Perkembangan Seni Brendung, Kesenian dari Pemalang

0 62

Kesenian Brendung dilihat dari bentuknya memang dianggap kuno dan mengandung permainan magic. Karena dalam permainan kesenian tersebut memerlukan keahlian melibatkan roh halus kedalam boneka wanita yang melambangkan bidadari, agar sesuatu permohonannya dapat terkabul. Maksud dan tujuannya meminta kepada kekuatan ghaib, diantaranya sembuh dari penyakit, mendapatkan jodoh dan agar desa jauh dari marabahaya.


Sekarang kesenian Brendung dimainkan kadang-kadang saja, apabila dibutuhkan. Kesenian tradisional milik masyarakat Sarwodadi pada masa hidupnya dulu, merupakan hiburan masyarakat juga dan biasanya ditampilan sesudah musim panen.Terlebih pada zaman sekarang yang serba modern kesenian Brendung sudah dilupakan orang.

Memang bila dibandingkan dengan kesenian tradisional yang ada dan hidup di Kab. Pemalang seperti seni Kuntulan, Bolo Boso, Wayang Purnodan Tayuban, kesenian Brendung keadaannya lebih memprihatinkan. Kesenian yang sekilas mirip dengan seni Jaelangkung ini sekarang sudah tinggal dari peredarannya dan tak punya tempat lagi di hati masyarakat.

Hal ini disebabkan, disamping keadaan para tokoh sendiri sudah tidak ada, juga jumlahnya sudah hilang. Seperti mlandang Taban pada tahun 1990an adalah keturunan yang III dari pawang Tawi. Kesenian Brendung sendiri sudah ada sejak tahun 1800 dan ditemukan oleh seorang penduduk desa Sarwodadi yang bernama TAWI. Oleh masyarakat setempat kemudian Tawi dikenal sebagai pawang Brendung dan secara turun temurun generasi Tawi ini menjadi pawang Brendung.

Dalam memilih tempurung yang dilakukan oleh mlandang adalah kelapa yang besar dan bulat untuk dijadikan kepala mbok Bredung tidak sembarangan. Seorang mlandang bahkan harus bertapa segala dan memilih ‘cumplung’ (tempurung kelapa) yang jatuh pas pada malam jum’at Kliwon. Kemudian didandani cantik jelita bak bidadari, oleh pawang dibawa ketempat yang dianggap keramat dengan dilengkapi sesaji dan peralatan kecantikan, antara lain bedak, alat-alat make-up, kaca untuk berhias dll. Dengan dibacakan mantera-mantera sambil membakar kemenyan dengan maksud mendatangkan kekuatan magic yang  akan dapat memasuki  boneka tersebut.

Setelah dari tempat keramat, barulah pawang mementaskan Brendung yang diawali dengan meletakkan boneka tersebut di atas penampi/tampah dan ditemani lampu kecil (senthir). Menurut pawang Brendung kekuatan magic akan cepat memasuki boneka bila penyelenggaranya dilaksanakan pada waktu bulan purnama, tanpa sinar lampu yang menyoroti. Konon yang menjadi pantangan, apabila yang menjadi pawang bukan dari ahli waris Tawi akan banyak mendapatkan kesulitan dan gagal dalam penyelenggaraan kesenian tersebut karena sang boneka tidak mau menari-nari.

Kesenian Brendung di desa Sarwodadi merupakan satu-satunya kelompok kesenian Brendung yang ada di Kab. Pemalang kala itu dan pernah tampil di TVRI Yogyakarta dengan para pemainnya diwakili ibu-ibu PKK setempat yang didampingi Ny. Carmi, istri dari Pak Taban.

https://budaya-indonesia.org/Brendung/

Comments
Loading...