Prosesi Upacara Jembul Tulakan, dari Desa Tulakan Jepara

0 252

Upacara Jembul Tulakan ini dimulai dengan mencuci kaki petinggi atau sekaaran dikenal dengan kepala desa dengan kembang setaman. Aktivitas ini dilakukan oleh perangkat desa, sebagai perlambang kepada Ratu Kalinyamat. Pada masa sekarang masyarakat lebih memaknai sebagai bentuk permohonan agar tercipta kehidupan yang tenteram, bersih dari malapetaka dan segala kesulitan yang menimpa penduduk.

Di samping itu sekaligus untuk mengingatkan kepada petinggi agar selalu bersih dalam segala tindakan dan langkahnya, tidak melanggar larangan-larangan agama, larangan pemerintah, serta menerapkan asas kejujuran dan keadilan dalam memimpin masyarakat desa Tulakan. Setelah pencucian kaki petinggi, maka dilakukan selamatan sebagai lambang permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Desa Tulakan tetap selamat sentosa dan hasil bumi pada tahun mendatang melimpah ruah sehingga kehidupan penduduk Tulakan menjadi sejahtera, cukup sandang, pangan dan papan.

Acara mengitari Jembul sebanyak tiga kali merupakan inti dari proses Jembul Tulakan. Kegiatan mengitari Jembul dilakukan oleh petinggi diikuti oleh ledek atau penari tayub dan para perangkat desa. Prosesi ini dilakukan untuk menggambarkan kembali suasana pada waktu Ratu Kalinyamat melakukan pemeriksaan terhadap para nayoko projo yang datang menghadap dia sekaligus untuk menyerahkan hulu bekti yang dibawanya.

Kesetiaan para nayoko projo ini ditunjukkan sewaktu ratu melakukan pertapaannya. Suasana ini pada masa sekarang lebih diartikan sebagai pengingat-ingat agar para pemimpin desa Tulakan selalu menyempatkan diri untuk memberikan perhatian pada staf perangkat desanya dalam menjalankan tugas sehari-hari. Dengan pemantauan tersebut akan tercipta keadaan desa yang aman sentosa. Di samping memantau para pembantunya, pemimpin desa juga perlu memerhatihan rakyat yang dipimpinnya, dengan turun langsung mengenal masyarakat secara dekat dari pedudukuhan–pedukuhan yang ada, sehingga terciptalah kondisi desa yang tertib.

Pemimpin benar-benar dapat bertindak mengayomi dan nganyemi dalam arti melindungi dan menciptakan ketenteraman desa yang dipimpinnya. Setelah dilakukan inti dari upacara Jembul Tulakan, maka sebagai penutup dilakukan Resikan yaitu kegiatan membersihkan tempat yang telah dipakai untuk melakukan upacara. Aktivitas ini dilakukan oleh warga masyarakat Desa Tulakan secara beramai-ramai. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk pengusiran terhadap penyakit-penyakit dan kejahatan-kejahatan dari Desa Tulakan.

Seminggu setelah dilakukan sedekah bumi Tulakan, di dukuh Pejing juga melakukan sedekah bumi yang disebut sedekah bumi Pejing. Hal ini berkaitan dengan cerita, bahwa pada waktu dilakukan sedekah bumi Tulakan, Mbah Cabuk selaku ketua pedukuhan sakit sehingga tidak bisa datang. Melihat sakitnya Mbah Cabuk, anak-anaknya serta masyarakat dukuh mengharapkan agar dukuh tersebut diizinkan melakukan upacara jembul sendiri setelah mbah Cabuk sembuh. Harapan ini terkabul, masyarakat di dukuh tersebut diizinkan melakukan sedekah bumi sendiri oleh Kademangan dengan syarat dalam prosesi tersebut tidak ada jembul.

Setelah seminggu kemudian Mbah cabuk sembuh, diadakanlah upacara sedekah bumi Pejing. Diizinkannya Pajing melakukan sedekah bumi sendiri ini, dikarenakan Ki Barata selaku Demang dikenal seorang pemimpin yang arif bijaksana. Sehingga untuk tetap menjaga kerukunan masyarakat di Kademangan, meskipun Pejing melakukan sedekah bumi sendiri harus tetap mematuhi beberapa persyaratan yang diajukan oleh Ki Barata. Syaratnya adalah sedekah bumi di Kademangan Tulakan harus tetap didatangi oleh masyarakat Dukuh Pejing.

Source https://id.wikipedia.org/wiki/Jembul_Tulakan id.wikipedia.org
Comments
Loading...