Pitutur Jawa Tembang Ilir – Ilir : Kisah Empat Babak

0 274
Sepintas tembang ini sama halnya “Gundhul Gundhul Pacul” dianggap tembang dolanan anak-anak saat terang bulan. Bagi orang yang mengerti bahasa Jawa, bahasanya termasuk sederhana walaupun tidak se simple “Gundhul Gundhul Pacul. Lirik lagunya sebagai berikut:
Lir-ilir, lir-ilir tandure wis sumilir; Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar; Cah angon-cah angon penekna blimbing kuwi; lunyu-lunyu peneneken kanggo mbasuh dodotira; Dodotira, dodotira kumitir bedhah ing pinggir; dondomana jlumatana, kanggo seba mengko sore; Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane; ya suraka, surak hiya.

BABAK PERTAMA: BANGUNLAH, TUGAS MENANTI

Episode pertama adalah: “Lir-ilir, lir ilir tandure wis sumilir; tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar”. “Nglilir” adalah bangun dari tidur. “Tandur” adalah tanam atau tanaman karena disebut sebagai “tandure”. Adapun “sumilir” berasal dari kata “silir” dengan sisipan “um” yang berarti ada gerakan angin sepoi-sepoi. 

 

BABAK KE DUA: AWAS, HIDUP BANYAK RINTANGAN

Episode kedua adalah: “Cah angon, cah angon penekna blimbing kuwi; lunyu-lunyu peneneken kanggo mbasuh dodotira”. Yang dimaksud dengan “cah angon” adalah “bocah angon” atau anak gembala. “Penekna” adalah tolong panjatkan (menek: memanjat). “blimbing kuwi” maksudnya pohon blimbing itu. “Lunyu: licin. Jadi “lunyu-lunyu peneken” berarti walaupun licin panjatlah. Kanggo: untuk; Mbasuh: mencuci; Dodot: kain panjang, termasuk “formal dress”  yang dipakai seperti sarung; Ira: kata ganti empunya; Dodotira berarti pakaianmu. “Kanggo mbasuh dodotira”maksudnya untuk mencuci pakaianmu. Secara keseluruhan dapat diterjemahkan sebagai berikut: “wahai anak gembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu; walau licin, panjatlah untuk mencuci pakaianmu”. Pada jaman dulu blimbing memang dipakai untuk mencuci kain.

 

Yang menarik disini adalah: Kita meminta anak gembala untuk mengambil blimbing buat mencuci pakaiannya sendiri. Dengan “warning” awas licin. Mengapa “cah angon?” kok bukan “Pak Dengkek” atau “Man Doblang” misalnya. “Bocah angon” dalam hal ini bukan sekedar anak remaja tanggung penggembala kambing, atau bebek. “Bocah angon” adalah pemimpin. Blimbing adalah buah bersudut lima. Rahasianya terletak pada mencari hal apa yang mempunyai unsur “lima”. Pada jaman sekarang Bangsa Indonesia mempunyai Dasar Negara Panca Sila. Tembang Ilir-Ilir diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Saat itu “Panca Sila” belum lahir. Berarti yang dimaksud dengan “blimbing” adalah “Rukun Islam” yang lima: Syahadat, Shalat lima waktu, Puasa, Zakat dan Haji. Untuk mencapai yang lima itu, memang rintangannya banyak. Tetapi bukankah sudah dipesan: “Lunyu-lunyu peneken”.

BABAK KE TIGA: HARUS SIAP BILA SEWAKTU-WAKTU DIPANGGIL

Episode ke tiga adalah: “Dodotira, dodotira kumitir bedhah ing pinggir; dondomana jlumatana, kanggo seba mengko sore”. “Kumitir bedhah ing pinggir” kurang lebih berarti: rusak, robek di tepinya. Dondomana: jahitlah; Jlumatana: tisiklah; Kanggo seba: Untuk menghadap; Mengko sore: nanti sore. Arti selengkapnya sebagai berikut: Pakaianmu rusak, robek ditepinya; Jahitlah, tisiklah, untuk menghadap nanti sore.

 

Untuk apa? Disebutkan: “Kanggo seba mengko sore”“Seba” adalah kata lain untuk “menghadap”, dengan pengkhususan “menghadap raja”. Oleh sebab itu ada tempat yang disebut “paseban”. Siapakah raja yang dimaksud? Pimpinan kita? Bupati? Gubernur? Presiden? Kita lihat lagi kalimat lengkapnya: “Kanggo seba mengko sore”. Ya, “mengko sore” atau nanti sore. Adakah paseban dilaksanakan pada waktu senja? Jelas tidak ada. Sore adalah saat matahari tenggelam. Dalam kehidupan manusia, dapat diartikan saat kita sudah sampai ajal, saat kembali kepada “Al Chaliq, Sang Maha Pencipta. Jadi: pakaian (Imtaq) kita yang bersih dan tidak rusak adalah bekal kita menghadap Allah SWT setelah sampai pada janji kita. BABAK KE EMPAT: SENYAMPANG MASIH ADA WAKTU, JANGAN SIA-SIAKAN

Episode ke empat adalah: “Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane; ya suraka, surak hiya”. Mumpung: selagi; senyampang; Gedhe: besar; Jembar: luas; Kalangan: lingkaran (sering kita lihat rembulan di langit ada lingkatan luarnya, semacam “halo” inilah yang dimaksud dengan “kalangan” dalam kalimat tersebut). Surak: bersorak (karena gembira).

Episode terakhir ini juga mengingatkan: Senyampang masih ada waktu, selagi masih ada kesempatan, senyampang pintu hidayah masih terbuka, karena kita masih hidup (digambarkan dengan rembulan yang purnama dengan kalangan yang besar) perbaikilah keimanan dan ketaqwaanmu. Kalimat penutup adalah “Ya suraka surak hiya”. Tentusaja nanti saat datang panggilan dari Yang Maha Kuasa, orang yang menjaga iman dan taqwanya dengan baik, layak untuk menyambutnya dengan gembira.

Ternyata tembang Ilir-ilir bukan tembang dolanan biasa yang dilagukan saat terang bulan. Bahkan lagu religius. Bulan purnama, bulan kalangan, sampai saat ini masih ada, dan masih menyapa penghuni bumi dengan lembut, seraya berpesan “Mumpung gedhe rembulane”. Tetapi saat ini kelihatannya kita lebih tertarik pada gerhana bulan daripada bulan penuh.
Source http://iwanmuljono.blogspot.com http://iwanmuljono.blogspot.com/2011/12/tembang-ilir-ilir.html
Comments
Loading...