Permainan Rakyat Ngadu Bagong Jawa Barat

0 175

Permainan Rakyat Ngadu Bagong Jawa Barat

Pada beberapa masyarakat peladang yang berada di daerah-daerah pegunungan Jawa Barat, seperti: Ciamis, Garut, Tasikmalaya dan Sumedang ada suatu permainan yang disebut sebagai ngadu bagong. Bahkan, di Kabupaten dan Kota Bandung sendiri ada permainan itu. Di Kabupaten Bandung berada di salah satu daerah Pegunungan Manglayang, tepatnya di Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, di Kecamatan Ujungberung, tepatnya di dekat pasar Ujungberung dan di daerah Dayeuh Kolot, dekat Sekolah Tinggi Telekomunikasi (STT). Ngadu bagong adalah suatu istilah dalam bahasa Sunda yang digunakan oleh masyarakat peladang untuk menamakan suatu permainan. Istilah ini berasal dari dua kata, yaitu “ngadu” dan “bagong”. “Ngadu” berasal dari kata dasar “adu” yang mengalami proses nasalisasi menjadi “ngadu”. Artinya, “memperlagakan” atau “mempertarungkan”. Sedangkan, kata “bagong” dalam bahasa Sunda berarti babi hutan (Sus verrucosus).

Namun demikian, ngadu bagong bukan berarti mempertarungkan atau memperlagakan antarbabi (babi hutan melawan babi hutan), melainkan pertarungan mati-hidup antara seekor babi hutan dan sepasang anjing atau sekawanan anjing yang ganas, kuat, dan beringas. Munculnya ngadu bagong sekitar tahun 60-an. Ketika itu tanaman yang diusahakan oleh para peladang seringkali diganggu oleh babi hutan. Letak perladangan yang berada di daerah pegunungan yang merupakan habibat kawanan babi hutan itu pada gilirannya membuat kawanan babi hutan tersebut dapat leluasa mengganggu dan atau merusak tanaman ladang, seperti: jagung, singkong, kacang-kacangan, dan tanaman palawija lainnya.

Apalagi, kawanan babi hutan hidup secara berkelompok yang jumlahnya sekitar 10 sampai 20 ekor . Menyadari hal itu maka peladang mengembangkan teknik-teknik tertentu untuk menghalau kawanan babi hutan, sehingga tanaman ladang mereka menjadi aman. Teknik-teknik itu antara lain: menaruh karbit atau minyak wangi di setiap sudut ladang agar babi hutan tidak berani masuk; membuat lubang di sekitar ladang pada jalur-jalur yang sering dilalui babi hutan; memasang perangkap yang berbentuk kujut yang terbuat dari kawat besi; dan menggunakan anjing untuk menjaga ladang.

Di antara berbagai macam teknik itu yang sering dilakukan oleh para peladang adalah teknik yang terakhir (menggunakan anjing). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika setiap peladang mempunyai anjing. Anjing yang indera penglihatan, pendengaran, dan penciumannya lebih tajam ketimbang manusia dan sangat setia kepada majikannya (pemiliknya) ini memang sangat dibutuhkan oleh peladang. Bukan hanya untuk menjaga tamanan ladang dari serangan babi hutan, khususnya menjelang panen, tetapi juga yang tidak kalah pentingnya adalah untuk melindungi peladang itu sendiri dari berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan, misalnya binatang buas dan bahkan orang yang berniat jahat.

Dengan kelebihan inderanya yang tajam itu, ia akan lebih dahulu mengetahui berbagai “ancaman”, baik terhadap ladang dan atau pemiliknya, ketimbang peladang itu sendiri. Ancaman terbesar, terutama yang berkenaan dengan tanaman-ladang, adalah bagong. Jika ini terjadi, maka anjing itulah yang akan menghadapinya. Namun, karena ukuran tubuh bagong yang lebih besar dan jumlahnya banyak, maka anjing-anjing menjadi takut dan sering kewalahan jika harus berhadapan dengan binatang tersebut. Keadaan ini membuat para peladang merasa perlu untuk melatih anjing-anjing mereka agar berani untuk menghadapinya. Caranya adalah dengan menangkap bagong dengan peralatan khusus seperti jaring yang terbuat dari kawat, membuat lubang, dan porog. Dengan cara yang demikian, bagong dapat tertangkap hidup, sehingga dapat dijadikan sebagai sasaran anjing dalam pelatihan.

Namun, lama-kelamaan pelatihan yang pada mulanya bertujuan untuk membuat anjing agar dapat mengalahkan atau menghalau babi yang akan merusak tanaman-ladang, dewasa ini telah menjadi sebuah tontonan yang unik dan menarik. Latih-tarung antara bagong dan anjing tidak lagi dilakukan sederhana atau apa adanya sebagaimana di masa lalu. Kini pertarungan itu telah di tempatkan pada sebuah arena yang terbuat dari bambu yang berbentuk persegi empat atau lingkaran dengan luas sekitar empat belas meter persegi dan tinggi sekitar empat meter. Kegiatan yang kemudian disebut sebagai “ngadu bagong” itu akhirnya dianggap menjadi acara berkala dan pengisi waktu senggang, baik hari libur biasa maupun hari libur yang berkenan dengan hari besar tertentu.

Source http://uun-halimah.blogspot.co.id/ http://uun-halimah.blogspot.co.id/2008/04/ngadu-bagong-jawa-barat.html
Comments
Loading...