Pono Wiguno Seniman Topeng Tradisi Klasik Gaya Yogyakarta

0 103

Dia adalah Supana yang sekarang bergelar nama Mas Penewu Pono Wiguno dari Kraton Yogyakarta, seorang seniman topeng tradisi klasik gaya Yogyakarta yang berawal menekuni ini semua, belajar dari kakeknya (Ki Warno Waskito) yang ahli dalam pembuatan topeng di Yogyakarta.

Dari kecil bernama Supana, lahir di Bantul 12 September 1960, dengan alamat Diro Rt 57, Pendowoharjo, Sewon Bantul, Yogyakarta. Sejak kecil diasuh oleh kakeknya, yang setiap hari bergulat dengan kegiatan membuat topeng, “Pono Wiguno kecil” sering grusui (mengganggu) ketika kakeknya sedang berkarya. Ya namanya anak-anak sifatnya dimana-mana pasti sama. Tapi dari sinilah semua ini berawal.

Mulai belajar membuat topeng dari tahun 1971 dari yang masih kecil-kecil dan belum begitu serius. Tapi ketika ada tamu kakeknya membeli topeng buatannya, beliau mulai berpikir bahwa ini semua bisa dibuat serius karena bisa menghasilkan uang.

Profesi seniman topeng ini berlanjut terus yang kemudian didukung dengan pendidikan formal, dimana beliau melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Industri Kerajinan Muja Muju Yogyakarta dengan mengambil jurusan ukir kayu.

Tamat dari sini, kemudian melanjutkan di ASTI Yogyakarta (ISI Yogyakarta) mengambil jurusan Kriya Kayu, tapi disini hanya 3 semester saja, disebabkan karena tidak ada yang mengarahkan dan faktor biaya. Lepas dari ISI Yogyakarta malah ditawari di STSI Solo (ISI Solo) menjadi asisten Dosen yang dijalani selama 5 tahun. Mau diangkat menjadi pegawai negeri malah tidak mau karena tidak mau terikat dengan institusi, ingin bebas sebagai seniman.

Pendidikan formal yang dijalaninya memang tidak ada hubungannnya dengan seniman topeng. Tapi ada beberapa ilmu yang didapatnya, mulai dari teknik konstruksi dan anatomi. Inilah ilmu-ilmu yang ada hubungannya dengan topeng.

Supana mengabdi di Karton Yogyakarta sejak tahun 1976, waktu itu beliau kelas 2 SMP. Beliau diterima Kraton karena pihak Kraton melihat anak kecil yang mempunyai keahlian khusus. Awalnya dulu diajak oleh kakak kakeknya untuk mengabdi di Kraton, tapi waktu itu belum mau, tapi setelah kakak kakeknya meninggal, beliau malah punya keinginan sendiri untuk mengabdi di Kraton bersama sepupunya (Warsono). Dan pakaian yang dikenakan glungsur (bekas) yang digunakan kakeknya.

Setelah diangkat menjadi abdi dalem Kraton, beliau sekarang bernama Mas Penewu Pono Wiguno. Bahkan beliau beberapa kali ikut pameran topeng yang diadakan pihak Kraton yang sering digelar dalam rangka menyambut bulan Maulaud Nabi yang digelar di Pagelaran Siti Hinggil.

Karya topeng Pono Wiguno bahkan di akui oleh seniman drama tari topeng NOH Jepang. Hal ini manakala hasil karyanya di pakai oleh Didik Nini Thowok ketika perform di Jepang. Perkenalan dengan Didik Nini Thowok sudah lama sekali, ketika Didik Nini Thowok ingin dibuatkan topeng Ceribonnya yang pecah.

Kemudian dibuatkan oleh kakeknya, tapi topeng yang pecah malah diperbaiki oleh Pono Wiguno dan bisa pulih. Tapi karena ditinggal oleh pemesannya selama 3 tahun karena tour perform di Eropa, kedua topeng ini malah laku. Sepulang dari tour Eropa, topeng tersebut ditanyakan oleh Didik Nini Thowok. Karena merasa bertanggung jawab maka kemudian dibuatkan topeng persis yang di minta Didik Nini Thowok.

Rata-rata topeng yang dibuat memakai kayu Jaranan, yang banyak tumbuh diseputar sungai dan pohonnya cepat tumbuh. Banyak dijumpai di Purworejo sampai Kebumen. Kayu ini mempunyai keistimewaan, diantaranya ulet, empuk , ringan dan tidak dimakan oleh teter.Kolektor topeng buatannya kebanyakan adalah para penari topeng klasik maupun kontemporer.

Dalam membuat topeng yang dipakai para penari, beliau hanya dengan melihat wajahnya sudah bisa langsung membuat dengan feelingnya, tidak usah memakai alat metrik wajah. Ilmu anatomi wajah yang didapat di dapat secara formal di ISI Yogya membantu sekali menentukan ini semua. Tapi semua ini melalui proses yang panjang.

Dalam sebuah tari yang mana topeng sebagai properti, harus bisa memberikan karakter yang bagus bagi penarinya sehingga mempunyai nilai plus. Oleh sebab itu Pono Wiguno berpendapat bahwa seorang seniman topeng harus belajar menari sehingga bisa merasakan  langsung, selain itu beliau juga belajar pewarnaan, teater, dalang, ketoprak, wayang orang yang sifatnya semua itu sebagai pendukung dalam pekerjaannya.

Dalam membuat trade mark pada topengnya, Pono Wiguno memadukan antara gaya kakeknya (Ki Warno Waskito), gaya topeng Pedalangan dan gaya Onder Tiwi Kromo (seorang Belanda yang tinggal di Muntilan) dengan senimannya bernama Kiai Cakra yang hasilnya sangat disukai oleh HB VII. Dari ketiga gaya ini beliau satukan sehingga sampai sekarang menjadi trade marknya.

Dalam membuat topeng beliau mengikuti karakter warna bagi orang Jawa, yaitu warna merah yang berarti amarah, hitam (aluamah), kuning (Supiah) dan putih (Mutmainah). Dan kadang ditambah dengan warna hijau yang menunjukan kesuburan, kesejukan, kedamaian dan keceriaan serta emas sebagai symbol keagungan.

Dari keahliannya ini beliau sering dipanggil diluar negeri, seperti Cina, Jepang, Taiwan, Hongkong untuk workshop pembuatan topeng. Bahkan ditempatnya sering sekali digunakan sebagai workshop bagi orang-orang yang berminat dalam membuat topeng baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

“ Tolak ukur puas tidaknya beliau ketika hasil karya topengnya itu dihargai, dikagumi dan pemakainya merasa senang. Inilah pokoknya !!! Manusia itu hidup harus dapat bermanfaat bagi orang lain”, ujar Pono Wiguno.

Source https://myimage.id https://myimage.id/pono-wiguno/
Comments
Loading...