesia.com/read/detail/144192-rebut-dandang-tradisi-pesta-pernikahan-betawi-pinggir
Comments
Loading...