Permainan Sapsap Ajam

0 34

Permainan Sapsap Ajam

Permainan Sapsap Ajam ini oleh masyarakat setempat akhirnya dikembangkan menjadi media perlombaan sekaligus sebagaimana kemeriahan peringatan-peringatan tertentu, biasanya dilakukan pada hari-hari besar Nasional atau ketika diselenggarakan Rokat Tase’ (Petik Laut) masyarakat setempat. Sebagaimana aduan burung merpati, Sapsap Ajam ini dimainkan atau dilepas secara berpasangan dari laut ke bibir pantai. Dan sebelumnya ada pihak (biasa pemilik ayam) mendayung perahu kecil ke arah laut sekitar 300 m dari pantai.

Kemudian mereka melepas ayam secara serentak, yang akhirnya ayam-ayam itu blingsatan dan terbang ke arah pantai. Meski demikian, tentu tidak semua waktu bisa dimanfaatkan untuk permainan ini, misal ketika terjadi musim angin kencang atau iklim yang buruk, pasti mereka akan menghindari permainan ini. Kecuali pada musim angin reda, permainan Sapsap Ajam ini kerap dilakukan. Konon awal mulanya permainan ini muncul tanpa sengaja. Ketika itu masyarakat Desa Campor Timur yang bedekatan dengan pantai melangsungkan Rokat Tase’, sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa, yang banyak memberi rejeki kepada masyarakat melalui hasil laut.

Namanya rokat, tentu mereka membawa sajian-sajian dengan perahu seperti bunga-bungaan, buah-buahan, kepala sapi dan ayam ciri tertentu serta lainnya yang akan dilepas di tengah laut. Namun ketika barang sajian tersebut dilepas ke arah laut, salah satu dari sajian tersebut, yaitu seekor ayam justru melepas, terbang melesat ke arah pantai. Mulai saat itulah, beberapa warga mencoba membawa ayam (jantan maupun betina) dibawah ke laut dan melepaskannya. Ternyata, ayam-ayam tersebut mampu terbang ke pantai, meski kerap terjadi adanya ayam yang jatuh kelaut. Dari beberapa uji coba melepas ayam dari laut, agaknya yang berhasil dan mampu terbang sampai darat (pantai) , yaitu  ayam-ayam betina.

Mulailah mereka memilih jenis ayam betina muda (pandara’) yang memenuhi syarat, agar dapat terbang jauh ke darat. Sapsap Ajam itu yang ditemukan oleh warga Campor Timur, akhirnya berkembang ke desa-desa tetangga seperti Campor Barat, Bellu’ Ares dan desa lainnya. Dan untuk mempertahankan keberlangsungan Sapsap Ajam ini, masyarakat setempat membentuk komunitas atau perkumpulan, yang dikenal dengan istilah kamrat. Aktifitas komunitas ini tentu akhir berkembang, bukan sekedar pelaksanaan Sapsap Ajam, tapi juga sebagai bentuk solidaritas dan persaudaraan antar warga, yang didalamnya didisi dengan pengajian-pengajian, yasinan, dibha’ dan lainnya.

Pesisir wilayah Kecamatan Ambunten memang sangat strategis dijadikan media permainan atau pertunjungan pinggir pantai. Bahkan ditempat ini juga pernah dilakukan oleh masyarakat setempat kerapan sapi pantai. Sepanjang pantai wilayah utara dari timur Pantai Lombang, Pantai Slopeng sampai Pantai Ambunten memang memiliki hamparan pasir pantai yang halus, putih dan bersih. Sehingga kalangan masyarakat pesisir tersebut banyak memanfaatkan pasir sebagai aktifitas sehari-hari. Peserta dari permainan ini, adalah ayam itu sendiri. Ayam yang ikut dilombakan haruslah ayam yang baik.

Yaitu dipilih ayam betina yang masih pandara’, berbulu halus lunak, supit rapat, ekor merunduk dan sisik kaki tak putus. Selain itu sisik belakang kaki ada tonjolannya di bagiankaki bagian belakang yang kon punya jhaja (kejayaan) yang baik. Bahkan menurut cerita dalam menghadapi ayam ciri tersebut, musuh yang melintas di depannya bisa jatuh.

Ayam tersebut pantang diberi makan nasi, makanannya khusus yaitu beras jagung diaduk dengan merah telur sehari dua kali. Minumnya sehari sekali yaitu air masak. Selain itu diberi ramuan jamu tradisional, antara lain raceghan (campuran) kapu-laga, enggu dan sebagainya. Pemeliharaannya secara khusus dengan kandang tersendiri, sebab ayam tersebut dipantang digauli ayam jan­tan. Artinya ayam yang dijadikan Sapsap Ajam tersebut tidak untuk ayam petelur, malah tak diharapkan untuk bertelur, agar kuat.

Tentang berapa pasang ayam yang dilombakan, hal ini tergan­tung pada bentuk pertandingan. Kalau pelaksana  perorangan, tentu terbatas. Tapi kalau kamrat (perkumpulan)  bisa mencapai   puluhan ekor ayam (1 pasang 2 ekor).  Satu kali lepas dalam perlombaan hanya sepasang Sapsap Ajam yaitu dua ekor ayam. Bila sampai puluhan ekor yang ikut berlom­ba, maka tak dapat diselesaikan sehari, sebab kondisi alam yang baik (cuaca, angin, gelombang) hanya berlangsung beberapa jam, yaitu jam 07.00 — 09.00 pagi hari. Selain itu seusai permainan, mereka kembali kekewajibannya masing-masing yaitu ke ladang, ke pasar, dan melaut.

Perlengkapan permainan selain ayam yang akan dilom­bakan juga diperlukan beberapa perahu untuk membawa ayam-ayam tersebut ke laut, patthok (tanda: tunggak bambu) di laut untuk batas pelepasan seutas tali panjang sebagai batas hinggap  minimal (ompal) dan seutas tali pengukur untuk mengukur sejauh mana ayam hinggap di tanah setelah terbang di atas laut sampai hinggap di darat (pantai) dan terus diam, untuk memudahkan pengukuran dan penangkapannya. Senagai sapi kerapan, ayam sapsap tersebut, juga masing-masing memiliki nama, seperti “se kesset”  (cepat melesat), “se pelor”  (peluru),  “kakapper atau gapper” (kupu-kupu), “se ngabang” (si terbang), “seset” (capung), dan sebagainya.

Seperti kegiatan seni tradisi Madura lainnya, musik saronen tampaknya tak lepas dari peristiwa budaya ini. Dari sinilah  kemeriahan pesta rakyat mulai dirasakan. Masyarakat dengan melepas segala aktifitas rutinitasnya mulai melepaskan diri dari kelelahan. Disini,  di arena lomba Sapsap Ajam mereka berhasrat dan membangun kemunikasi antar  warga, antar masyarakat dan antar desa serta wilayah kecamatan.

Source http://www.lontarmadura.com/ http://www.lontarmadura.com/sapsap-ajam-adu-cepat-ayam-betina-dari-laut/

Leave A Reply

Your email address will not be published.