budayajawa.id

Rangkaian Upacara Sebelum Pernikahan Di Pacitan

0 16

Rangkaian Upacara Sebelum Pernikahan Di Pacitan

Perkawinan, dalam rangkaian upacara di sekitar hidup individu, perkawinan merupakan peristiwa yang menandai peralihan dari masa remaja kepada golongan orang tua. Perkawinan merupakan peristiwa yang terpenting dalam lingkaran hidup individu. Rangkaian peristiwa perkawinan didahuli dengan pemilihan jodoh, hal ini juga berlaku di kalangan masyarakat desa Sawoo dan Grogol, Kabupaten Pacitan. Pada jaman dahulu pemilihan jodoh di desa Sawoo dan Grogol sama seperti yang berlaku pada masyarakat desa di Jawa pada umumnya, yaitu tergantung kepada orang tua. Ada banyak sekali upacara yang harus dilakukan sebelum pernikahan di Pacitan, antara lain:

Lamaran atau Pinangan

Bagi muda-mudi yang orang tuanya telah mengikuti kemajuan, sebelum peminangan secara resmi dilakukan, mereka biasanya telah saling mengenal dan telah sepakat untuk mengadakan perkawinan. Setelah mereka saling cinta-mencintai dan telah sepakat untuk mengadakan perkawinan, maka diadakan upacara lamaran (pinangaan). Adat pinangan di desa Grogol sama seperti orang Jawa pada umumnya, tetapi di desa Sawoo mungkin berbeda dengan desa-desa lain di Jawa Timur, karena di desa tersebut pinangan datang dari pihak wanita. Adapun jalannya upacara pinangan adalah sebagai berikut pada hari yang telah ditentukan, wakil dari keluarga calon pengantin Puteri datang berkunjung ke rumah orang tua calon pengantin Pria untuk meminang (melamar). Setelah pinangan diterima, kemudian diteruskan dengan masa pertunangan. Masa pertunangan kadang-kadang sangat singkat, bahkan adakalanya tidak diadakan, kemudian diteruskan dengan gethetan dino, yaitu penentuan hari untuk melaksanakan Upacara Perkawinan.

Srah-srahan

Menjelang upacara perkawinan, beberapa orang utusan dari keluarga pengantin pria datang ke pihak pengantin wanita untuk mengantarkan hadiah perkawinan yang disebut srah-srahan yang biasanya terdiri dari uang, bahan makanan, dan lain sebagainya.

Pasang Tarub

Untuk keperluan upacara perkawinan itu 2 (dua) hari atau sehari sebelumnya di rumah orang yang mempunyai hajad (biasanya di rumah pihak wanita) memasang tarub, yaitu Janur kuning dan daun-daun tertentu (tuwuhan), pada serambi rianah. Tuwuhan tersebut antara lain: daun beringin, daun kluwih, daun ilalang, daun Opo-opo, daun andong, bunga jambe (mayang), pahon tebu, pohon pisang raja dengan buahnya kelapa muda (Jawa: cengkir).

Midodareni

Kemudian pada malam hari menjelang pesta perkawinan dia­dakan Upacara midodareni. Pada saat itu orang-orang tua dan sanak saudara orang yang punya hajad, mengadakan tirakatan hingga larut malam, bahkan ada kalanya sampai pagi hari. Menurut kepercayaan, pada malam itu para bidadari turun dari kayangan, memberikan doa restu kepada mempelai. Pada malam itu juga perlengkapan upacara temu yaitu kembar mayang dan sadak, telah dipersiapkan.

Source https://gpswisataindonesia.info/ https://gpswisataindonesia.info/2017/12/pernikahan-adat-pacitan/
Comments
Loading...