Pitutur Jawa : Wani Silit Wedi Rai Dan Tumbak Cucukan

0 67

Pitutur Jawa : Wani Silit Wedi Rai Dan Tumbak Cucukan

Wani: Berani; Silit: Anus; Wedi: Takut; Rai: Wajah. “Silit” tempatnya di bagian belakang sedangkan “Rai” di bagian depan. Jelas sekali bahwa ungkapan ini berarti orang yang beraninya hanya dari belakang. Bukan berati orang yang menusuk kita dari belakang. Ungkapan ini tidak ada kaitannya dengan serangan fisik dari belakang, tetapi serangan mulut pada saat yang bersangkutan tidak ada di hadapan kita.

Wani Silit Wedi Rai

Hal seperti ini banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kita ambil contoh ketika ibu-ibu sedang kumpul, bisa kumpul terencana seperti waktu arisan, atau kumpul tidak terencana misalnya sore-sore di depan rumah. Semula dua orang lama-lama bisa duabelas orang.

Kebanyakan “ngrasani” ibu lain yang tidak ada di situ. Mulai hal kecil sampai hal besar, mulai hal umum sampai hal khusus. Ketika ibu yang dirasani tahu-tahu muncul, mungkin karena perasaan tidak enak lalu keluar rumah, atau secara kebetulan saja, pembicaraan pun tahu-tahu beralih. Bahkan mungkin memuji-muji ibu yang tadi dirasani jelek.

Apalagi di kantor, “ngrasani” bos adalah hal biasa. Bos yang baik pun bisa dirasani. Dan susahnya jarang ada orang “ngrasani” hal-hal yang baik. Mulai dari perilaku pribadi sampai perilaku kepemimpinan, atau membanding-bandingkan dengan bos terdahulu.

Padahal bos yang dulu pun juga dirasani jelek. Ketika dipanggil boss atau rapat dengan boss, yang tadinya merupakan bahan “rasan-rasan” tidak muncul samasekali. Kata-kata yang banyak terdengar hanyalah: “baik, Pak”, atau “Siap Ibu”.

Di dunia pewayangan pun hal ini berlaku. Pada waktu Korawa selesai mengikuti paseban, setelah keluar kemudian menyiapkan barisan, Ki Dhalang dengan mahirnya menampilkan tokoh-tokoh yang “wani silit wedi rai” ini.

Disitu ada patih Sangkuni, Dursasana, Citraksa, Citraksi, Durmagati dan lain-lain. Kalau nanti ketemu tokoh Pandawa, seperti Gatutkaca atau Antasena, sesumbarnya seperti membelah langit. Untuk mengalahkan “sipil” kata orang Jogja. Ketika ketemu betul, belum berperang sudah lari.

Tumbak Cucukan

“Ngrasani” itu nikmat, “wani silit wedi rai” itu pengecut yang aman, sepanjang tidak ada diantara kita orang yang “tumbak cucukan”. (Tumbak: Tombak; Cucuk: paruh burung). Yaitu orang yang suka “wadul-wadul” atau mengadu.

Mungkin ia malah memancing-mancing untuk memperoleh bahan “wadul” nya. Orang “tumbak cucukan” biasanya sudah diketahui teman-temannya. Ia juga jadi bahan rasanan tersendiri. Dia juga punya kenikmatan tersendiri kalau bisa “wadul” dan yang “diwadulkan” bisa saja lebih besar dari ceritera yang digossipkan. Wadul tidak hanya kepada boss tetapi juga bisa kepada teman yang lain. Ia bisa dianggap sebagai mata-mata atau tukang adu domba ketika kemudian ia “wadul” sana sini.

Kesimpulan

Hidup ini mestinya jangan menjadi keduanya, “wani silit wedi rai” dan “tumbak cucukan”. Persaudaraan bisa rusak, hubungan atasan bawahan juga bisa kacau. Hidup sudah penuh masalah, jangan menambah masalah lagi dengan gossip dan adu domba

Source http://iwanmuljono.blogspot.com/ http://iwanmuljono.blogspot.com/2011/11/wani-silit-wedi-rai-dan-tumbak-cucukan.html
Comments
Loading...