Permainan Tradisional Patil Lele

0 1.230

Permainan Tradisional Patil Lele

Patil Lele adalah permainan tradisional yang ada di zaman dahulu ketika nenek kakek kita atau bahkan nenek dan kakek dari nenek kakek kita mainkan. Selain permainan ini tradisional permainan ini juga merakyat. Artinya tidak hanya kalangan orang-orang berduit saja yang mampu memainkannya. Permainan ini dapat menyatukan anak-anak orang kaya dan anak-anak orang tak punya.

Permainan di luar ruangan ini pernah sangat terkenal pada zamannya. Boleh disebut setiap permainan tradisional selalu menjadi tren pada saat-saat tertentu. Tidak bisa pada satu permainan dapat bertahan lama. Daya tahan yang tak cukup lama ini tentu dipengaruhi oleh sifat manusia yang mudah bosan dan selalu mencari hal baru. Namun ketika telah tidak ada lagi opsi untuk permainan yang lain biasanya akan kembali lagi ke permainan semula. Begitulah permainan tradisional ikut berputar dan dinamis sesuai kondisi zaman.

Mengenai asal asli patil lele sendiri tidaklah jelas namun yang  jelas permainan ini banyak ditemukan di daerah Jawa Timur dengan sebutan Patil Lele, Jawa Tengah dan Yogyakarta dikenal sebagai Benthink, di Bangka Belitung dikenal dengan Tak Tek, dan di beberapa daerah lain di Indonesia mengenal dengan sebutan gatrik, gatik, ataupun tal kadal.

Bentuk permainan ini adalah dengan menggunakan alat bantu berupa dua bilah kayu yang satu lebih panjang 3 kali atau bahkan 5 kali lipat dari yang lebih pendek. Kemudian untuk sarananya diperlukanlah lapangan atau alas tanah yang kemudian bisa digali untuk dibuat lubang yang besarnya sama dengan kayu yang berukuran pendek jika dimasukkan. Ada juga yang menggunakan ruangan tertutup namun luas untuk bermain patil lele dengan mensejajarkan dua buah batu bata yang tengahnya diberi jarak.

Kayu yang digunakan dulu adalah kayu dari ranting-ranting pohon yang kokoh semisal pohon jambu merah, pohon petai, ataupun ohon bambu. Sekarang karena banyaknya pegangan sapu ijuk bekas di rumah anak-anak memanfaatkannya untuk alat bantu permainan ini. Selain karena mudah mendapatkannya anak-anak juga tak perlu untuk menghaluskan sisi-sisi kayu karena kayu yang digunakan untuk pegangan sapu telah halus dan bahkan biasanya diberi sampul plastik.

Jawaban yang sering muncul ketika mendengar kata “patil lele” bagi kalangan awam pastilah senjata yang digunakan ikan lele (kumis) dibagian kepalanya yang mana digunakan oleh ikan lele untuk melindungi dirinya dari musuh. Namun memang tidak bisa dijelaskan dari mana asal kata “patil lele” untuk permainan ini. Yang masuk akal adalah karena kayu yang digunakan keras maka jika tidak hati-hati akan sakit jika terlempar keras dan mengenai pemain. Oleh karenanya dapat dianalogikan bahwa permainan patil lele memang patil ikan lele, kalau tak dijaga dan hati-hati akan terluka.

Cara Main

Pada tahap pra permainan dimulai haruslah membentuk dua kelompok. Sedikitnya ada satu orang dalam satu tim. Artinya permainan ini dapat dilakukan hanya dengan dua orang. Bahkan dengan tiga orang secara bergantian juga bisa dilakukan. Setelah terbentuk kelompok maka melakukan suit untuk menentukan giliran siapa yang pertama memainkan permainan. Ada yang tidak ikut main nantinya menggambar dua kotak di tanah sebagai pencatat skor dalam permainan.

Tahap pertama adalah menaruh bilah kayu kecil dengan posisi horisontal di atas lubang. Posisi yang baik untuk menaruh bilah kayu yang kecil ini terserah pada pemain yang melakukan. Kemudian dari arah belakang dengan bilah kayu yang panjang, kayu yang pendek tersebut di dorong sejauh-jauhnya. Regu yang jaga diharapkan teliti dan siaga pada bilah kayu yang pendek karena jika tertangkap tangan mendapatkan skor dan anggota regu yang main posisinya mati. Untuk menangkap dengan dua tangan mendapatkan skor 10. Menangkap dengan tangan kanan mendapat skor 15, dan menangkap dengan tangan kiri mendapat skor 25.

Namun jika tak tertangkap oleh grup jaga, grup jaga bisa menghentikan dengan kaki dalam bahasa permainan patil lele dikenal dengan “sarukan” (menghentikan dengan telapak kaki) dan “salmankan” (menghentikan dengan punggung kaki). Sebenarnya untuk kedua istilah tersebut diambil dari nama artis India yang membintangi film yang dulu pernah sangat populer. Sehingga untuk menambah kesan modern pada zaman itu digunakanlah istilah dengan nama artis. Setelah akhirnya kayu yang pendek jatuh ke tanah, barulah dibuat garis melempar yang diambil dari ujung terjauh jatuhnya kayu.

Kemudian regu jaga melempar dari garis lemparan yang tujuannya adalah mengenai kayu panjang yang ditaruh horisontal diantara lubang. Kayu yang panjang ditaruh sesuai yang dikehendaki pemain. Jika kayu kecil masuk dalam lubang, regu jaga mendapatkan skor 10 masuk dalam setengah lubang mendapat skor 5 dan otomatis anggota regu yang main mati. Mengenai kayu yang panjang walaupun hanya sedikit namun jika sudah kena pemain mati dan harus diganti dengan anggota yang masih hidup. Untuk istilah orang yang bermain dengan sangat teliti dan cermat biasanya disebut dengan istilah “titis” dan yang untuk orang yang paling pandai dalam permainan disebutlah “jadud”. 

Tahap kedua, biasanya tahap ini disebut bang-bangan karena kayu sebagai alat utama permainan digebang hingga beberapa kali sesuai kemampuan pemain. Pemain membawa bilah kayu panjang dengan tangan kanan dan menaruh bilah kayu yang pendek di atasnya. Dalam tahap ini boleh dilakukan sampai 3 kali percobaan. Pada percobaan  ketiga  dihitung sebagai permainan. Bilah kayu yang pendek didorong ke atas dengan bilah kayu yang panjang. Jika hanya bisa satu kali mengenai kayu pendek maka skor bisa didapat asalkan kayu yang pendek tidak tertangkap oleh lawan. Skor dalam tahap ini jika dapat menggebang hanya 1 kali maka dihitung tiap garisnya 1 hitungan kayu panjang, 2 kali berarti satu hitungan kayu pendek, 3 kali berarti 5 hitungan kayu pendek, 4 kali 10 hitungan kayu pendek, seterusnya merupakan kelipatan 5 yang dihitung dengan kayu yang pendek. Semua hasil hitungan dihitung sampai jarak terdekat dari lubang. Skor untuk yang jaga dapat didapat hanya apabila dapat menangkap bilah kayu yang pendek saat digebang dengan skor tetap seperti pada tahap pertama.

Pada tahap final, permainan akan terus berlanjut  dimana bilah kayu yang kecil ditaruh setengah berdiri di pojok lubang dan apabila telah siap maka bisa dipukul. Dan saat bilah kecil itu melayang barulah bisa dipukul dengan bilah kayu yang panjang dan mendapat nilai. Untuk skor dalam tahap ini sama dengan di tahap kedua. Pemain dianggap mati apabila tidak dapat memukul jauh dari lubang kayu yang pendek pada saat melayang di udara.

Jika sampai tahap ini dari anggota tiap kelompok tidak ada yang “mati” maka permainan tetap ada pada kelompok tersebut dan diulang dari tahap pertama permainan. Saat kedua regu merasa lelah dan mengakhiri permainan maka regu dengan skor terbanyaklah yang menang. Regu yang menang boleh meminta apa saja kepada regu yang kalah seperti digendong.

Source https://shantica.blogspot.co.id https://shantica.blogspot.co.id/2016/09/patil-lele-lempar-pukul-hitung-angka.html
Comments
Loading...