Perlengkapan Upacara Ngarot

0 60

Perlengkapan Upacara Ngarot

Perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam upacara ngarot ini adalah:

(1) seekor munding (kerbau) jantan berumur sekitar satu tahun yang tidak dalam keadaan sakit atau cacat. Dalam upacara ini, hewan yang akan dijadikan kurban tidak boleh kerbau betina atau jenis hewan lain. Apabila hal ini dilanggar, maka konon akan terjadi bencana di Desa Karedok, seperti kebakaran, wabah penyakit dan lain sebagainya;

(2) sesajen, yang terdiri atas: duwegan (kelapa muda), puncak manik2 (congot yang di atasnya ditaruh telur ayam), roti, bolu, tangkeuh, gula batu, kopi pait (kopi pahit), kopi amis (kopi amis), balagudeg, tektek (sirih, pinang dan perlengkapannya), rokok Gudang Garam Merah, serutu (cerutu) dua batang, endog hayam kawung (telur ayan kampung), roko daun kawung (rokok daun enau), tembakau tampang, rujak cau (rujak pisang), rujak asem (rujak asam), rujak kelapa, sobek belut dan sobek lele;

(3) kaca-kaca (gada-gada). Kaca-kaca adalah penganan yang dipajang di depan gang-gang dan halaman rumah-rumah penduduk, terdiri atas: cau (pisang), buah bangga, ranginang, opak, kolontong, duwegan (kelapa muda), gerejeg (gorengen), rempeye, endog asin (telur asin), opak beca, peteuy (petai), limun, kerupuk, dan lain sebagainya;

(4) gantar sebanyak 24 buah yang berisi hasil bumi dari masing-masing RT yang ada di Desa Karedok. Gantar-gantar ini nantinya akan diperlombakan setelah prosesi arak-arakan selesai;

(5) jampana atau jampa. Jampana adalah tandu berbentuk persegi empat dan beratap yang diusung oleh dua atau empat orang. Jampana terbuat dari kayu, bambu dan atapnya dari anyaman daun kelapa. Jampa yang dibuat untuk upacara ini terdiri dari beberapa macam yaitu: jampa yang digunakan untuk mengusung kuwu/kepala desa pada saat arak-arakan, jampa yang digunakan untuk membawa penganan dan hasil bumi yang dibuat oleh masing-masing RT, jampa yang digunakan untuk mengusung Dewi Sri (Dewi Padi dengan pasangannya Rama) dan jampa suraga, yang digunakan untuk membawa boeh rarang (kain kafan) dan samak (tikar) sebagai simbol bahwa setiap manusia akan diusung dan dibungkus kain kafan dan tikar.

(6) sepasang boneka Dewi Sri dan pendampingnya Rama (seorang petani). Boneka Dewi Sri mengenakan busana kerudung, kebaya, selendang, dan hiasan leher berupa bunga teratai. Sedangkan boneka pasangannya mengenakan busana iket kepala khas Sunda, baju salontreng dan pangsi berwarna hitam, serta sarung;

(7) panggung yang dibuat dari papan kayu dan diatasnya diberi tikar atau karpet. Panggung ini digunakan untuk para nayaga (penabug gamelan), sinden dan penyanyi. Di depan panggung ini disediakan kursi-kursi bagi warga yang ingin menyaksikan hiburan; dan

(8) cangkul untuk menggali tanah tempat menampung darah dan menguburkan kepala kerbau. Kedalaman masing-masing tanah yang digali lebih kurang 80 cm dengan diameter sekitar 80 cm. Sebagai catatan, penggalian tanah ini dilakukan pada waktu tengah malam (pukul 00.00), dan dihadiri oleh kepala desa, sesepuh upacara, kuncen dan para tokoh masyarakat.

Selain perlengkapan upacara ada pula beberapa kesenian yang biasa ditampilkan dalam penyelenggaraan upacara ngarot yaitu Bangreng, Tayuban, Terebang, dan Dogdog. Bangreng adalah sejenis pertunjukkan berupa tarian yang berasal dari tayub, diiringi oleh terebang, kendang, rebab dan goong. Dalam perkembangannya ditambah dengan saron-1 dan saron-2 serta kecrek. Tidak jauh berbeda dengan kesenian Ketuk Tilu, para penari wanita bangreng juga bersedia menemani penonton laki-laki yang berminat untuk menari di arena. Setelah selesai satu babak, penari laki-laki harus memberi uang kepada si penari wanita. Kadang-kadang uang itu diberikan sambil berjabattangan, diselipkan ke dalam baju si penari wanita, atau menaruh dalam baskom yang telah disediakan. Lagu yang mengiringi tarian bergantung kepada permintaan penari laki-laki, misalnya lagu-lagu: Rincik Rincang, Sulan-jana, Udan Mas, Engko, Geboy dan lain sebagainya.

Terebang ialah waditra perkusi terbuat dari kayu yang ditutupi kulit. Waditra ini selain digunakan dalam kesenian terebang juga digunakan dalam kesenian gembyung, yang terdiri atas 3 buah, yakni yang paling besar disebut terebang indung, berdiameter lebih kurang 60 cm, yang kedua berdiameter 50 sentimeter, dan yang ketiga berdiameter 40 cm. Lagu-lagu yang biasa diiringi terebang ini meliputi: Salawat, Kentrung, Kembang Beureum, Coyor, Kembang Gadung, Titipati, Torondol, Geboy, Kacang Asin, dan lain sebagainya.

Tayuban ialah jenis tarian yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang diiringi oleh waditra pengiring, baik dalam pesta-pesta adat, perkawinan maupun pesta-pesta lainnya. Dogdog biasa dipergunakan dalam pertunjukan ogel atau reog. Dogdog dalam penyelenggaraan upacara ngarot terdiri atas empat buah, yang paling kecil disebut tilingtit biasanya digunakan untuk dalang, kedua disebut panempas, ketiga disebut badublag, dan yang keempat disebut gong-gong atau pangrewong.

Sebagai catatan, pengadaan peralatan upacara dan pembiayaan pertunjukan kesenian, seluruhnya berasal dari sumbangan warga masyarakat yang besarnya berkisar antara Rp.10.000-Rp.20.000,-. Penarikan sumbangan tersebut dilakukan setelah ada kesepakatan dalam musyawarah yang dihadiri para ketua RT, RW, sesepuh, tokoh masyarakat, kepala desa dan aparat desa lainnya.

Source https://uun-halimah.blogspot.com https://uun-halimah.blogspot.com/2008/05/upacara-ngarot-pada-masyarakat-sumedang.html
Comments
Loading...