Rampog Matjan, Tradisi Kuno Asli Kediri

95

Rampogan macan adalah adalah upacara kurban Jawa yang berlangsung selama abad ketujuh belas sampai awal abad kedua puluh. Awalnya dilakukan dalam alun-alun kerajaan Jawa saja, rampokan macan terdiri dari dua bagian yaitu sima-Maesa, pertarungan di kandang antara kerbau dan harimau dan rampogan sima yang beberapa harimau diposisikan dalam lingkaran para pria bersenjatakan tombak dan meninggal apabila mencoba melarikan diri. Menurut beberapa catatan rampogan macan ini masih dapat disaksikan di kerajaan-kerajaan Jawa hingga zaman Paku Buwana IX (1861-1893) bertahta di Surakarta. Untuk Yogyakarta sendiri pada masa-masa itu mungkin rampogan macan juga masih diselenggarakan atau mungkin juga justru sudah tidak ada lagi.

Menilik Jalanya Rampogan

Rampogan macan umumnya akan dipadati oleh penonton dari berbagai lapisan masyarakat. Mula-mula kandang macan beserta isinya ditempatkan di tengah alun-alun. Kemudian di sisi lain ditempatkan kandang banteng beserta bantengnya. Di sisi lain ditempatkan setumpuk jerami dan kayu untuk menyalakan api. Kemudian ada satu atau dua orang abdi keraton yang berjalan dengan berjoget (tayungan) menuju kandang macan dan meloncat ke atasnya. Dengan cekatan tali pintu kandang macan diputusnya. Sementara itu api juga telah dinyalakan diharapkan dengan nyala api di sisi kandang macan itu sang macan menjadi marah, takut atau gelisah sehingga macan pun keluar dari kandang.

Sementara itu di sisi lain sang banteng telah ditusuk dengan besi panas oleh abdi lain sehingga banteng pun marah. Terkadang tubuh banteng disiram dengan air yang telah dibubuhi ulegan cabe rawit sekian kilo sehingga sehingga banteng pun merasakan panas luar biasa pada kulitnya. Sering pula kulitnya akan digepyoki ’dipukuli’ dengan daun tertentu yang menimbulkan rasa gatal luar biasa yang akan menjadikan banteng marah.

Macan yang gelisah melihat api kadang-kadang tidak segera tertarik untuk menyerang banteng. Untuk itu besi panas pun siap disundutkan ke kulitnya sehingga macan marah dan segera menyerang banteng. Pertarungan banteng dan macan ini kadang bisa dimenangkan oleh banteng, akan tetapi pada umumnya bantenglah yang kalah. Kadang macan menderita luka sekalipun bantengnya bisa dibunuhnya. Namun nasib macan pun tidak akan baik juga sebab seusai macan membunuh banteng, sang macan pun akan diranjab ’diserbu’ dengan sekian ratus atau ribu mata tombak yang dibawa oleh para prajurit yang mengepung alun-alun. Nah, terbantailah sang macan dengan sadisnya. Penonton pun senang (atau mungkin ngeri).

Acara ini kemudian tidak dilakukan lagi karena dua alasan. Pertama karena populasi harimau dan macan Jawa yang semakin menyusut tajam. Kedua karena adanya larangan dari pemerintah Belanda. Tradisi Rampogan hanya bisa di lihat di pewayangan. Pada periode 1980an, harimau Jawa sudah dinyatakan punah dengan habitat terakhir di Taman Meru Beiti di Jember pada 1996.

 

 

Source Rampog Matjan, Tradisi Kuno Asli Kediri Rampog Matjan, Tradisi Kuno Asli Kediri Rampog Matjan, Tradisi Kuno Asli Kediri
Comments
Loading...