Prosesi Upacara Adat Rokat Disa “Ju’ Kae” Madura

0 74

Prosesi Upacara Adat Rokat Disa “Ju’ Kae”

Sebelum upacara dimulai, didahuluI dengan kegiatan-kegiatan berupa pembersihan dan pengapuran tempat-tempat sekitar bhuju’, surau, sumur (soro’), somber dan lain sekitarnya. Kegiatan ini dilakukan secara gotong royong (song-osong lombhung) pada sore hari bertepatan pada hari Selasa Legi (menurut kalender Jawa) sampai selesai. Yang dipimpin langsung oleh sesepuh kampung yaitu keturunan dari Kae Agung Candra.

Dalam kegiatan tersebut termasuk perbaikan-perbaikan sarana, yaitu perbaikan/pergantian atap-atap yang dianggap rusak dan diganti sebagaimana mestinya. Atas-atas tersebut terbuat dari daun/janur kelapa yang telah kering dan dirangkai kemudian dibentuk dan disusun sebagai atap, yang kemudian disebut gagidhang.

Konon kabarnya, pernah atap-atap tersebut diganti dengan atap genteng atau hasbis, namun anehnya atap-atap tersebut selalu rusak dan hancur menjadi debu. Jadi menurut keyakinan mareka Kae Agung Candra tidak suka tempat hunian terakhirnya diatapi selain dari daun kelapa kering.

Maka keyakinan masyarakat setempat bahwa bila atap kuburan (congkop) tersebut agar terbuat dari daun kelapa agar generasinya mengingat dan mengenang apa yang terjadi para pendahulunya waktu lampau. Dalam pembuatan gagidhang dilakukan disekitar tempat itu juga, yaitu pada hari Kamis sore, dan pada malam harinya (malam Jum’at) upacara ritual dimulai.

Pada saat itu, warga setempat berkumpul, segala macam sajian telah tersedia, kemudian Kiyae Ngajibhuju’ kae, sedang lainnya menempat posisi diluat arena bhuju’. Aneka macam sajian dan peralatan upacara diletakkan di depan Kae ngaji yang sedang memimpin upacara. Dupa muli dibakar dengan aroma asap menyebar seantero arena. Kae mengawali dengan pembacaan suar Al-Fatihah, lalu surat Yasin 41 kali serta surat Al-Waqiah 1 kali. Pembacaan tersebut diikuti oleh seluruh jamaah/warga yang hadir memimpin dan memulai yang didampingi oleh sesepuh kampong lainnya serta para perangkat desa.

Menurut pendapat, jauh sebelum Islam tersiar di tempat itu, pembacaan yang dilakukan yaitu dalam bentuk mantra-mantra berupa pojiyan towa yaitu pujian-pujian kuno yang disebut tahheng. Namun pelaku pujian-pujian tersebut sudah tidak ada lagi dan bersamaan kesadaran masyarakat yang menganggap pujian bertolak belakang dengan syariat Islam.

Setelah mengaji bersama telah hattam, maka Sang Kae membaca duwe pangrokat, yaitu doa-doa penutup kemudian meniupkan pada sajian yang tersedia didepannya. Dan sebagai acara selanjutnya, yaitu nase’ rasol dibagi-bagikan kepada warga yang hadir, kemudian makan bersama-sama.

Selanjut Kae menyerahkan perlengkapan upacara kepada salah seorang yang dituakan, yaitu sesepuh kampung keturunan dari Ke Agung Candra. Pada saat berikutnya dilakukan penaburan berres koneng dan arta’ koneng disekitar bhuju’, yang dimaksudkan untuk tola’ bala’ (penangkal bahaya), sedang aeng babur dan jajan genna’ diletakkan ditempat yang dianggap angker yaitu sumur atau soro’, dimaksudkan sebagai sajian kepada roh-roh halus agar tidak mengganggunya. disiramkan ke makam atau bhuju’ tersebut, dimaksudkan untuk mensucikan arwah leluhurnya.

Dan pada keesokan harinya, tepatnya pada hari Jum’at sore dilakukan satu pertunjukan yang disebut Gumbugan, yang terdiri dari seperangkat thong-thong (alat musik dari potongan bambu) yang biasa digunakan musik menggetak burung merpati. (ditempat lain disebut musik ghul-ghul), yaitu sebagai bentuk kenangan yang pernah dilakukan oleh Kae Agung Candra, yang konon katanya suka memelihara burung merpati getta’. Pertunjukan gumbugan tersebut pada Jum’at terkahir yaitu Jum’at ketiga.

Upacara adat Ju’ Kae ini makin lama makin disederhanakan pelaksanaannya, namun tanpa mengurangi makna dari peristiwa ritual  tersebut. Dan bahkan pada saat prpsesi itu berlangsung bukan hanya masyarakat sekitar kampong Tenggina yang meramaikan, bahkan masyarakat dari luar desa dan luar kecamatanpun beramai-ramai menyaksikan sebagai perhatian dan kepedulian terhadap adat istiadat yang telah menjadi bagian peristiwa kehidupan masyarakat.

Source http://www.lontarmadura.com http://www.lontarmadura.com/upacara-adat-rokat-disa-ju-kae-2/

Leave A Reply

Your email address will not be published.