Permainan Ngadu Domba Jawa Barat

0 107

Permainan Ngadu Domba Jawa Barat

Ngadu Domba adalah suatu istilah dalam bahasa Sunda yang digunakan untuk menamakan suatu permainan. Istilah ini berasal dari dua kata, yaitu “ngadu” dan “domba”. “Ngadu” berasal dari kata dasar “adu” yang mengalami proses nasalisasi menjadi “ngadu”. Artinya, “memperlagakan” atau “mempertarungkan” (Priarna, dkk; 1993: 16). Dengan demikian, Ngadu Domba berarti mempertarungkan atau memperlagakan antardomba (domba melawan domba). Dilihat dari sudut folklor1), Ngadu Domba dapat dikategorikan sebagai permainan rakyat2).

Istilah Ngadu Domba

Istilah Ngadu Domba merupakan sebuatan masyarakat umum, sedangkan di kalangan penggemar domba aduan sendiri dahulu dikenal istilah lain, yaitu ngaben dan pamidangan. Kata ngaben berasal dari kata aben yang artinya “adu”. Kata tersebut mengalami proses nasalisasi menjadi “ngaben” yang artinya sama dengan kata “ngadu”. Karena pada praktiknya ngaben cenderung mengarah pada “perjudian” yang sering menimbulkan perkelahian antarpemilik ataupun penonton, maka nama tersebut diubah menjadi pamidangan yang berasal dari kata “pidang” artinya “tampil”.

Kemudian kata tersebut mendapat sisipan “am” menjadi pamidangan yang bermakna tempat. Jadi, pamidangan berarti “menampilkan” atau “tempat penampilan”. Istilah tersebut dipakai hingga sekarang. Istilah pamidangan cenderung ke arah bisnis sebab permainan ini semata-mata dilakukan untuk mempromosikan dan meningkatkan harga jual domba aduan sehingga penjualan domba tidak berdasarkan besar-kecilnya domba, namun ditentukan oleh nilai-nilai keindahan domba, baik tanduk, bulu maupun keindahan gerak otonya saat bertanding.

Munculnya permainan Ngadu Domba belum diketahui secara pasti. Namun apabila didasarkan pada rangkaian peristiwa asal-usul domba aduan yang konon berasal dari Kampung Cibuluh, Garut, diperkirakan permainan Ngadu Domba dimulai sekitar tahun 1931-1932. Waktu itu penyelenggaraan dilaksanakan di lapangan Bunisari yang terletak di Kampung Cibuluh. Selang beberapa lama, pindah ke lapangan Babakan kemudian ke sebuah lapangan yang sekarang menjadi lapangan Kostrad.

Penyebaran permainan ini dimulai sejak pertama kali diadakan ngaben. Penyebarannya terjadi secara tidak langsung melalui penonton yang menyaksikan permainan tersebut dan menceritakannya kepada orang-orang di daerahnya sehingga permainan ini dikenal lebih luas hingga akhirnya Ngadu Domba tidak hanya dikenal di Garut saja, melainkan hampir di seluruh wilayah Jawa Barat.

Perkembangan Permainan Ngadu Domba

Perkembangan permainan Ngadu Domba dapat dilihat dalam dua periode, yaitu periode pertama tahun 1931-1969 (ketika masih memakai nama ngaben) dan periode kedua sejak tahun 1970 hingga sekarang, dengan nama pamidangan. Pergantian nama tersebut disesuaikan dengan tujuan dan peraturan permainan yang telah disempurnakan. Kalau ngaben dalam prakteknya mengarah kepada hal negatif (perjudian), maka dalam pamidangan tidak lagi tendensi ke arah perjudian, melainkan hiburan rakyat. Namun selanjutnya, seiring dengan munculnya nilai-nilai baru yang terjadi dalam masyarakat pendukungnya, tujuan permainan tidak lagi sekadar penyalur kesenangan, tetapi juga dijadikan sebagai ajang adu prestasi dan gengsi para pesertanya.

Penyelenggaraan permainan Ngadu Domba atau Pamidangan diadakan seminggu sekali, yaitu pada setiap hari Minggu. Apabila bertepatan dengan hari-hari besar seperti 17 Agustus, penyelenggaraannya lebih meriah dan semarak. Namun, pada hari-hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri, Idul Adha, Natal, dan Nyepi tidak ada penyelenggaraan. Selain itu, apabila turun hujan, permainan ditiadakan untuk menjaga kesehatan domba. Biasanya acara itu dimulai sekitar pukul 08.00 sampai dengan 16.00 WIB, atau bergantung pada jumlah domba yang dipertandingkan.

Source http://uun-halimah.blogspot.co.id/ http://uun-halimah.blogspot.co.id/2008/04/ngadu-domba-jawa-barat.html
Comments
Loading...