Perkembangan Tari Ronggeng Gunung

0 235

Perkembangan Tari Ronggeng Gunung

Tari Ronggeng Gunung terus menjadi terkenal dan menyebar luas ke beberapa wilayah di sekitar Kabupaten Pangandaran dan Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Pada saat memasuki periode tahun 1940-1945, banyak terjadi pergeseran nilai-nilai budaya dari sebelumnya. Pergeseran nilai ini meresap juga ke dalam kesenian ronggeng gunung, misalnya di dalam cara menghormat yang semula dengan cara merapatkan tangan di bagian dada berganti dengan cara bersalaman. Bahkan akhirnya cara bersalaman ini telah banyak disalah gunakan, dimana para penari laki-laki atau orang-orang tertentu bukan hanya bersalaman, melainkan akan bertindak lebih jauh seperti mencium dan lain sebagainya. Terkadang para penari dapat dibawa ke tempat yang sepi. Karena tidak sesuai dengan adat-istiadat, maka ditahun 1948 kesenian ronggeng gunung ini dilarang dipertunjukkan untuk umum.

Baru ditahun 1950 kesenian ronggeng gunung ini kembali dihidupkan dengan beberapa pembaruan, baik itu dalam tarian ataupun dalam pengorganisasian sehingga kemungkinan timbulnya hal-hal negatif tersebut dapat dihindarkan. Desa-desa di Ciamis selatan yang mempunyai kesenian ronggeng gunung adalah di desa Panyutran, Ciparakan, Burujul dan kemudian menyebar ke arah selatan, yakni di Kawedanaan Pangandaran sampai ke Kecamatan Cijulang. Didalam beberapa generasi ronggeng gunung ini mampu mempertahankan ciri-ciri khas yang dimiliki. Namun demikian ditemukan juga tarian dalam bentuk yang hampir sama yang ada di daerah lain seperti dombret di Subang, banjet di Krawang. Perbedaan masih tetap nyata. Jika banjet dan dombret telah banyak menggunakan lagu-lagu populer, namun ronggeng gunung ini tetap mempergunakan lagu-lagu yang bersifat buhun atau lama. Dombret dan banjet telah banyak dipengaruhi oleh budaya dari luar Sunda, seperti Bugis Makasar, Lampung, Jawa, dan juga Madura melalui pergaulan diantara para nelayan.

Seperti halnya pada tarian lain sejenisnya, ronggeng gunung ini juga merupakan tari hiburan dan pakaian yang dikenakan juga sesuai dengan tradisi setempat. Segi lain yang menarik dalam pertunjukan ini adalah disaat pertunjukan berlangsung, yakni dengan sering tampilnya para penonton dalam menemani penari ronggeng menari. Seringkah tingkah penari penonton ini membuat geli orang-orang yang menyaksikan, sehingga membuat suasana berubah menjadi riuh dan bergembira. Suasana yang ditampilkan ini menunjukkan ciri khas dari kesenian rakyat, yaitu akrab dimana penari dan para penonton berbaur tanpa batas yang jelas. Dimasa pemberontakan DI/TII berkecamuk di Jawa Barat, kesenian ronggeng gunung ini hampir-hampir lenyap dikarenakan sering terjadinya gangguan terhadap pertunjukan yang sedang berlangsung. Setelah kemudian gerombolan DI/TII ditumpas, pertunjukan ronggeng gunung ini pun muncul kembali.

Source https://www.tradisikita.my.id/ https://www.tradisikita.my.id/2017/05/tari-ronggeng-gunung-seni-karuhun.html
Comments
Loading...