Prosesi Pernikahan Adat Cirebon Jawa Barat: Salam temon

0 42

Prosesi Pernikahan Adat Cirebon Jawa Barat: Salam temon

Cirebon merupakan kota yang berposisi di pesisir utara perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah dimana pernah mengalami masa kejayaan sebagai salah satu pusat perkembangan agama Islam di Pulau Jawa. Ditunjang posisi geografisnya, Cirebon memiliki kekayaan budaya yang beragam dengan keunikan dan daya tarik tersendiri. Cirebon juga memiliki potensi budaya, seni dan ekonomi yang tinggi.

Peninggalan kejayaan Cirebon di masa silam masih dapat dirasakan hingga saat ini. Sebagai kota pelabuhan yang memiliki akses ke dunia luar membuat kota ini mendapat pengaruh dari budaya Cina dan Arab yang dapat dilihat dalam seni dan budaya masyarakatnya, tak terkecuali dalam tata cara pernikahan.

Seperti halnya adat pengantin Jawa, awal dari seluruh upacara ialah acara lamaran. Sewaktu melamar pihak calon mempelai pria membawa sebilah keris untuk melambangkan kesetiaan, juga keperluan dapur selengkap-lengkapnya. Upacara dilanjutkan dengan Siraman Tawandari. Bila pada adat Jawa acara siraman dilakukan secara terpisah di rumah masing-masing calon pengantin putri.

Upacara selanjutnya yang tak kalah menarik ialah upacara Tunggak Jati Leluhur, yaitu merupakan upacara ziarah untuk mohon doa restu ke makam leluhur (Sunan Gunung Jati). Dalam upcara ini pihak calon pengantin pria melakukan ziarah. Setelah selesai kembalikan lagi ke pini sepuh pihak pengantin pria.

Puncak dari acara ini adalah akad nikah. Acara dibuka dengan dialog antara pini sepuh wakil dari kedua mempelai yang isinya adalah ucapan serah terima dari pihak mempelai pria pada mempelai wanita. Kemudian dilanjutkan dengan acara Ijab Kabul dan upacara temu pengantin yang sering kita dengar istilah “Temon”. Diselaraskan dengan budaya leluhur, masyarakat Cirebon melakukan tahapan upacara adat perkawinan secara sakral. Berikut adalah salah satu tahapannya yaitu Salam Temon.

Selesai akad nikah dilakukan upacara salam temon (bertemu). Kedua pengantin dibawa ke teras rumah atau ambang pintu untuk melaksanakan acara injak telur. Telur yang terdiri dari kulit, cairan warna putih dan kuning di dalamnya mengandung makna:

Kulit sebagai wadah/tempat, putih adalah suci/pengabdian seorang istri, kuning lambang keagungan. Dengan begitu segala kesucian dan keagungan sang istri sejak saat itu sudah menjadi milik suaminya. Alat yang digunakan antara lain pipisan atau sejenis batu persegi panjang/segi empat yang dibungkus dengan kain putih. Pengantin pria menginjak telur melambangkan perubahan statusnya dari jejaka menjadi suami dan ingin membina rumah tangga serta memiliki keturunan.

Pengantin wanita membasuh kaki suaminya yang melambangkan kesetiaan dan ingin bersama-sama membina rumah tangga yang bahagia. Sebelum membasuh kaki, pengantin wanita melakukan sungkem pada suaminya. Bila pengantin berasal dari keluarga yang cukup berada, biasanya saat acara salam temon ini diadakan acara gelondongan pangareng yaitu membawa upeti berupa barang (harta) yang lengkap.

Source https://gpswisataindonesia.wordpress.com/ https://gpswisataindonesia.wordpress.com/2015/01/09/prosesi-pernikahan-adat-cirebon-jawa-barat/
Comments
Loading...