Prosesi Pernikahan Adat Cirebon Jawa Barat: Tenteng Pengantin

0 36

Prosesi Pernikahan Adat Cirebon Jawa Barat: Tenteng pengantin

Cirebon merupakan kota yang berposisi di pesisir utara perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah dimana pernah mengalami masa kejayaan sebagai salah satu pusat perkembangan agama Islam di Pulau Jawa. Ditunjang posisi geografisnya, Cirebon memiliki kekayaan budaya yang beragam dengan keunikan dan daya tarik tersendiri. Cirebon juga memiliki potensi budaya, seni dan ekonomi yang tinggi. Peninggalan kejayaan Cirebon di masa silam masih dapat dirasakan hingga saat ini. Sebagai kota pelabuhan yang memiliki akses ke dunia luar membuat kota ini mendapat pengaruh dari budaya Cina dan Arab yang dapat dilihat dalam seni dan budaya masyarakatnya, tak terkecuali dalam tata cara pernikahan.

Seperti halnya adat pengantin Jawa, awal dari seluruh upacara ialah acara lamaran. Sewaktu melamar pihak calon mempelai pria membawa sebilah keris untuk melambangkan kesetiaan, juga keperluan dapur selengkap-lengkapnya. Upacara dilanjutkan dengan Siraman Tawandari. Bila pada adat Jawa acara siraman dilakukan secara terpisah di rumah masing-masing calon pengantin putri. Upacara selanjutnya yang tak kalah menarik ialah upacara Tunggak Jati Leluhur, yaitu merupakan upacara ziarah untuk mohon doa restu ke makam leluhur (Sunan Gunung Jati). Dalam upcara ini pihak calon pengantin pria melakukan ziarah. Setelah selesai kembalikan lagi ke pini sepuh pihak pengantin pria.

Puncak dari acara ini adalah akad nikah. Acara dibuka dengan dialog antara pini sepuh wakil dari kedua mempelai yang isinya adalah ucapan serah terima dari pihak mempelai pria pada mempelai wanita. Kemudian dilanjutkan dengan acara Ijab Kabul dan upacara temu pengantin yang sering kita dengar istilah “Temon”. Diselaraskan dengan budaya leluhur, masyarakat Cirebon melakukan tahapan upacara adat perkawinan secara sakral. Berikut adalah salah satu tahapannya yaitu Tenteng Pengantin.

Tiba hari pernikahan yang telah disepakati, pihak gadis mengirimkan utusannya untuk menjemput calon pengantin pria. Setiba di rumah keluarga pria dan utusan menyampaikan maksud kedatangannya untuk menenteng (membawa) calon pengantin pria ke tempat upacara pernikahan di rumah pihak gadis. Orangtua pengantin pria tidak ikut dalam upacara akad nikah dan dilarang untuk menyaksikan. Pada waktu ijab qabul, calon pengantin pria ditutup dengan kain milik ibu pengantin wanita. Hal ini menandakan bahwa pria itu telah menjadi menantunya. Setelah selesai kain itu diambil kembali, yang menandakan bahwa pengantin sudah tidak lagi dalam perlindungan orangtua dan sekarang memiliki tanggung jawab sendiri.

Source https://gpswisataindonesia.wordpress.com/ https://gpswisataindonesia.wordpress.com/2015/01/09/prosesi-pernikahan-adat-cirebon-jawa-barat/
Comments
Loading...