Ragam Permainan (Obak) dan Dulinan Tradisional

0 41

Ragam Permainan (Obak) dan Dulinan Tradisional

Menghadapi era jaman modern ini, banyak permainan-permainan tradisional yang tergeser atau tergusur keberadaannya. Di desa pun juga sudah semakin sepi dan jarang kita temui permainan-permainan tersebut. Berikut ini adalah beberapa permainan tradisional rakyat, semoga menambah pengetahuan akan aneka ragamnya kebudayaan yang kita miliki:

1.Balapan Angkle

Dalam balapa angkle dibutuhkan paling sedikit 4 atau lebih pemain, asalkan jumlahnya genap. Bisa 4,6,8 dan seterusnya. Urutan permainan ini pertama dilakukan penentuan kelompok dengan menggunakan cara dakocan macan atau hom pim pa. Telapak tangan digoyang-goyangkan dengan bernyanyi dakocan macan sapa putih dadi, sapa ireng dadi dst. Atau hom pim pa alaihum gambreng. Kedua jika sudah diperoleh satu regu dadi dan satu regu gak dadi, maka dilanjutkan lomba lari angkle(lari dengan satu kaki) dengan lintasan bolak-balik. Pemenang ditentukan dari regu yang paling banyak sampai ke tempat finish. Sebagai hadiah pemenang akan digendong berkeliling arena oleh regu yang kalah. Begitu seterusnya.

2. Balapan Egrang

Kebanyakan orang tentu mengenal permainan ini. Di sini jumlah pemain tidak dibatasi dan tidak melakukan pengundian. Para pemain yang terlibat dalam permainan hanya menentukan lintasan lomba/ balapan dan sanksi bagi yang kalah. Biasanya sanksi diberikan dalam bentuk gethokan (memukul yang kalah menggunakan lima jari yang ditekuk).

3. Balapan Egrang Bathok

Aturan main sama dengan balapan egrang biasa (egrang kayu atau bambu), perbedaannya hanya pada alat yang digunakan, yaitu bathok kelapa yang dibelah dua tepat di tengah. Kemudian dilubangi dan diberi tali untuk pegangan.

4. Obak Boik/ Bebegan

Permainan ini menggunakan gaco kereweng (pecahan genting) dan bal mutho (bola tenis). Dua regu beranggotakan 5-6 orang. Pola permainan diawali dengan menyusun gaco kereweng (biasanya ±10 kereweng) di tengah arena. Kemudian regu yang menang hom pim pa melempar bal mutho ke susunan tersebut sampai roboh. Sedangkan regu yang kalah berjaga-jaga di sekitar gaco. Jika bola tertangkap regu yang kalah, maka regu pelempar siap-siap terkena hantaman bola mutho. Karena regu yang kalah akan berusaha agar regu pelempar tidak bisa menyusun kembali gaco seperti semula. Karena itu regu pelempar berusaha menghindari bola, sehingga tidak ada ancaman bagi pemain regu pelempar untuk menata gaco. Jika gaco bisa ditata seperti semula, maka regu pelempar dinyatakan menang.

5. Obak Sodor

Permainan ini menggunakan gambar persegi panjang yang digambar di tanah dan dibagi menjadi dua oleh garis panjang dan dibagi lagi garis melintang sebanyak dua buah. Permainan ini dibagi menjadi dua regu dan setiap regu beranggotakan 4 orang.

Regu yang kalah hom pim pa akan menjaga garis melintang agar tidak bisa ditembus lawan. Jika regu penyerang berhasil membobol pertahanan, maka dinyatakan menang.

6. Obak Bentengan (Obak Jor)

Obak ini menggunakan dua titik/benda yang dianggap sebagai benteng pertahanan. Permainan ini melibatkan dua regu yang sama banyaknya.

Pola permainan ini, masing-masing anggota regu akan berusaha membobol pertahanan lawan dengan menyentuh titik benteng lawan. Jika sebelum menyentuh pemain tersebut disentuh oleh pemain yag diaerang bentengnya, maka pemain yang tersentuh dianggap sebagai tawanan. Tawanan ini bisa bebas kalau ia dibebaskan anggota regunya dengan menyentuh anggota badannya. Tetapi jika pemain yang membebaskan tersentuh oleh lawan, maka ia ganti menjadi tawanan. Regu yang paling banyak ditawan dianggap kalah dalam obak bentengan ini. Tetapi sebaliknya meskipun banyak anggota regu itu ditawan, kemudian ada satu regu yang menyentuh benteng regu penawan, maka regu yang berhasil menyentuh itulah yang dinobatkan sebagai pemenang dan biasanya diikuti dengan nama Jor.

7. Obak Perang-perangan

Dalam obak ini melibatkan dua regu. Kedua regu ini memiliki strategi berbeda tergantung panglimanya. Senjata yang digunakan bisa berupa jedulan (terbuat dari bambu dan untuk pelurunya biasanya menggunakan buah salam atau kertas basah. Pemenang dalam obak ini adalah regu yang berhasil menembak anggota regu lawan paling banyak atau bisa menawan panglima/pimpinan pasukan lawan.

8. Obak Pitikan

Permainan ini pemain dibedakan menjadi tiga. Pertama pemeran pitik. Kedua luwak. Ketiga pemain yang menjadi kandang dan pemilik pitik.

Pola permainan, pemain yang menjadi ayam berada dalam lingkaran besar pemain lain yang menjadi kandang dan pemilik pitik. Sedangkan pemeran luwak berada di luar lingkaran pemain kandang yang saling berpegangan tangan. Luwak akan berusaha keras membobol pertahanan kandang. Jika berhasil, maka luwak akan menguasai ayam dan permainan selesai. Tetapi jika pitik bisa membebaskan diri dan luwak terjebak dalam kandang, maka permainan pun berhenti dengan klimaks luwak menjadi bulan-bulanan pemain kandang dan pemilik pitik.

Permainan ini diiringi nyanyian:

pitikan-pitikan

lawang kayu blak-oblakan

eh pitikmu ilang

eh digondhol garangan

Dan biasanya diikuti pula dialog:

Pitik  :    Blak … blak … blak … kukuruyuuuuk …! Aku pitike Raden  Panji Seputro, omahku nok jero guwa. Pakanku gak disangka-sangka.

Luwak :    Alaa … omonganmu kadung umuk. Iso ae kuwe mbujuk. Nek bener awakmu jagone Raden Panji Seputro, opo buktine?

Pitik  :    Ulesku liring kuning, sandinganku mas sinangling

Luwak :    Wah nek ngunu awakmu pancen pitike Raden Panji Seputro.  Apa awakmu gelem ngancani aku?

Pitik  :    Gak sudi! Paling kok bujuki.

9. Jenthik Lar-Del

Permainan ini membutuhkan 2 orang pemain. Alat yang digunkan sepasang stik kayu, yang satu panjang disebut lanangan, dan satu pendek disebut wedhokan.

Berbeda jenthik pathil lele, yang disebut jenthik lar-del dalam memukul stik pendek dengan stik panjang dilakukan sesuai dengan nama gaya pukulan. Berikut rinciannya:

Lar        -stik pendek diletakkan di atas punggung lima jari posisi  mendatar (lar mengkurep)

Ndel       -stik pendek dipegang dengan dua jari dalam posisi tergantung (gondhal-gandhel)

Krang      -stik pendek dipegang tangan kiri di balik kaki kiri yang menthingkrang

Kil        -stik pendek diletakkan di atas jari kaki (sikila)

Nuk       -stik diletakkan di ujung stik panjang membentuk huruf T berdiri

Mbat       -stik pendek diletakkan setimbang menyilang, seperti salib tidur

Pot        -stik pendek diletakkan di atas genggaman tangan yang pegang stik panjang, persis posisi awal (pembuka)

Dheng     -stik pendek dipegang tangan kiri tetapi posisi diputar 90°

Pit        -stik pendek diletakkan di atas jimpitan tangan yang pegang  stik panjang

Sirut       -seperti pot tetapi stik pendek tidak dipukul melainkan di;lempar

Ndigul      -stik pendek dipegang seperti Ndel, tapi diletakkan di atas lutut

Mbau      -stik pendek diletakkan di bahu

Munuk     -stik pendek diletakkan di punuk/tengkuk

Nyendhil    -stik diletakkan di atas ulu hati dengan seakan mau merebahkan tubuh ke belakang

Kalau mampu memukul stik pendek dua kali, maka menghitung jaraknya dengan stik pendek, tetapi kalau hanya memukul sekali, maka menghitungnya memakai stik panjang. Jika hitungan melampaui nyendhil, maka dianggap punya 1 sawah (point). Jika sampai sawah 10, maka yang menang berhak digendhong satu putaran. Titik menghitungnya biasanya menggunakan sebongkah batu bata.

10. Cakar Jalu

Ini permainan hitung jari yang dibentangkan. Permainan ini dilakukan 2 anak. Masing-masing anak memilih atau memberi nama diri di antara: Cakar, Jalu, Cucuk atau Kabluk.

Dengan satu isyarat ucapan telapak tangan dibentangkan tengkurap di lantai. Tiap pemain boleh memperlihatkan jari sejumlah yang dikehendaki. Salah seorang anak akan menghitung dengan kata-kata: kar (cakar)lu (jalu) cuk (cucuk) bluk (kabluk) sampai jari terakhir.

Yang disebut terakhir mendapat hadiah menghukum lawannya dengan pukulan sesuai namanya. Kalau namanya cakar maka dia berhak mencakar tangan lawannya yang diangkat di depannya, dan berhenti kalau luput.

11. Jamuran

Permainan ini untuk yang jadi memberi tugas kepada peserta yang tidak jadi untuk melakukan sesuatu. Dalam menugasi peserta yang lain, yang jadi ditanya dulu oleh peserta lain dalam lagu sebagai berikut:

Jamuran, yo gegeo

Jamur opo, yo gegeo

Siro mbadhe jamur opo?

Yang jadi:

Jamure godhong … jambu kluthuk

Peserta lainnya harus berlarian mencari daun yang disebut dan menunjukkan hasilnya. Dalam perkembangannya, jamur yang dipilih kemudian tidak hanya daun pepohonan saja. Misalkan:

  • Jamur Tekek Menek, maka peserta harus menirukan tekek yang sedang memanjat.
  • Jamur bedhes kikir-kikir, maka peserta harus menirukan kera tersebut.
  • dll.

Dengan begini anak menjadi hafal nama macam-macam tanaman dan memupuk rasa cinta kepada alam ataupun lingkungan.

12. Piteng atau Sri Gendem atau Obak Dhelik

Pitheng merupakan Jumpritan (obak dhelik) tetapi yang dadi matanya ditutup. Permainan dimulai dengan memilih yang jadi melalui hom pim pa.

Yang jadi matanya ditutup. Setelah siap berdialog:

“Wis ta?”

“Wis.”

“Lungguh sandheku! Cul gak cul tak goleki.”

Akhirnya yang jadi mencari peserta lainnya dengan meraba-raba sampai menemukan atau menyentuh. Peserta lainnya mencari tempat dan duduk seperti perintah yang jadi. Kalau tersentuh, yang jadi harus menebak, nama yang terpegang. Kalau salah, jadi lagi. Kalau benar, yang terpegang menggantikan yang jadi.

13. Badhe-badhean

Badhe-badhean selalu dilakukan anak-anak kalau sedang berkumpul. Contohnya:

“Ayo badhe-badhean.”

“Ayo. Aku mbadheki disik.”

Yo, ayo.”

“Pitik walik sobo kebon, opo jenenge?”

“Aku ruh, nanas!”

“Lha nek pitik walik sobo omah, opo jenenge?”

“Kemucing.”

“Bener.”

“Saiki aku sing mbadei.”

“Ayo.”

“Wiwo wite, karwo cake, lesbo donge, opo maksude?”

“Lha kok angel? Nek Karwo aku ruh.”

“Opo artine?”

“Gubernure dhewe, Cacake …”

“Ngawur ae. Nyerah?”

“Yo, nyerah.”

“Wi dowo wite, Cikar dowo tracake, Tales ombo godhonge. Ngunu ae gak iso.”

Dan masih banyak lagi permainan-permainan tradisional lainnya seperti sonda, onthong-onthong bolong, das-dasan, sluku-sluku bathok, cublek-cublek suwung, dll.

Source https://catatanwongndeso.wordpress.com https://catatanwongndeso.wordpress.com/2013/05/31/ragam-permainan-obak-dan-dulinan-tradisional/
Comments
Loading...