budayajawa.id

Permainan Tradisional “Tiban”, Kabupaten Blitar

0 10

Permainan Tradisional “Tiban”, Kabupaten Blitar

Istilah “Tiban” berasal dari kata dasar “tiba” bahasa Jawa yang berarti “jatuh”. “Tiban mengandung arti timbulnya sesuatu yang tidak diduga semula, tidak diketahui bagaimana, Suatu analogi : “sumur tiban” = sumur yang semula tiada, suatu ke­tika tiba-tiba ada. Dukun tiban = seseorang yang mendadak menjadi dukun, mahir dalam segala jampi-jampi, padahal sebelumnya orang biasa saja. Dalam konteksnya dengan peristiwa di desa Purwokerto tersebut, maka tiban di sini menunjuk kepada hujan yang jatuh de­ngan sekonyong-konyong, tahu-tahu ada begitu saja, seolah-oleh jatuh dari langit yang dalam percakapan sehari-hari disebut udan tiban, udan = hujan”.  Latar Belakang Sosial Budaya.

Kapan timbulnya permainan tiban tidak dike­tahui. Yang pasti, menurut informasi, sudah beberapa generasi, jauh lebih dini. Hal ini dikaitkan dengan cerita yang menuturkan asal mula terjadinya Tiban itu sendiri. Jauh di masa lampau, demikian dikisahkan, entah kapan, da­taran lembah Brantas yang terapit oleh gunung Wilis dan Kelud sangatlah subur. Usaha pertanian menghasilkan panen yang sangat berlimpahan setiap tahun. Dan penduduk pun menjadi kaya raya. Tetapi manusia adalah manusia dengan segala kelemahannya. Keka­yaan materiil- yang berlimpahan ternyata membuat manusia lambat laun lupa diri, dan akhirnya dikuasai oleh rasa egoisme yang menjadi- jadi. Timbul persaingan pribadi antara satu dengan yang lain, yang sering kali berubah menjadi permusuhan, hingga menumbuhkan pe­rasaan tak aman lagi dalam hati masing-masing.

Orang dulu masih percaya benar akan kekuatan-kekuatan ma­gis, yang mampu memberikan kekebalan orang untuk menguasai dan sekaligus pun untuk perisai diri terhadap “kejahatan” lawannya ber­saing. Demikianlah rasa keguvuban dan kerukunan semula menjadi langka, dan orang sudah berprasangka buruk terhadap sesamanya. Pada suatu ketika datang musibah yang menimpa daerah yang subur makmur itu. Musim kemarau berkepanjangan. Hujan tak per­nah kunjung tiba. Sawah ladang menjadi kering, panen pun gagal. Timbul kelaparan dan penyakit. Banyak ternak dan penduduk yang mati.

Setelah Tiban menjadi tradisi dari tahun ke tahun, maka lambat laun mengalami perkembangan dan perubahan dalam pelaksanaan Peraturan permainan diadakan demi keamanan dan kejujuran bagi para pelakunya, sehingga pelaksanaannya tidak dilakukan secara serampangan asal jadi saja, melainkan harus mengikuti ketentuan-ketentuan obyektif yang sudah dimufakati bersama. Misalnya jarak antara yang melecut dan yang dilecut harus sedepa, tidak boleh jauh, karena lecutan dari jauh sangat berbahaya. Barangkali untuk mengon-trol jarak ini, para pelaku diharuskan mengenakan kain panjang yang dililitkan di pinggang sebagai sabuk, dengan simpulnya di depan, se-hingga pelaku yang mendapat giliran melecut dapat memegang ujung kain lawannya yang terjumbai dengan tangannya yang satu. Tetapi hal ini tidak selalu dipatuhi, mungkin karena sudah rutin, pelaku masing-masing sudah dapat mengatur dan menjaga sendiri jarak yang sudah ditentukan.

Source http://jawatimuran.net http://jawatimuran.net/2013/03/18/t-i-b-a-n-kabupaten-kediri-trenggalek-tulungagung-dan-blitar/
Comments
Loading...