Pertunjukan Seni Beluk Di Banten

0 241
Kesenian Beluk biasanya dilaksanakan semalam suntuk yaitu sejak pukul 19.00 setelah shalat isya sampai menjelang subuh. Sepuluhan sebelum pelaksanaan, biasanya para pemain memelihara suaranya dengan minum ramuan jamu yang berkhasiat melegakan tenggorokan dan melakukan pantangan (tidak makan makanan berminyak dan beraroma bau ). Menjelang pelaksanaannya biasanya pimpinan memeriksa segala perlengkapan baik sesajen, wawacan dan seluruh pemain.
Sebelum acara dimulai terlebih dahulu yang punya hajat memberi sambutan maksud dipentaskan kesenian Beluk, dilanjutkan dengan ceramah tokoh masyarakat, lalu sambutan pimpinan kelompok tentang sejarah singkat kesenian Beluk, dan diakhiri dengan do’a dan pembakaran kemenyan yang dilanjutkan dengan meminta izin pada leluhur untuk hadir dalam penyajian kesenian Beluk serta minta maaf bila sesajen tidak lengkap, selanjutnya dengan membaca wawacan oleh dalang sebanyak 2 kali sebagai pembukaan. Setelah itu mulailah juru beluk atau tukang meuli mengembangkan bans demi bans kalimat yang dibacakan oleh dalang secara bergantian antara penembang yang satu dengan yang lain, setiap akhir tembang diselingi dengan alok secara rampak atau disebut madakeun atau ngagoongkeun.
Tema yang disajikan disesuaikan dengan tujuan penyajian, apakah untuk syukuran kelahiran, pernikahan atau sunatan, maka wawacannya perlu disesuaikan. Sedangkan etika pelaksanaannya tidak hanya dilakukan di atas panggug tapi dapat pula dilakukan di tengah rumah atau di serambi rumah dengan duduk bersila dipimpin oleh seorang dalang yang harus benar-benar hafal patokan- patokan pupuh. Sebelum penyajian, seluruh penonton hams tertib tidak boleh ngobrol makan atau merokok. Sehingga kesenian Beluk dilaksanakan secara khusuk.

Pemain kesenian beluk jumlahnya tidak tentu, pada zaman dahulu minimal 12-13 orang. Pada pelaksanaannya kesenian Beluk dipimpin oleh seorang Dalang yang membacakan kalimat kalimat dalam wawacan secara bergiliran antara penembang yang satu dengan penembang lainnya. Penembang ini disebut Tukang Meuli, tukang meuli ini tidak ditentukan secara khusus, siapa saja dia antara pemain yang ingin meuli kalimat yang dibacakan oleh dalang.

Disamping itu ada pula Tukang Naekeun yaitu petugas yang bertugas menaikkan nada nada yang sedang ditambangkan ke nada yang lebih tinggi, dan ini pun tidak ditentukan orangnya. Dalam kesenian Beluk diperlukan adanya sesajen lengkap, sebab bila tidak dipenuhi seseorang yang ada baik penonton maupun pemain atau yang punya hajat bisa kesurupan yaitu tidak sadar din karena ke dalam dirinya menitis makhluk gaib atau makhluk halus. 

Source https://sites.google.com/ https://sites.google.com/site/nimusinstitut/seni-beluk
Comments
Loading...