“Prabu Roro”, Kesenian Legendaris Yang Nyaris Hilang

0 79

Tari Praburoro adalah tarian yang dramatis lainnya dari Banyuwangi. Tarian ini merupakan hikayat dari Amir Hamzah, tentang cerita rakyat sejak masuknya Islam ke Indonesia. Kata Praburoro di ambil dari Roro Rengganis, karena sering membawakan lakon dengan tokoh Roro Rengganis atau Praburoro. Kesenian ini memang lama menghilang, karena jarang sekali ditemui pada panggung-panggung yang biasa mereka lakonkan. Di era tahun 90 an silam, pertunjukan yang menitik beratkan pada percakapan drama dan kisah atau cerita kolosal ini sering kali muncul pada acara hajatan warga.

Praburoro dikatakan sebagai perpaduan antara budaya animisme dan dinamisme, Hindu dan Islam, karena pelaksanaan pentas Praburoro selalu disertai dengan sesaji dan pembakaran dupa yang menjadi bukti adanya kebudayan animisme dan dinamisme yang biasa digunakan untuk mengasapi sebagian kostum dari para tokoh utama dan agama Islam bila dikaji dari cerita yang sering dibawakan. Teater tradisional Praburoro sebagai seni pertunjukan mengandung banyak fungsi, nilai, simbol yang dapat menggambarkan keadaan sosial budaya masyarakat pendukungnya. Kehadiran kesenian ini juga mengandung banyak nilai yang dapat dimanfaatkan bagi masyarakat pendukungnya.

Perkembangan Kesenian Prabu Roro Di Era Sekarang

Adanya kemajuan zaman yang semakin pesat, mendorong masyarakatnya untuk bersikap praktis dan ekonomis. Faktor tersebut juga berimbas pada bentuk kesenian tradisional di daerah beserta senimannya, khususnya kesenian Praburoro. Para seniman merasa harus memutar otak agar kesenian warisan nenek moyang tak hilang ditelan kemajuan zaman dan arus informasi yang begitu cepatnya memberikan dampat pada tiap sendi kehidupan masyarakat. Beberapa hal yang dilakukan oleh para seniman untuk tetap mempertahankan eksistensi dari kesenian Praburoro ini adalah memberikan bentuk sajian yang baru kepada penonton tanpa menghilangkan pakem yang sudah ada. Kesenian Praburoro yang dikelola oleh Sanggar Langen Sedya Utama dibentuk oleh seniman Banyuwangi yang diperkirakan pada tahun 1933. Segala aspek pendukung yang dibutuhkan dalam pertunjukan pada saat itu sangatlah sederhana bahkan cenderung serba terbatas.

Pada saat ini, kesenian Praburoro mulai dikemas dengan sistem yang lebih modern sesuai dengan perkembangan zaman dan sosial masyarakat sekitarnya. Baik pada penataan panggung, tata rias, cerita maupun dramatisasinya. Perubahan tersebut dikarenakan adanya perubahan cara hidup, pergantian generasi, keadaan alam dan pendidikan di Desa Cluring dan sekitarnya

 

Source "Prabu Roro", Kesenian Legendaris Yang Nyaris Hilang "Prabu Roro", Kesenian Legendaris Yang Nyaris Hilang

Leave A Reply

Your email address will not be published.