Pranata Mangsa

0 38

Pranata Mangsa

Pranata Mangsadalah pengaturan waktu, yaitu kalender Jawa asli sebelum mendapat pengaruh Hindu. Pembagian waktu memperhatikan posisi matahari terhadap bumi dan gemerlapnya bintang-bintang yang kelihatan dari bumi. Dalam satu tahun ada 365 hari disebut tahun wuntu yaitu tahun panjang dan 364 hari disebut tahun wastu yaitu tahun pendek. Tahun Jawa ada 8, yaitu: Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir.

Setiap delapan tahun sekali dihitung sebagai satu windu dengan nama-nama windu (berurutan) sebagai berikut ini :

  1. Windu Alip (Jumlah hari = 354 hari)
  2. Windu Ehe (Jumlah hari = 355 hari)
  3. Windu Jimawal (Jumlah hari = 354 hari)
  4. Windu Je (Jumlah hari = 354 hari)
  5. Windu Dal (Jumlah hari = 355 hari)
  6. Windu Be (Jumlah hari = 354 hari)
  7. Windu Wawu (Jumlah hari = 354 hari)
  8. Windu Jimakir (Jumlah hari = 355 hari)

Total jumlah hari dalam satu abad jawa yang terdiri atas delapan windu adalah 2835 hari. Penggunaan pranata mangsa lebih diaktifkan kembali pada pertengahan abad 19, perhitungan dengan cara pranata mangsa telah dipraktekkan sejak jaman dulu, terutama oleh petani dan nelayan, karena  memang cocok untuk kegiatan di bidang-bidang tersebut. Dalam satu tahun ada 4 usum (musim), tiap usum terdiri dari 3 mangsa, jadi setahun terdiri dari 12 mangsa. Lama tiap mangsa tidak sama, tergantung dari ukuran pecak, yaitu  panjangnya bayangan orang di tengah hari, satu pecak kira-kira 25 cm. Empat musim adalah: ketiga, labuh, rendheng, mareng. Dua belas mangsa adalah: 1. Kasa (Kartika), yaitu mangsa

1, umurnya 41 hari, mulai 22 Juni – 1 Agustus Bintang sapi gumarang, matahari di titik utara. Tandanya: Sotya murca saking embanan, maksudnya daun-daun pada pohon berguguran (banyak pohon kering).

2. Karo (Pusa), yaitu mangsa 2, umurnya 23 hari, mulai 2 Agustus – 24 Agustus Bintang Tagih, tandanya: bantala rengka, maksudnya tanah pertanian kering,tanah pecah berlubang-lubang.

3. Katelu / Katiga (Manggasri), yaitu mangsa 3, umurnya 24 hari, mulai 25 Agustus – 17 September Bintang Lumbung, tandanya: Suta manut ing bapa, maksudnya: pohon sebangsa ubi-ubian mulai tumbuh merambat.

4. Kapat (sitra), mangsa 4, umurnya 25 hari, mulai 18 September – 12 Oktober Bintang Jaran Dhawuk, tandanya : Waspa kumembeng jroning kalbu, maksudnya sumber air kering, amat kekurangan air.

5. Kalima (Manggakala),yaitu mangsa 5, umurnya 26/27 hari, mulai 13 Oktober – 8 November Bintang Banyak Angrem, matahari tepat lurus di atas Pulau Jawa. Tandanya: Pancuran mas sumawur ing jagad, maksudnya mulai turun hujan lebat.

6. Kanem (Naya),yaitu mangsa 6, umurnya 43 hari, mulai 9 November – 21 Desember Bintang Gotong mayit, tandanya: rasa mulya kesucian, maksudnya buah-buahan telah banyak.

7. Kapitu (Palguna), yaitu mangsa 7, umurnya 43 hari, mulai 22 Desember – 2 Februari Bintang Bimasakti – Milkway, matahari di titik selatan. Tandanya: Wisa kentar ing maruta, maksudnya banyak penyakit atau masyarakat banyak yang menderita sakit.

8. Kawolu (Wisaka), yaitu mangsa 8, umurnya 26/27 hari, mulai 3 Pebruari – 30 April Bintang Wulanjar Ngirim (Centauri), tandanya: Anjrah jroning kalbu, maksudnya banyak binatang kucing kawin.

9. Kasanga (Jita),yaitu mangsa 9, umurnya 25 hari, mulai 1 Maret – 25 Maret Bintang Wuluh, matahari lurus di atas Pulau Jawa. Tandanya: wedhare wacana mulya, maksudnya binatang gangsir atau jangkrik mulai ngenthir (bernyanyi).

10. Kasepuluh / Kadasa (Srawana),yaitu mangsa 10, umurnya 24 hari, mulai 26/27 Maret – 18 April Bintang Waluku (Orion), tandanya: Gedhong minep jroning kalbu, maksudnya burung-burung mulai bertelur.

11. Kadhestha, kasawelas (Pandrawana), yaitu mangsa 11, umurnya 23 hari, mulai 19 April – 11 Mei Tidak punya bintang, tandanya: Satya sinarawedi, maksudnya telur mulai menetas dan burung-burung mulai ngloloh ‘memberi makan anaknya’.

12. Kasadha, karolas (Asuji), yaitu mangsa 12, umurnya 41 hari, mulai 12 Mei Tidak punya bintang, tandanya: Tirta sah saking sesama, maksudnya udara amat dingin. Mangsa 11 & 12, tidak punya bintang karena sudah terpengaruh budaya Hindu. Mangsa 11 dari bulan Hindu Jiyesha menjadi Dhestha, mangsa 12 dari bulan Hindu Sadha. Pranata mangsa dibagi menjadi empat musim berdasarkan adanya 4 unsur kosmis – jagad, yaitu: 1. Katiga, – banyak angin – pengaruh unsur Maruta (angin)

2. Labuh, – banyak kabaran/penyakit – pengaruh unsur Agni/api

3. Rendheng, – banyak hujan – pengaruh unsur Tirta (air)

4. Mareng, – banyak rejeki dari bumi – pengaruh unsur Bantala (bumi) Pembagian musim dan mangsa ini sangat tepat untuk tanah Jawa, tanah pertanian dan perkebunan yang subur diolah pada tepat waktu, sehingga tidak heran orang Jawa telah mengenal sistem persawahan basah sejak lama sebelum Masehi – (3.000 SM), yaitu ilmu perbintangan – astronomi juga sudah dikenal oleh leluhur tanah Jawa.

Nama hari yang dikenal pada saat itu adalah hari pasaran 5 atau pancawara, yang juga berhubungan dengan unsur kosmis, jagad gedhe dan jagad cilik. Hari pasaran 5 menunjukkan letak/susunan peta dhusun di Jawa yang berhubungan dengan kiblat/arah angin. Empat dhusun yang terletak di sebelah timur, selatan, barat dan utara, mengitari satu dhusun di tengah yang disebut dhusun manca atau dhusun pancer. Setiap dhusun diketuai oleh seorang lurah, yang dipanggil Ki,dari kaki yaitu kakek, kelima dhusun tersebut diketuai oleh seorang Kliwon, yang berkedudukan di dhusun pancer, gelarnya adalah Buyut.

Warna- warna kosmis: angin putih, api merah, air kuning, bumi hitam; jadi dalam pasaran 5 atau pancawara dikenal Legi atau manis – putih, Paing – merah, Pon – kuning, Wage – hitam, Kliwon/kasih –gabungan warna-warna tersebut. Selanjutnya hari pasaran juga menunjukkan sikap hidup yang baik yang perlu dilakukan. Legi artinya manis atau harum, tempatnya di timur = purwa – wetan = wiwitan = permulaan, maksudnya kebahagiaan itu bermula dari sikap susila yaitu orang wajib berulah manis, sopan dan tanpa pamrih (ikhlas).

Paing dari kata pae, artinya jangan bersikap memusuhi (Jawa: sulaya), tempatnya di selatan = kidul = daksina = bodoh, memberi petunjuk bahwa tindakan yang bodoh menyebabkan permusuhan. Pon artinya pong – kosong, tempatnya di barat – kulon. Barat itu angin, hawa, menggambarkan orang yang suka menghisap hawa sarinya alam suci, yaitu orang yang mengosongkan ciptanya dari hal-hal yang bersifat keduniawian, yang dicari hanyalah ketentraman. Wage dari bage = bagya = selamat, tempatnya di utara = lor = paksima artinya pandai.

Orang harus pandai mengontrol kemauan yang menuju keserakahan atas harta benda dan seks, supaya hidupnya tidak nista, dikalahkan oleh gebyar harta dan kenikmatan seks belaka. Kliwon berasal dari kali dan won, kali artinya eling = padhang = terang; won dari kata wan = lebih, maksudnya bijaksana, tempatnya di tengah, jadi orang sebaiknya dengan bijaksana mampu menguasai diri, memberi maaf, mampu membedakan jahat dan baik, salah dan benar. Pada waktu itu susunan negeri masih bersifat lokal, bisa disebut masa kabuyutan, karena sistem kerajaan adalah pengaruh Hindu. Lalu mulai dikenal adanya hari tujuh atau Saptawara, yaitu:

1.Radhite – Matahari – Ahad

2. Soma – Rembulan – Senin

3. Anggara – Mars – Selasa

4. Buda – Merkurius – Rabu

5. Respati – Jupiter – Kamis

6. Sukra – Venus – Jum’at

7. Tumpak – Saturnus – Saptu Dalam praktek seperti yang terjadi saat ini penggunaan hari tujuh digabung dengan hari pasaran, sehingga memperjelas perhitungan selapanan, yaitu setiap 35 hari.

Misalnya untuk hari nepton seseorang dan dipergunakan untuk perhitungan-perhitungan tertentu. Selain Saptawara, juga ada Sadwara, yaitu hari enam, yang disebut Paringkelan yaitu Tungle, Aryang, Warungkung, Paningron, Uwas dan Mawula, sehingga timbul perhitungan satu mangsa terdiri dari gabungan Sadwara dan Pasaran Lima yaitu 30 hari.

Yang populer penggunaannya adalah Sukla Paksa, yaitu saat bulan mulai kelihatan hingga saat purnamasidhi dan Kresna Paksa adalah saat purnamasidhi sampai bulan tidak kelihatan. Ada juga Nawawara, yaitu hari sembilan, meskipun penggunaannya tidak populer, yaitu:

1. Dangu

2. Jagur

3. Gigis

4. Kerangan

5. Wogan

6. Tohari

7. Tulus

8. Wurung

9. Dadi Nama-nama dalam Sadwara dan Nawawara adalah nama-nama asli orang Jawa yang umum dipakai pada zaman kuna yaitu kabuyutan.

Source https://catatanwongndeso.wordpress.com https://catatanwongndeso.wordpress.com/2014/02/15/pengaturan-waktu-jawa-asli-pranata-mangsa/

Leave A Reply

Your email address will not be published.