Permainan Panjak Hore Kabupaten Tuban

0 47

Permainan Panjak Hore

Panjak=niyaga (berarti pemukul gamelan). Namun pada “panjak hore”, gamelannya dengan mulut. Kalaupun ada instru­men, itu hanyalah terdiri atas sebuah gendang sebagai pengatur irama dan sebuah gong bumbung (=gong tiup) sebagai finalis. Selebihnya gamelan mulut yang menyuarakan kata-kata berirama : lelo-lale-lo-lalo …. dan seterusnya, diseling dengan bentuk parikan, dan di sa­na-sini senggakan “hore – hore – hore”.

Karena itu, permainan tersebut dina­makan “panjak hore”. Peristiwa Permainan. “Panjak hore” biasanya ditampilkan pada saat-saat sehabis mu­sim panen padi, dilakukan oleh kawanan penggembala ternak di dae­rah-daerah tersebut. Sebuah permainan yang membawakan suasana santai, sekaligus merupakan, hiburan ringan bagi masyarakat petani,  setelah berbulan-bulan bekerja berat menggarap sawah sejak mengolah tanah, menabur bibit, menanam sampai menuai padi. Tampilnya  permainan “panjak hore” sehabis panen memang merupakan pemili­han saat yang tepat, sebab bagi masyarakat petani, waktu banyak senggang ialah sesudah panen selesai. Sekaligus merupakan ungkapan rasa syukur, bahwa segala jerih payah yang mereka curahkan telah mencapai hasil panen yang baik. S. Latar Belakang Sosial Budaya.

Ungkapan rasa syukur itu menjadi lebih nyata lagi oleh penye­lenggaraan permainan “panjak hore” yang didahului dengan upacara yang mengarah kepada sifat-sifat ritual. Dalam pada itu disertai pula dengan sesaji segala, berupa tumpeng tanggung beserta lauk-pauk­nya di atas sebuah nyiru, sebuah nyiru lagi berisi peralatan dapur, antara lain : cobek, uleg-uleg (= alat pelumat cabe) dan beberapa lembar daun keluwih dan lain-lain. tidak ketinggalan dupa.

Kelengkapan upacara demikian memang sudah mentradisi di kalangan masyarakat petani di daerah-daerah pedalaman. Kendatipun mereka memeluk agama Islam, namun sisa-sisa kepercayaan mistik Jawa kuno dan adat tata cara tradisional mereka tidak hapus melain­kan masih melekat pada alam kehidupan budaya mereka. Lebih-le­bih mereka jauh dari keramaian kota yang lebih materialistik corak budayanya, disebabkan letak daerah mereka yang jauh terpencil, se­hingga hidup mereka tidak mengenal kemewahan lahir. Mereka orang sederhana dalam pikiran dan dalam segala tingkah laku dan perbuat­an.

Mereka terlalu sadar bahwa hidup mereka tergantung kepada . alam lingkungan mereka, karena itu mereka pun merasa hidup ber sama alam. Rasa syukur mereka panjatkan kepada Tuhan yang telah menjadikan mereka dan alam semesta, sesuai dengan ajaran agama, namun mereka juga tidak mengingkari jasa bumi yang langsung mem­beri mereka makan dan minum dan jasa langit yang memberikan hu­jan untuk mengairi sawah mereka. Kepada bumi dan langit mereka persembahkan sesajian sebagai tanda terima kasih. Kepada Tuhan me­reka panjatkan rasa syukur.

Sifat-sifat mistik religius demikian itu pun mewarnai kehidu­pan sosial budaya latar Belakang Sejarah Perkembangan. Mengingat letak daerah Kerek, Singgahan dan Bangilan yang satu sama lain terpencil dan terpisah-pisah oleh pegunungan dan hutan jati yang lebat, terutama perjalanan antara Kerek dan Singgahan yang harus melalui jarak jauh dan menaiki punggung bukit Kendheng lamun masing-masing memelihara sejenis permainan yang memiliki nama, pola dan gejala penampilan yang sama, kiranya dapatlah kita nenarik kesimpulan, bahwa di masa-masa jauh lampau permainan tersebut atau semacam itu, sudah umum dan menyebar luas di seluruh wilayah Kabupaten Tuban dan sekitarnya. Hanya masalahnya adalah apakah nama Panjak Hore sudah dikenal masyarakat sejak dulu, semasa kakek-kakek mereka, berlangsung sampai sekarang, dan pelaksanaannya pun masih tetap diadakan setelah musim panen. Jadi paling sedikit sudah tiga generasi.

Source http://jawatimuran.net/ http://jawatimuran.net/2013/03/24/panjak-hore-kabupaten-tuban-jawa-timur/

Leave A Reply

Your email address will not be published.