Puter Kayun, Napak Tilas Pembangunan Jalan Panarukan-Banyuwangi

0 92

Puter Kayun, Napak Tilas Pembangunan Jalan Panarukan-Banyuwangi

Puter kayun, salah satu tradisi asli Banyuwangi yang masih dilaksanakan sampai sekarang. Tradisi yang berasal dari Desa Boyolangu, Kecamatan Giri ini dilangsungkan rutin setiap tahunnya, tepatnya antara tanggal 7 sampai 10 di Bulan syawal. Tradisi unik ini merupakan napak tilas dari pembangunan jalan dari Panarukan menuju Banyuwangi. Napak tilas tersebut dilakukan dengan menunggang dokar atau andong dari Desa Boyolangu menuju pantai Watudodol yang jaraknya berkisar 15 km.

Tradisi yang dilakukan oleh warga Boyolangu ini dilangsungkan secara turun menurun. Selain dilakukan sebagai ungkapan syukur atas  rezeki dari Allah tradisi puter kayun juga dilakukan atas  dasar bentuk janji terhadap leluhur Boyolangu Buyut Jaksa. Konon Buyut Jaksa yang terkenal sebagai orang yang sakti dan tinggal di Bukit Silangu tersebut merupakan orang yang berjasa terhadap pembangunan jalan yang menghubungkan Panarukan sampai Banyuwangi pada zaman kolonial Belanda.

Pada waktu itu setelah Pembangunan jalan Anyer-Panarukan, pembangunan dilanjutkan dari Panarukan ke Banyuwangi. Ketikan Pembangunan Jalan sampai di Tepi selat Bali (saat ini Pantai Watudodol) menemui kesulitan. Bongkahan batu menghalangi pembangunan dan tidak bisa di hancurkan. Hal tersebut juga ditambahkan bukit batu tersebut juga mempunyai kekuatan gaib sehingga banyak korban berjatuhan dari pihak pribumi.

Akhirnya, Schopoff (Residen di Banyuwangi) meminta Mas Alit (Bupati BanyuwangiPertama) untuk mengatasi hal itu, yang kemudian Mas Alit mengutus Buyut Jaksa untuk membantunya. Buyut Jaksa awalnya menolak tapi akhirnya setuju dengan syarat orang Belanda juga harus ikut kerja rodi. Setelah disetujui, beliaupun memanggil Raja makhluk halus yang berada di sana, karena dia tahu bukit itu dihuni makhluk halus. Raja makhluk halus mau membantu Buyut Jaksa asalkan syarat-syarat yang dia minta dipenuhi. Pertama, harus disisakan sebuah batu didekat pantai sebagai tempat bernaungnya. Kedua, mengadakan selamatan atau ajeg-ajeg. Ketiga, keturunan Buyut Jaksa tiap tahun harus menyempatkan diri mengunjungi Gunung Batu itu agar silahturahmi tidak terputus.

Di masa sekarang tradisi Puter kayun berlangsung lebih modern. Terdapat banyak hiburan yang berlangsung di Pantai Watudodol serta para warga menggunakan sebagai media silaturahmi ketika lebaran tidak sempat bertemu. Lebih dari itu ketika arak-arakan berlangsung banyak warga menonton di tepi jalan yang juga sebagai hiburan tersendiri.

Source https://www.osingdeles.com/ https://www.osingdeles.com/puter-kayun-napak-tilas-pembangunan-jalan-panarukan-banyuwangi/
Comments
Loading...