Pitutur Jawa : Mulat Sarira Hangrasa Wani

0 55

Pitutur Jawa : Mulat Sarira Hangrasa Wani

Kalimat “Mulat Sarira Hangrasa Wani” adalah butir ke tiga dari “Tri Dharma”. Ajaran Sri Mangkunegara I yang kita kenal dengan nama Pangeran Sambernyawa. Butir pertama dan keduanya adalah “Rumangsa melu handarbeni” dan “Wajib melu hangrungkebi”. Kapankah kita akan “Hangrasa Wani?” Tumbuh rasa keberanian dalam diri kita? Tentu saja yang dimaksud adalah keberanian dalam pengertian “purun”. Sehingga kita tidak akan:

  1. “Mau  wani-wani tetapi rasanya wedi, disisi lain mau wedi-wedi tetapi sepertinya mampu
  2. Mau mengerjakan yang sulit sepertinya kok risikonya terlalu tinggi, tetapi kalau pilih mengerjakan yang gampang-gampang saja nanti dikatakan seandainya menang ora kondang, dan kalau kalah malah wirang
  3. Nekad tanpa petung sebagai orang yang “kaduk wani kirang deduga.” Pasti akan dikatakan “bonek” dan angka keberhasilannya juga rendah
  4. Mau melakukan sesuatu dengan sebelumnya bertanya: “Wani pira?”

“Hangrasa Wani” kita harus “Mulat Sarira” terlebih dahulu. “sarira” adalah badan. Maksudnya ya diri kita sendiri. Apa yang harus dilakukan diri sendiri sebelum “Hangrasa Wani?” Jawabannya adalah “mulat”. Pengertian umum “mulat” adalah “waspada”.

Jadi kita ukur diri sendiri “Mampukah kita?” Berarti kita harus melakukan “self introspection” berarti dalam hidup ini kita senantiasa harus punya “sense of introspection”. Kita harus menata apa yang kita pikirkan, kita ucapkan yang yang lebih penting lagi adalah apa yang kita lakukan”.

Ringkasnya kita harus selalu “mawas diri” sebelum melangkah. Perlu digarisbawahi bahwa berani mengatakan “tidak” adalah salah satu bentuk keberanian yang masih perlu ditingkatkan. Kalau sudah “Mulat Sarira” dan pikiran kita mengatakan “tidak”, mengapa yang kita lakukan justru sebaliknya? Berarti kita tidak melakukan “Mulat sarira”

Source http://iwanmuljono.blogspot.com/ http://iwanmuljono.blogspot.com/2012/10/ungkapan-jawa-dengan-wani-dan-mulat.html
Comments
Loading...