Prosesi Pernikahan Adat Tengger Jawa Timur

0 102

Prosesi Pernikahan Adat Tengger Jawa Timur

Suku Tengger merupakan suku bangsa yang tinggal di sekitar kawasan pegunungan Bromo, Tengger, Semeru, Jawa Timur, menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Malang.

Sistem perkawinan masyarakat Tengger bersifat eksogami, yang berarti masyarakat tidak melarang untuk menikah dengan masyarakat luar Tengger atau daerah lainnya. Seseorang bebas untuk memilih sendiri jodoh yang mereka suka dari mana pun.

Akan tetapi masyarakat Tengger yang memilih jodoh dari daerah lain, harus memilih untuk tetap berada di daerah Tengger atau memilih keluar dari masyarakat tengger. Mereka yang memilih keluar dari masyarakat tengger dianggap sudah tidak tergabung dalam keanggotaan atau secara otomatis keluar dari masyarakat Tengger.

Masyarakat Tengger mengenal istilah melangkah, yang dikenal sebagai andalarang, yaitu melangkahi saudara sendiri untuk melakukan perkawinan. Menurut mereka apabila seseorang dilangkahi oleh adiknya untuk melakukan perkawinan dianggap pamali, kecuali apabila adiknya itu perempuan dan kakaknya bukan perempuan.

Pada masyarakat Tengger tidak adanya larangan untuk menikah dengan beda agama atau agama lain. Masalah pernikahan masyarakat Tengger sudah terbuka apalagi dalam masalah pernikahan yang beda agama. Pernikahan beda agama sudah dianggap wajar oleh masyarakat Tengger. Karena banyak orang yang melakukan pernikahan beda agama di dalam masyarakatnya.

Contohnya penduduk desa Ngadisari yang mayoritas beragama Hindu menikah dengan penduduk desa Sukapura yang mayoritas beragama Islam. Akan tetapi calon mempelai yang akan menikah harus memilih agama mana yang akan dipeluknya dan memilih ritual mana yang digunakan sesuai dengan apa yang dipilih oleh kedua calon mempelai.

Sedangkan pada prosesi perkawinan masyarakat Tengger tidak jauh berbeda dengan perkawinan masyarakat Jawa pada umumnya. Pada masyarakat Tengger juga mengenal lamaran yang dilakukan sebelum perkawinan yang melibatkan orang tua kedua mempelai untuk menentukan hari pernikahan. Persiapan atau lain-lainnya.

Akan tetapi pada masyarakat Tengger lamaran dilakukan mendekati hari perkawinan, tidak terlalu lama untuk menunggu-nunggu dimaksudkan agar ikatan yang sudah terjadi tidak putus, atau di masa mendatang tidak terjadi perkawinan yang seperti telah direncanakan sebelumnya.

Yang membedakan perkawinan masyarakat Jawa dan masyarakat Tengger hanya pada prosesi seperti siraman yang dilakukan masyarakat Jawa sebelum dilakukan akad nikah atau puasa yang dilakukan mempelai wanita yang lebih dikenal sebagai mutih, itu pun tidak dilakukan oleh masyarakat Tengger. Pada masyarakat Tengger perkawinan dibagi menjadi 4 macam: Lamaran, Pawiwahan (ijab qabul), Walagara (temu manten), dan Pengundangan para kerabat dan leluhur.

Selain itu terdapat perbedaan istilah dalam agama islam dikenal dengan istilah Ijab Qabul, tetapi dalam masyarakat Tengger yang mayoritas agama Hindu lebih dikenal sebagai Pawiwahan. Sama halnya dengan agama islam, apabila seseorang kawin maka akan dibacakan semacam doa atau mantra dalam bahasa jawa oleh pandita dukun (sebutan bagi pemimpin pernikaha) dalam agama islam disebut sebagai penghulu, yang kemudian diikuti oleh mempelai laki-laki.

Source https://gpswisataindonesia.inf https://gpswisataindonesia.info/2018/08/prosesi-pernikahan-adat-tengger-jawa-timur/
Comments
Loading...