Pitutur Jawa : Tembang Dhayohe Teka

0 129

Masih Anak-Anak Dulu Kalau Sedang “Kumpul Bocah” Kemudian Belakangan Muncul Lagi Satu Teman, Bisa Saja Permainan Berhenti Sejenak Dan Kita Sambut Rame-Rame Dengan Menyanyikan:“Eee Dhayohe Teka; Eee Gelarna Klasa; Eee Klasane Bedhah; Eee Tambalen Jadah; Eee Jadahe Mambu; Eee Pakakna Asu: Eee Asune Mati; Eee Buwangen Kali; Eee Kaline Banjir; Eee Kelekna Pinggir”.

Dalam Hal Ini Ada Empat Kubu Yang Pendapatnya Beda Walaupun Pada Akhirnya Sampai Ke Tempat Yang Sama.

Ada Yang Rawuh: Tiga “Uh”

Yang Pertama Berpendapat Bahwa Sudah Menjadi Watak Orang Jawa Kalau Kedatangan Tamu Rumusnya Adalah “Tiga Uh” Yaitu “Lungguh, Gupuh Dan Suguh”. Banyak Rumah Orang Jawa Ada Tulisan “Sugeng Rawuh” Dalam Huruf Jawa Di Ruang Tamunya. Tamu Jangan Dibiarkan Berdiri Terlalu Lama, Segera Diaturi Lenggah (Lungguh). Karena Tembang Ini Tembangnya Rakyat Jelata Ya Digelarkan Klasa (Tikar) Sudah Hormat Sekali. Setelah Tamu “Lungguh” Maka Tuan Rumah Akan “Gupuh” (Sibuk) Untuk Menyiapkan “Suguh” (Suguhan Makanan Minuman). Dalam Tembang Ini “Gupuh”Nya Makin Menjadi-Jadi Ketika Ternyata Tikarnya Sudah Jebol Dan Seterusnya.

Harus Selalu Siap Menerima Tamu

Lalu Yang Kedua Lebih Analitik Dan Antisipatif. Dia Melihat Ada Masalah Dengan Tikar Yang Ternyata Jebol Dengan Rentetannya. Mungkin Lama Tidak Ada Tamu, Tikar Tidak Pernah Digelar. Bahkan Jadah Pun Sudah Bau. Intinya Tuan Rumah Kita Tidak Siap Menerima Tamu. Bisa Juga Tuan Rumah Memang Jarang Menerima Tamu. Tetapi Apapun Argumentasinya, Namanya  Tetap Tidak Siap Juga. Dengan Demikian Tembang Ini Membawa Pesan, Bahwa Kita Harus Siap Menerima Tamu Kapan Saja.

Tamu Jadi Terlantar

Adapun Yang Ketiga Adalah Pandangan Agak Sinis Tapi Benar. Lalu Dhayohnya Kan Tidak Ditemui Karena Kita Menjadi Sibuk Membuang Bangkai Anjing Di Kali Yang Ternyata Banjir. Si Tuan Rumah Adalah Orang Yang Tidak Punya Visi Dan Misi. Hidup  Tak Tentu Tujuan, Mana Yang Prioritas Mana Yang Bukan; Mulai Dari Dayoh, Klasa, Jadah, Anjing Sampai Ke Kali Banjir. Semua Jadi Sia-Sia Kalau Hidup Tanpa Rencana.

Apeslah Kita Kalau Tamunya  Malaikat Pencabut Nyawa

Terakhir Yang Ke Empat, Mungkin Ini Pendapat Orang Yang Sudah Usia Senja. Dhayohnyamelambangkan Malaikat Pencabut Nyawa, Malaikat Izrail.  Kita Harus Siap Menerima Kedatangannya, Tapi Tidak Segampang Itu (Baca “Tembang Ilir-Ilir”). Dalam Tembang “Dhayohe Teka” Ini Ketidak-Siapan Kita Digambarkan Sebagai “Klasa Yang Bedhah” Dan Seterusnya. Klasa Yang Bedhah Melambangkan Iman Dan Taqwa Kita Masih Bolong-Bolong; Kalau Seperti Ini, Apa Ikita Ya Siap Menghadap Al Chaliq?

Source http://iwanmuljono.blogspot.com http://iwanmuljono.blogspot.com/2011/12/tembang-dhayohe-teka.html
Comments
Loading...