budayajawa.id

Permainan Thongthong, Kabupaten Bondowoso

0 24

Permainan Thongthong, Kabupaten Bondowoso

Permainan ini juga tersebar di desa- desa di wilayah Kabupaten Bondowoso, terutama desa-desa dengan duduk mayoritas masyarakat Peristiwa Permainan. Serombongan laki-laki yang tidak selalu pasti jumlahnya, ka­dang-kadang delapan, sembilan, sepuluh atau kurang dari itu, pada malam-malam hari bertugas meronda, berjaga-jaga semalaman menja­ga keamahan desa. Untuk menahan diri dari rasa kantuk, mereka me­nyusuri jalan-jalan desa dengan membawa peralatan yang disebut thong-thong.

Alat musik dari bahan batang kayu yang ringan teta­pi keras itu,digores memanjang dan djciptakan ruangan di dalamnya, sehingga bil,a dipukul akan terdengar bunyi musik yang enak. Thong- thong dibuat bermacam ukuran sehingga hasilnya adalah nada-nada yang laras antara satu dan lainnya. ‘Kegembiraan yang terjadi karena pukulan-pukulan musik itu menyebabkan para peronda itu betah menjalankan tugas-tugasnya. Semenjak dari pos atau kantor desa, – tempat mereka berkumpul, mereka memainkan sepanjang perjala­nan.

Diselingi dengan nyanyian-nyanyian rakyat yang mereka kenal atau kadang-kadang nyanyian yang sedang populer pada masanya mereka mengingatkan penduduk agar tidak terlalu lelap tidurnya yang nikmat, melainkan agak waspada juga terhadap kemungkinan terjadinya gangguan keadaan, misalnya pencurian ternak, perampo­kan, pencurian padi di sawah dan sebagainya. Lagi pula dengan se­lalu terdengarnya suatu thong-thong, maka bagi penjahat pun dira­sakan akan terlalu besar resiko yang ditanggungnya apabila mereka melakukan aksi kejahatannya.

Para Peserta/Pelaksana.

Peserta permainan ini adalah laki-laki dewasa yang bertugas sebagai ronda. Mereka berumur sekitar 20-45 tahun. Dan sebagai mana pen-duduk desa, pekerjaan mereka pun bermacam-macam. Ada petani, buruh, pegawai negeri, guru dan sebagainya. Pendeknya semua laki-laki dewasa penduduk kampung. Mereka mengenakan pakaian mereka sehari-hari. Terutama sarung, selalu tidak pernah lepas dari tubuh mereka, karena kain sarung sangat praktis dalam melindungi tubuh dari udara dingin waktu malam. Di lain waktu dapat digunakan sekedar menutup bagian bawah tubuh. Atau selimut bila mereka men-dapat giliran tidur sejenak di pos penjagaan.

Peralatan /Perlengkapan Permainan

Batang-batang kayu dipotong dengan ukuran yang berbeda-beda dari yang besar sampai yang kecil. Yang terbesar berukuran panjang sekitar 50 — 60 cm dan garis tengah 20 — 30 cm. Dengan membuat goresan memanjang serta membuat ruangan di bagian dalam batang kayu tersebut maka terjadilah alat musik yang disebut thongthong itu. Ukuran ruangan dan goresan pun bermacam-macam sesuai dengan ukuran kayu dan hasil bunyi yang dikehendaki. Variasi bunyi pun menjadi bermacam-macam, tetapi dengan demikian terjadilah harmonisasi bunyi yang enak didengar. Alat-alat itu sendiri sering disebut Dhungdhungan, ataupun thongthong. Yang terbesar disebut ‘Pengorbi’; ukuran yang lebih kecil disebut ‘Pangothik’ atau ‘Penerus’; di bawahnya lagi disebut ‘Pembantu Pangotftik’; selanjutnya adalah ‘Pengemplang’ yang berfungsi sebagai komando
Permainan.

Selain alat-alat tersebut kelengkapan  orkestral dari alat permainan ini adalah Seruling dan Terbang (Rebana). Seruling terbuat dari buluh bambu dengan beberapa lobang pembentuk nada, dan sebuah lobang peniup. Rebana terbuat dari kayu yang dibentuk melingkar serta kulit lembu yang dibentangkan pada sisinya. Akan tetapi pada per­kembangan kini selain alat-alat musik lain seperti harmonika, gen­dang, atau segala benda yang menghasilkan bunyi. Penambahan alat- alat musik ini tidak ada tujuan lain kecuali memang sekedar bermain- main mengisi waktu perjalanan meronda. Jalan Permainan.

Dari gardu jaga, rombongan mulai berangkat untuk meronda – keliling desa, ‘Pangemplang’ dimainkan dengan suatu ritma tertentu, yang segera disambut oleh.’Pangothik’ kemudian ‘Pembantu Pango- thik’ disusul ‘Pangorbi’. Alat-alat lainpun segera meresponsenya da­lam irama tertentu. Seruling mengisi dengan melodi lagu-lagu rakyat ataupun lagu-lagu yang tengah populer masa kini. Lagu-lagu yang dimainkan antara lain : Kamantanan, Kemolangan, Perkenalan,Tan­duk Majeng, Fajar Laggu, Ande-ande Lumut dan sebagainya. Semen­tara lagu tetap berjalan, kadang-kadang dihentikan sejenak untuk melihat-lihat sekeliling apakah desa benar-benar aman dan tidak ada tanda-tanda ancaman bahaya.

Kemudian permainan pun dilanjutkan lagi. Di beberapa rumah penduduk ada kalanya salah seorang peronda mendekatkan alat mu­siknya kedinding sambil menyeru pada si empunya rumah, apakah tidak terlalu lelap tidurnya, atau menanyakan apakah cukup aman di rumahnya. Si “empunya rumah akan menjawab apa adanya dengan se-patah dua patah kata. Demikian sampai berjam-jam permainan itu di­lakukan sepanjang perjalanan meronda itu. Bila dipandang perlu bah­wa perondaan sudah cukup mereka purf kembali ke pos atau gardu jaga untuk bergilir istirahat dan perondaan dengan cara yang sama pun digantikan oleh kelompok yang lain. Sampai akhirnya matahari menjelang terbit permainan itu pun berangsur berhenti.

Source http://jawatimuran.net http://jawatimuran.net/2013/04/02/thongthong-kabupaten-bondowoso-jawa-timur/
Comments
Loading...