Raja Hayam Wuruk Sang Penakluk Nusantara

0 67

Raja Hayam Wuruk Sang Penakluk Nusantara

Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mencapai puncak kejayaannya. Seluruh wilayah nusantara dan semenanjung malaysia tunduk di bawah kekuasaan Majapahit. Kejayaan masa ini tidak menjamin kemakmuran dan ketenangan kehidupan sosial masyarakat yang berlangsung. Pada masa ini terdapat peristiwa-perisiwa kelam seperti perang Bubat. Masa pemerintahan Hayam Wuruk tidak serta-merta mulus tanpa adanya masalah. Di dalam makalah ini penulis akan memaparkan asal-usul Hayam Wuruk dan masa pemerintahannya.

Pemerintahan Hayam Wuruk

Hayam Wuruk naik tahta pada tahun 1350 M dengan gelar Sri Rajasanagara dan dikenal pula dengan nama Bhra Hyang Wekasing Sukha. Ketika ibunya, Tribhuwanatunggadewi masih memerintah, Hayam Wuruk telah dinobatkan sebagai raja muda ( rajakumara ) dan mendapatkan daerah Jiwana sebagi tempat kedudukannya. Dalam menjalankan pemerintahan ini, Hayam Wuruk dibantu oleh  Patih Hamangkubumi, yaitu Gajah Mada. Hayam Wuruk membiarkan Gajah Mada untuk mengambil semua keputusan resmi. Sang Maha Patih memusatkan perhatiannya pada perluasan wilayah dengan menekan negeri-negeri tetangga agar tunduk pada Majapahit. Pada masa ini Majapahit berada pada puncak kejayaannya. Menurut Mpu Prapanca dalam kitab Negarakertagama menyebutkan bahwa daerah-daerah yang ada di bawah kekuasaan Majapahit sangat luas, meliputi Jawa, Madura, Sumatra, Bali, Maluku, Irian, dan Asia Tenggara. Usaha Gajah Mada dalam mempersatukan nusantara berlangsung hingga tahun 1357 setelah terjadinya perang Bubat.

Perang Bubat

Perang Bubat adalah perang yang terjadi antar Majapahit dengan Pasundan. Peristiwa ini bermula ketika Hayam Wuruk ingin memperistri putri Raja Galuh, yaitu Dyah Pitaloka Citraresmi. Raja Galuh merestui pernikahan yang akan dilakukan oleh Hayam Wuruk dengan puterinya. Tidak lama kemudian, rombongan pernikahan datang dari Sunda menggunakan dua ratus kapal besar serta dikawal lebih dari seribu lima ratus perahu kecil. Keluarga kerajaan Sunda datang dengan perahu junk Mongol, yang lazim digunakan setelah perang Wijaya. Rombongan perkawinan yang besar ini melakukan perjalan ke Trowulan dan ditempatkan di Bubat, sebuah wilayah di sebelah utara kota itu di tempat pelabuhan berlokasi dan seluruh komunitas asing bermukim.

Setelah kedatangan mereka, Gajah Mada yang masih menjabat sebagai Patih Hamangkubumi, memulai keributan dengan Raja Sunda terkait dengan kedudukan puterinya sebagai istri Hayam Wuruk. Menurutnya tak seharusnya raja Majapahit menyambut seorang raja bawahan seperti raja Sunda dengan cara yang demikian agung, karena tidak akan ada yang bisa menduga bahwa rombongan itu datang sebagai musuh dalam penyamaran atau tidak. Kabar itu ditanggapi secara masam oleh raja Sunda, lalu mengutus Wazir Agungnya bernama Anepaken dengan diiringi tiga pejabat dan tiga ratus pengawal untuk mendatangi kediaman Gajah Mada dengan membawa pesan sederhana. Raja Majapahit tidak menepati janjinya untuk menikahi puteri Sunda sebagi permaisuri, oleh karena itu rombongan Sunda pun siap berlayar pulang.

Gajah Mada bersikukuh bahwa pernikahan yang akan berlangsung merupakan simbol bahwa kerajaan Sunda tunduk dengan Majapahit dengan menyerahkan puteri Sunda sebagi selir Hayam Wuruk. Raja Sunda pun mendapat ultimatum agar menyerah dan tunduk sebagai bawahan, karena Raja Sunda tidak sudi menjadi bawahan Majapahit pertempuran pun tidak terelakkan. Awalnya, korban berjatuhan di pihak Majapahit, tetapi akhirnya pasukan Sunda dapat ditumpas habis. Peristiwa ini menimbulkan trauma, karena setelah itu Majapahit terus berseteru dengan Sunda, negeri terpenting yang masih menolak tunduk dengan Majapahit.

Kesalahan Gajah Mada

Hayam Wuruk sangat kecewa terhadap peristiwa perang Bubat. Kekecewaan ini terutama disebabkan karena keinginannya untuk menikah dengan Dyah Pitaloka gagal. Raja Hayam Wuruk menderita sakit akibat peristiwa itu, mendengar berita sakitnya raja, Bhre Daha dan raja Wengker memerintahkan para menteri dan bala tentara Majapahit untuk mengepung kediaman Gajah Mada. Gajah Mada dapat meloloskan diri dari kepungan tentara Majapahit. Ia pun diturunkan dari jabatan kepatihannya. Dalam Pararaton menyebutkan bahwa setelah peristiwa perang Bubat, patih Gajah Mada mukti palapa.

Mungkin yang dimaksuk mukti palapa adalah kepergian Gajah Mada dalam kepatihannya dan pengembaraannya di dusun untuk mencari keselamatan dirinya dari kemarahan keluarga raja dan orang-orang Majapahit. Masa mukti palapa tidak berlangsung lama. Pada tahun Saka 1281 atau 1359 masehi, Gajah Mada ikut rombongan Hayam Wuruk untuk mengunjungi Lumajang. Dalam masa jabatan patih mangkubumi yang kedua itu, banyak dilakukan kunjungan ke daerah-daerah oleh raja Hayam Wuruk. Dalam Negarakertagama pupuh 17, tercatat perjalanan ke Pajang pada tahun Saka 1275, ke Lasem pada tahun Saka 1276, ke Pajang pada tahu Saka 1279, ke Lumajang tahun Saka 1281. Pada tahun Saka 1282, mengadakan perjalan ke Tirib dan Sempur, kemudian pada tahun Saka 1283 ke Palah.

Pesta Srada

Pada tahun Saka 1284, Hayam Wuruk mengadakan pesta Srada. Pesta ini diadakan untuk memperingati wafatnya Rajapatni. Upacara ini dilaksanakan pada bulan Badra. Maksud utama upacara Sadra adalah meruwat arwah agar sempurna dihadapan Tuhan.Upacara ini dilakukan selama tujuh hari berturut-turut, seluruh istana dicat ulang dan diberi hiasan yang serba indah. Upacara dihadiri oleh segenap petinggi kerajaan, yang masing-masing membawa persembahan sesuai dengan kemampuan dan jabatannya. Gajah Mada pada waktu itu memberi persembahan berupa arca putri cantik yang sedang menderita sedih, berlindung di bawah gubahan naga puspa yang melilit rajasa. Upacara dipimpin oleh seorang pendeta Stapaka dan dibantu Mpu dari Paruh.

Candi Panataran

Candi  istana utama Hayam Wuruk adalah candi Panataran, yang terletak di sebuah situs dekat dengan kota yang sekarang dikenal sebagai kota Blitar. Candi ini pada mulanya berada di wilayah Panjalu dan merupakan titik kulminasi dari ziarah tahunan sang raja. Negarakertagama menjelaskan keadaan setelah perayaan-perayaan festival Caitra di Trowulan. Festival Caitra merupakan festival yang digelar untuk upacara yang dipersembahkan kepada Dewi Padi, yang dilaksanakan ketika bulan Caitra, bulan pertama dalam tahun Saka. Hayam Wuruk melakukan perjalanan ke Panataran, dia memuja penguasa pegunungan sebelum turun ke laut selatan ke candi Lodaya untuk memuja Dewi Laut Ratu Roro Kidul, yang menguasai dunia ruh. Peziarahan lantas diarahkan ke kompleks candi Simping untuk memuja Raden Wijaya.

Source Raja Hayam Wuruk Sang Penakluk Nusantara Create Story Make History
Comments
Loading...