Permainan Pesapean Bagian Upacara Minta Hujan

0 98

Permainan Pesapean Bagian Upacara Minta Hujan

Permainan Pesapean hanya terdapat di daerah Kecamatan Ambunten, di Kabupaten Sumenep. Situasi daerah ini telah me­latarbelakangi kebudayaan dari permainan tersebut, karena daerah itu terletak di daerah pegunungan yang curah hujannya kurang sekali. Sebagian besar daerah ini terdiri dari tanah ladang serta sawah tadah hujan yang tergantung pada turunnya hujan. Tanah ladang ini menghasilkan jagung yang terbesar di pulau Madura, sedangkan sawah tadah hujan, menghasilkan padi yang cukup untuk daerahnya saja.

Seperti diketahui desa-desa di Kecamatan Ambunten ini, sebagian besar tanah ladangnya merupakan tanah tandus. Ladang- ladang itu merupakan tempat tumpuan harapan petani, begitu pula sapi adalah binatang ternak yang sangat berharga bagi mereka. Oleh karena itu, hidup ternak tersebut sangat diperhatikan dan diutamakan. Penduduk yang hidupnya tergantung pada hujan, se­tiap tahunnya di akhir musim kemarau selalu menghadapi masalah kekurangan air. Dalam menghadapi musim kemarau yang mengakibatkan bencana kekurangan air ini, masyarakat berembuk untuk mengatasi­nya. Mereka berusaha dengan jalan meminta kepada Yang Kuasa agar diturunkan hujan yakni dengan cara mengadakan upacara.

Seperti diketahui penduduk desa ini semuanya beragama Islam, di mana unsur-unsur kebudayaan Islam tampak jelas ter­lihat pada masyarakat petani dalam melaksanakan upacara adat, di antaranya upacara minta hujan. Dalam mengawali kegiatan upa­cara minta hujan, dari segi agama berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Esa; sedangkan dari segi kepercayaannya masih tampak ada­nya sisa-sisa kepercayaan tradisional. Mereka masih piengikuti jejak para leluhur dengan menyediakan ba’saba untuk Searaksa yang memohon agar hujan segera diturunkan. Namun demikian, do’a yang diucapkan adalah do’a dalam ajaran agama Islam. Pesapean itu sendiri seperti yang telah disebutkan di atas, artinya sapi; akan tetapi bukanlah berarti sapi yang sebenarnya, tetapi berhak seperti sapi.

Dalam permainan ini, pemain memakai topeng sapi dan di belakangnya dikendalikan sehingga seolah-olah petani yang sedang membajak ladangnya karena tanahnya gembur oleh hujan yang telah membasahinya. Sapi bagi mereka merupakan bagian dari hidupnya yang mahal. Oleh karena itulah peranan sapi yang digantikan oleh dua orang petani dengan memakai topeng kepala sapi melakukan gerakan-gerakan tiruan sedang membajak ladang. Sapi-sapi tiruan itu dilengkapi dengan perlengkapan se­perti yang telah disebutkan terdahulu, jadi seakan-akan bukan sapi biasa

Permainan Pesapean sudah ada sejak dahulu, karena memang merupakan bagian dari upacara minta hujan yang dalam pelaksa­naannya bersamaan dengan dilakukannya upacara tersebut. Per­mainan ini mempunyai arti yang sangat penting dalam meningkat­kan nilai-nilai budaya, karena di dalamnya terdapat unsur-unsur rasa persatuan, religius magis dan gotong royong yang ditanam dalam kehidupan masyarakat petani. Permainan itu sendiri berasal dari kehidupan para petani dan peternak, yang kesemuanya ter­cermin dalam bentuk permainan. Bentuk permainan itu sendiri bukanlah merupakan permainan yang kompetitif, tetapi permain­an yang sifatnya hiburan dan di dalamnya terkandung unsur religius magis.

Selain dilakukan pada upacara minta hujan juga dapat dilakukan ujituk selamatan lainnya, seperti perkawinan atau pun khitanan. Walau pun demikian unsur religius masih tampak, yakni ketika akan diselenggarakan orang yang mempunyai hajat harus menyediakan sesajen yang diberikan kepada para pemain. Maksudnya agar yang dianggap mempunyai kekuatan magis dapat memberi rahmat kepada para pelaku permainan maupun kepada orang yang sedang melakukan perhelatan tersebut, sehingga para pemain dan para penyelenggara tidak kena amarah dari Yang Kuasa.

Source http://www.lontarmadura.com/ http://www.lontarmadura.com/permainan-pesapean-bagian-upacara-minta-hujan/
Comments
Loading...