Prosesi Budaya Tedak Sinten/ Mudun Lemah Banyuwangi

0 31

Prosesi Budaya Tedak Sinten/ Mudun Lemah Banyuwangi

Secara spesifik desa yang menjadi mayoritas tempat tinggal dari suku Osing bernama desa Kemiren kecamatan Glagah, Banyuwangi. Di desa inilah suku Osing melangsungkan setiap kegiatan dan aktifitasnya mulai dari bangun tidur di pagi hari hingga tidur kembali di malam hari. Karena semakin pesatnya perkembangan di zaman globalisasi seperti ini, tidak membuat suku Osing goyah akan godaan-godaan yang bisa saja menyerang mereka dan melunturkannya.

Berkat ketaatan dan kesetiaan mereka lah suku Osing tidak pernah berubah keasliannya alias masih sama seperti dahulu kala sejak pertama kali suku ini lahir. Berbagai tradisi dan kesenian sering dilakukan oleh masyarakat Osing apalagi saat ini pariwisata berkembang sangat pesat tidak hanya di Indonesia bahkan luar negeri. Membuat setiap daerah saling berlomba untuk menunjukkan keunikannya demi mendapat keuntungan dari setiap wisatawan yang datang. Salah satu tradisi yang masih ada saat ini adalah tradisi Mudun Lemah atau Tedak Sinten.

Budaya Tedak Siten (Mudun Lemah), prosesinya adalah sebagai berikut :

  1. Acara Tedak Siten ini di mulai dengan Menapaki juadah 7 warna, Juadah disini terbuat dari beras ketan dicampur dengan parutan kelapa muda dengan ditambahi garam agar rasanya gurih. Dan 7 warna disini yaitu hitam, kuning, hijau, biru, merah, putih, jingga. Warna warna ini mempunyai makna sebagai berikut : putih: watak dasar,  biru: jati diri,  hijau: lambang kehidupan,  jingga : matahari, merah: semangat, kuning: harapan tercapai, hitam: keagungan. Makna yang terkandung dalam jadah ini merupakan simbol kehidupan yang akan   dilalui oleh si anak, mulai dia menapakkan kakinya pertama kali di bumi ini sampai dia dewasa, sedangkan warna-warna tersebut merupakan gambaran dalam kehidupan si anak akan menghapai banyak pilihan dan rintangan yang harus dilaluinya. jadah 7 warna disusun mulai dari warna yang gelap ke terang”.
  2. Selanjutnya si anak Menaiki Tangga, dimana tangga ini terbuat dari Tebu jenis Arjuna,yaitu tangga yang dibuat dari batang tebu merah hati dan dihiasi kertas warna- warni. Hal ini dimaksudkan agar dalam menapaki (menjalani) hidupnya, apa yang di lakukan seorang anak diharapkan semakin meningkat. Dan mampu melewati halangan dan rintangan hidupnya kelak.
  3. Kemudian di teruskan menapaki pasir, ini dimaksudkan agar dalam dalam menjalani hidupnya dia siap dengan halangan atau rintangan apapun yang menghadangnya.
  4. Setelah menapaki pasir, anak di bimbing di sebuah kurungan ayam yang telah dihiasi dan didalamnya terdapat beberapa mainan, alat tulis, uang, hp, stetoskop dan sebagainya. Dan Kemudian anak di suruh mengambil barang yang di sukainya. Dimana barang yang dipilih si anak merupakan gambaran dari kegemaran dan juga pekerjaan yang diminatinya kelak setelah dewasa.
  5. Prosesi selanjutnya adalah sebar beras kuning yang telah dicampur dengan uang logam untuk di perebutkan (dalam hal ini yang menaburkan adalah di wakili bapaknya) , prosesi ini menggambarkan agar si anak kelak menjadi anak yang dermawan, suka bersedekah dalam lingkungannya.
  6. Prosesi terakhir yaitu si anak dimandikan dengan bunga setaman Lalu mengenakan baju yang baru. Tujuannya yaitu agar si anak tetap sehat, membawa nama harum bagi keluarga, punya kehidupan yang layak, makmur dan berguna bagi nusa bangsa.

Setelah dimandikan, si anak diganti bajunya dengan baju yang baru. Diacara ini, si anak diumpamakan ganti baju sampai 7 kali, dicari yang cocok di badannya. Akhirnya baju yang terakhirlah yang cocok untuk dia. Setelah semua Prosesi tersebut dilaksanakan, kemudian memotong Tumpeng yang di lengkapi dengan sayur urap (hidangan yang terbuat dari sayur kacang panjang, kangkung dan kecambah yang diberi bumbu kelapa yang telah dikukus atau disangrai) dan ayam. Tumpeng melambangkan permohonan orang tua kepada sang Maha Pencipta agar si anak kelak menjadi anak yang berguna, sayur kacang panjang bermakna simbol umur agar si anak berumur panjang, sayur kangkung bermakna dimanapun si anak hidup dia mampu tumbuh dan berkembang, sayur kecambah merupakan simbol kesuburan dan ayam mengartikan kelak si anak dapat hidup mandiri.

Source http://pemanduwisatabudaya2015.blogspot.co.id/ http://pemanduwisatabudaya2015.blogspot.co.id/2016/01/tugas-3-pariwisata-sejarah-dan-budaya_3.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.