Pitutur Jawa : Mulat Sarira Dan Bisa Rumangsa

0 23

Pitutur Jawa : Mulat Sarira Dan Bisa Rumangsa

Manusia memang ketempatan sifat egois. Kata “Saya” adalah kata yang jauh lebih banyak diucapkan daripada “kita” atau “anda”. Semua yang paling baik dan benar adalah “saya” dan kalau ada yang tidak baik atau tidak benar maka itu adalah kapling “anda”.

Barangkali ada yang masih ingat ceritera masa kanak-kanak dulu tentang “putri salju”, sang ibu tiri yang setiap hari  bercermin di hadapan cermin ajaibnya: “Wahai cermin ajaib, siapakah wanita yang paling cantik? Jawaban selalu “andalah yang tercantik”, kecuali setelah kedatangan si putri salju. Tidak mau mengakui kelemahan diri ini tercermin pula dalam peribahasa Indonesia: “Buruk rupa cermin dibelah”.

Dalam kehidupan Jawa sebenarnya perilaku seperti di atas amat tidak disarankan. Masalahnya “Jawa panggonane semu” sehingga budaya Jawa tidak terus terang mengatakan kamu harus begini atau begitu, kamu kurang ini atau kurang itu.

Mulat Sarira Dan Bisa Rumangsa

Keduanya adalah ungkapan tingkat tinggi. “Mulat sarira hangrasa wani” adalah ajaran Sri Mangkunegara I, bagian dari tiga kalimat “Tri Dharma”, dimana sebelumnya diawali dengan “Rumangsa melu handarbeni dan Wajib melu hangrungkebi”.

Pengertian “mulat sarira” sendiri adalah menilai diri sendiri, atau introspeksi, baik keunggulan maupun kelemahan. Menilai keunggulan diri jauh lebih mudah daripada menilai kelemahan diri. “Mulat sarira” harus mampu menempatkan diri pada posisi tidak memihak.

Sehingga kita akan mencapai hasil “BISA RUMANGSA”, bisa sadar khususnya hal-hal yang kurang dari diri kita, sehingga bisa diperbaiki supaya lebih sempurna. Kalau perlu, kita minta penilaian orang lain. Hal itu tidak gampang sehingga tidak banyak yang mau.

Yang disuruh menilai juga merasa tidak enak dan ada kekhawatiran salah terima karena ia harus “Blaka” seperti Werkudara yang selalu “Cekak aos blaka suta” atau assertive. Karena “Jawa panggonane semu” maka amat sulit bagi orang Jawa untuk assertive atau blaka suta. Jadi kita kembali kepada diri kita sendiri, kita harus mampu “Mulat sarira” supaya “bisa rumangsa”

Source http://iwanmuljono.blogspot.com/ http://iwanmuljono.blogspot.com/2012/10/ngilo-githoke-dhewe-belajar-bisa.html
Comments
Loading...