Pertunjukan Kesenian Tradisional Dari Banten : Debus

0 198

Pada masa lalu pertunjukkan debus dilaksanakan di suatu ruangan di dalam Masjid Agung Banten yang disebut “Gedung Tiyamah”, yaitu sebuah bangunan tak jauh dari Masjid Agung Banten.  Selama pertunjukan Debus berlangsung biasanya dipimpin oleh seorang atau dua orang guru yang disebut Khalifah atau Syekh yang bertanggung jawab terhadap kelancaran permainan dan menjaga keselamatan para pemain Debus. Pada mulanya permainan ini hanya dimainkan oleh kaum Adam, namun saat ini tidak jarang diminati pula oleh kaum perempuan.

Salah satu kesenian debus yang sangat popular di Banten adalah Seni Debus Surosowan Banten di Kecamatan walantaka, serang. Seni debus ini dipimpin oleh Muhammad Idris. Adapun persyaratan yang harus ditempuh oleh seorang pemain Debus disetiap penampilannya adalah sebagai berikut:

  1. Melakukan puasa selama 40 hari.
  2. Setelah Shalat Fardhu diharuskan membaca Bismillah sebanyak-banyaknya.
  3. Membaca wiridan sebanyak sebelas kali.
  4. Harus yakin dengan apa yang dipelajari dan diamalkannya.
  5. Menjauhi larangan yang telah ditetapkan oleh agama Islam seperti 5 M (Maling, Maen, Madon, Minum, Madat).

Jika syarat-syarat telah dipenuhi maka si pemain debus barulah diijinkan oleh syaikh atau guru tersebut untuk menampilka atraksi debus. Berikut ini tahapan-tahapan pertunjukkan debus yang biasa ditampilkan oleh Debus Surosowan:

  1. Pembukaan (gembung), yaitu pembacaan sholawat dan puji-pujian yang diiringi instrument music tabuh selama 2-3 menit.
  2. Pelaksanaan dzikir kepada Allah dan sholawat kepada Nabi dan para Sahabatnya sambil diiringi tabuh music.
  3. Beluk, yaitu nyanyian yang dibawakan oleh pendzikir dengan suara keras, melengking, bersahut-sahutan, dan diiringi dengan tabuh-tabuhan. Beluk ini dilakukan sampai dengan pertunjukkan berakhir.
  4. Silat, ketika beluk dimulai maka keluarlah satu atau dua orang pesilat yang mendemonstarsikan kebolehannya dalam bersilat.
  5. Permainan Debus, dua orang menggunakan peralatan debus: satu orang memegang Almadad (gedebus) ditempelkan keperutnya dan satu orang lagi memegang pemukul atau gada yang siap dipukul ke Almadad.
  6. Mengupas kelapa dengan menggunakan gigi, setelah kelapa dikupas dipecahkanmenggunakan kepala pemain debus.
  7. Menggoreng kerupuk atau telor diatas kepala.
  8. Membakar anggota tubuh dengan api dan menyisir rambut dengan api tanpa terbakar sedikitpun.
  9. Menaiki anak tangga yang terbuat dari golok yang tajam.
  10. Mamakan pecahan kaca dan arang.
  11. Gemrung, yaitu permainan instrument untuk mengakhiri pertunjukkan.

Dalam setiap penampilannya pemain dan pendukung debus menggunakan busana khas yang terlihat seperti busana yang dipakai oleh seorang pendekar. Busana yang digunakan dalam pertunjukkan seni debus didominasi warna hitam yang terdiri dari:

  1. Baju Kampret yaitu baju tanpa kerah yang mempunyai kantong 2 buah dibagian bawah kiri dan kanan, serta bertangan panjang.
  2. Celana Pangsi yaitu celana yang dibuat tanpa ikat pinggang, bila dipakai digulung seperti memakai sarung dan baru diberi ikat pinggang. Ukuran bagian kaki cukup lebar untuk memudahkan bergerak dalam beratraksi.
  3. Lomar (Ikat Kepala) terbuat dari kain batik, berbentuk segi tiga atau segi empat yang dilipat menjadi segi tiga.

Source https://triilma.wordpress.com/ https://triilma.wordpress.com/2010/07/16/kesenian-debus-surosowan-banten/
Comments
Loading...