Perkembangan Tari Genjring Bonyok

0 25

Perkembangan Tari Genjring Bonyok

Dalam perkembangan selanjutnya, setelah instrumen musik tarompet menjadi bagian dari pertunjukan genjring bonyok. Tahun 1975 kelompok ini kembali mengadopsi instrumen musik goong dan kecrek. Penambahan kedua instrumen musik ini disebabkan agar dalam penyajian musiknya terasa lebih enak didengar).

Kesenian ini semakin berkembang dengan dibentuknya grup-grup baru oleh anggota kelompok Sutarja. Selain itu Sutarja juga melatih sepuluh orang seniman yang berasal dari berbagai dusun dan desa di Kabupaten Subang.

Dari sepuluh orang seniman yang dilatih Sutarja, terdapat seniman yang berasal dari dusun Bonyok, Desa Pangsor yang bernama Rasita. Kemudian membentuk grup di dusun Bonyok. Melalui kelompok genjring bonyok yang dipimpin oleh Rasita dari Dusun Bonyok.

Kesenian ini mulai berkembang pesat dan dikenai masyarakat di luar dari Kecamatan Pagaden. Dengan demikian selain dari kelompok Sinar Pusaka, masyarakat pun mulai menyukai kelompok genjring bonyok yang dipimpin Rasita. Sejak itu genjring goyok banyak ditanggap warga.

Seiring dengan dikenalnya bentuk kesenian genjring ini, istilah-istilah yang ditujukan kepadanya pun mulai berkembang di masyarakat. Pada awalnya kesenian ini disebut dengan nama genjring ronyok. Menurut Sutarja istilah ini diberikan karena jika kesenian genjring tersebut disajikan.

Hampir seluruh arena penyajiannya dipenuhi oleh penonton yang menari dan mengikutinya. Sehingga fenomena kesenian tersebut memberi kesan meriah, yang dalam bahasa SUNDA disebut dengan ronyok (ngaronyok).

Kemudian mulai tahun 1977, istilah genjring ronyok mengalami perubahan menjadi genjring bonyok. Istilah ini muncul disebabkan kelompok genjring pimpinan Rasita dari Dusun Bonyok, lebih sering melakukan pertunjukan di dalam maupun di luar Kecamatan Pagaden. Sehingga melalui kelompok Rasita dari Desa Bonyok inilah, masyarakat luas lebih mengenal kesenian ini dengan sebutan genjring bonyok.

Fenomena perkembangan yang pesat dari kesenian genjring bonyok dapat dilihat dari data statistik kesenian Kabupaten Subang tahun 1996-1997, yang menunjukkan adanya lebih dari 50 kelompok kesenian genjring bonyok yang tersebar di berbagai tempat di Kabupaten Subang.

Genjring bonyok sudah banyak dipentaskan di berbagai even

  • 1971 mengadakan pertunjukan di gedung Rumentang Siang Bandung
  • 1977 mengikuti festival Genjring Bonyok se Jawa Barat yang diikuti oleh 24 kelompok kesenian genjring bonyok
  • 1978 mengadakan pagelaran di GOR Saparua Bandung
  • 1979 pagelaran di gedung gubernur Jawa Barat (Gedung Sate), diikuti oleh 3 kelompok kesenian dari 3 kabupaten
  • 1980 pagelaran pada acara HUT Kabupaten Subang
  • 1985 mengadakan pagelaran di TMII anjungan Jawa Barat, dan kesenian ini mulai ditampilkan di TVRI Jakarta
  • Tanggal 17 Agustus 1989 mengadakan pagelaran di lapangan Gasibu Bandung, pada acara gelar senja dengan memasukkan penari dari siswa sekolah.
  • Tanggal 1 Oktober 1989 mengisi Pembukaan Pameran Kabupaten Subang. Dengan demikian pagelaran genjring bonyok tidak hanya tampil pada acara hajatan saja. Namun bisa pentas pada acara-acara resmi baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah.

Sekitar tahun 2000an kesenian ini mulai berganti dengan kesenian lainnya, yaitu tardug, yang merupakan pengembangan dari kesenian Genjring Bonyok dengan penambahan instrumen lainnya seperti gitar.

Source http://tarietradisionaljawa.blogspot.com/ http://tarietradisionaljawa.blogspot.com/2016/09/tari-genjring-bonyok.html
Comments
Loading...