Petilasan Ki Ageng Mangir di Wonoboyo, Bantul, Semerbak Misteri Keturunan Raja Brawijaya

0 228

Petilasan Ki Ageng Mangir di Wonoboyo, Bantul, Semerbak Misteri Keturunan Raja Brawijaya

Di daerah pinggiran Sungai Progo yang ada di Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, terdapat sebuah dusun yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Yogyakarta. Adalah Mangir, sebuah dusun yang diyakini menjadi desa tertua di Kabupaten Bantul. Berada jauh dari hingar bingar Kota Yogyakarta, ketika masuk ke dusun ini anda akan mendapati sebuah perkampungan khas Jawa. Di mana lingkungan tempat tinggal masih rimbun ditumbuhi aneka pepohonan, sehingga terasa sejuk saat berada di Mangir.

 

Bukan karena sekedar lingkungan yang masih asri, Mangir dikenal masyarakat luas karena di dusun ini dulunya Ki Ageng Mangir, anak turun Raja Brawijaya V, menetap. Banyak cerita yang menyelimuti kebaradaan Ki Ageng Mangir. Tetapi banyak sejarah yang mencatat bahwa Ki Ageng Mangir, berada di sebuah wilayah merdeka sehingga dia enggan tunduk terhadap kerajaan Mataram Islam dan Pajang. Sejarah panjang Mangir meninggalkan banyak petilasan bersejarah. Mulai dari watu gilang yang dipercaya sebagai singgasana Ki Ageng Mangir, hingga terdapat sebuah Langgar berdindingkan ayaman bambu yang berumur lebih dari 200 tahun.

 

Di tengah bangunan di desa Mangir yang sebagian besar telah permanen, keberadaan Langgar berukuran 4×5 meter ini menarik perhatian siapa saja yang berkunjung ke Mangir. Menurut Subakri (66) juru kunci Langgar, bangunan tersebut dibangun oleh Kakeknya, yang dulu merupakan seorang Kaum (pemimpin spiritual di masyarakat Jawa). “Dulu simbah dan bapak saya seorang kaum. Dulu simbah membangun Langgar ini untuk kegiatan ibadah, seperti salat dan mengajari anak-anak ngaji,” ungkap Bakri dengan menggunakan bahasa Jawa.

 

Hingga kini Langgar tersebut masih digunakan untuk ibadah salat lima waktu. Lebih lanjut Bakri menceritakan bangunan dan sebagian material bagunan tersebut masih asli. Yang telah mengalami pergantian adalah atap dan kayu reng. Untuk tiang penyangga yang berasal dari kayu nangka juga masih asli.

 

Bangunan Langgar ini disangga dengan beberapa buah umpak (penyangga tiang yang terbuat dari batu), sehingga bangunannya berbentuk panggung. Umpak yang digunakan juga masih asli. “Ini gedeknya (dinding anyaman bambu) pernah diganti, tetapi digantinya pun sudah lebih dari 100 tahun. Karena diganti sebelum saya lahir,” tambah pria yang akrab disapa Mbah Bakri tersebut. Sempat ada seorang tokoh masyarakat yang menawarkan bantuan untuk merenovasi dan merubah Langgar tersebut, tetapi Mbah Bakri tidak bersedia. Dia berkeinginan Langgar tersebut tetap berdiri kokoh sebagaimana bentuk aslinya. 

 

Persis di barat bagunan Langgar tersebut merupakan lokasi dari petilasan Watu Gilang, yang diyakini peninggalan Ki Ageng Mangir. Diceritakan Mbah Bakri, banyak cerita mengenai keberadaan Watu Gilang tersebut. Ada yang beranggapan bahwa batu tersebut adalah bagian dari singgasana Ki Ageng Mangir. Ada pula yang percaya bahwa petilasan ini merupakan umpak dari lemari Ki Ageng Mangir untuk menyimpan pusakanya. Selain situs Watu Gilang, di Mangir masih terdapat sejumlah situs yang usianya lebih tua dibanding kedatangan Ki Ageng Mangir I atau yang bernama Raden Jaka Balud alias Raden Megatsari di desa Mangir sekitar tahun 1478 Masehi.

 

Situs-situs tersebut diantaranya Situs Lembu Andini, Situs Linggayoni, dan Situs Batu Lumpang. Situs-situs tersebut menegaskan bahwa Mangir telah ada jauh sebelum kedatangan Ki Ageng Mangir, sehingga mempertegas bahwa Mangir adalah Desa tertua di Bantul.  Berbekal kekayaan sejarah yang ada, masyarakat Mangir kemudian membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Kelompok ini bertujuan mengenalkan kekayaan Mangir dan mengemasnya menjadi sebuah tujuan wisata minat khusus.

 

Iwan Purnama sebagai sekretaris Pokdarwis Desa Wisata Minggir, pihaknya terus berupaya agar Mangir semakin dikenal dan banyak wisatawan yang datang ke sana. Banyak orang yang beranggapan bahwa Ki Ageng Mangir adalah seorang pembangkang. Masyarakat Mangir percaya bahwa keberadaan Mangir lebih dulu ada sebelum Mataram Islam.

 

Sehingga Mangir adalah sebuah daerah merdeka yang kedudukannya sejajar dengan Mataram Islam.Selain sejarah mengenai Ki Ageng Mangir dan keberadaan beberapa petilasan, ada beberapa hal lain yang membuat Mangir layak dikunjungi. Di Desa Mangir ada pengrajin blangkon, pengrajin gula jawa yang masih membuat gula dengan cara tradisional itu yang membuat Desa tersebut dikunjungi 

Source Petilasan Ki Ageng Mangir di Wonoboyo, Bantul, Semerbak Misteri Keturunan Raja Brawijaya Tribunnews.com
Comments
Loading...