Perkembangan Permainan Patrol dari Banyuwangi

0 204

Suasana Permainan

Salah satu aspek perwujudan kegotongroyongan masyarakat kita adalah kegiatan menjaga keamanan bersama atas lingkungan hidup kita. Kegiatan itu disebut meronda. Malam-malam sekelompok penduduk yang mendapat giliran meronda akan berjaga-jaga di suatu tempat di kampung dan beberapa kali melakukan pengawasan wila­yahnya dengan menginspeksi ini disebut patrol. Untuk mengusir kantuk, kesepian dan sekaligus menghalau penja­hat-penjahat yang akan mengganggu penduduk, maka dicarilah ber­bagai alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian.

Karena pohon bambu banyak didapatkan di sana maka paling mudah adalah me­motong-motong batang bambu itu dan menjadikan suatu alat perku­si atau alat tiup. Naluri aestetika telah mendorong ke arah permain­an musik yang sederhana yang dapat dinikmati. Demikianlah diciptakan berbagai bentuk potongan buluh bambu dengan berbagai cara memainkannya, sehingga menghasilkan perangkat permainan yang bersama-sama menghasilkan musik ensamble yang khas. Orangpun menyebutnya dengan istilah ‘musik patrol’, karena dimainkan ke­tika orang melakukan patrol.

Pada tengah malam sampai hampir menjelang fajar, kita dapat mendengarkannya di desa-desa atau di- kampung-kampung. Akan tetapi pada bulan Ramadhan kegiatan itu ternyata menjadi bertambah ramai dan meriah. Pada jam-jam men jelang sahur, selama sahur sampai menjelang subuh seluruh kelompok masyarakat memainkannya. Tujuan berpatrol dikembangkan men­jadi tujuan membangunkan orang untuk makan sahur.

Dan karena partisipasi remaja, anak-anak dan para pemuda lebih banyak muncul dalam bulan Ramadhan demikian, maka kemeriahanpun bertambah memuncak. Tidak sekedar memainkannya secara ritmis, tetapi ma­lahan banyak disertai dengan nyanyian-nyanyian tradisi daerah, nyanyian-nyanyian keagamaan dan malah nyanyian-nyanyian popu­ler pada masanya. Tak dapat dielakkan lagi alat-alat musiknyapun di­tambah dengan alat-alat musik yang lain seperti gendang, harmonika, gitar, kluncing (triangle), biola bahkan gong. Satu dan lain hal ter­gantung pada kemampuan masyarakat setempat.

Karena setiap desa, setiap kampung, bahkan setiap ling­kungan yang kecil di dalam masyarakat memainkan musik patrol itu pada bulan puasa, maka tidak jarang terjadi perarakan-perarakan mereka bertemu di perempatan jalan, di pertigaan atau di pusat- pusat kegiatan masyarakat seperti alon-alon, kantor desa, pasar dan sebagainya. Sengaja atau tidak pertemuan satu group dengan orang lain, akan mendorong mereka melakukan semacam kompetisi.

Yang satu akan memamerkan keunggulan dalam kekompakannya, yang lain kelengkapan alat-alatnya, yang lain lagi kemampuan menguasai ritme yang sangat sulit dan berbagai kemungkinan yang dianggap akan melebihi group lainnya. Kompetisi itu tidak saja terjadi antara dua group, karena amat sering terjadi lima group sekaligus bertemu di suatu tempat. Dapatlah dibayangkan betapa gaduh dan.ramainya suasana malam itu. Penduduk sekitarnya datang menyaksikan. Juga para suporter dari masing-masing group akan menambah pertemuan mereka menjadi lebih meriah lagi.

Tidak jarang ejek-cemoh, teriak­an dan tepuk tangan ikut memanaskan suasana. Orang menyebutnya dengan istilah ‘patrol caruk’, yang -artinya ‘perang’, kompetisi atau percampuran yang tidak menentu lagi antara pemain pemain patrol itu. Kegaduhan itu baru akan berakhir apabila adzan subuh telah ter­dengar dari masjid dan langgar-langgar, seakan menyerukan per­damaian, persahabatan dan memanggil mereka untuk menutup ma­lam Ramadhan itu dengan bersujud kehadapan Allah yang Maha Besar. Esok hari menahan haus dan lapar kembali, dan esok malam permainan dapat dimulai lagi. Demikianlah sepanjang bulan Rahmadan seluruh Ujung Timur Jawa Timur itu setiap malam dimeriahkan oleh permainan patrol. 

Latar Belakang Perkembangannya.

Sejak kapan permainan patrol ini ada sulitlah diketahui dengan pasti, tetapi mengingat bahwa peralatan yang dipergunakan adalah sangat sederhana, dan kebiasaan meronda sudah cukup dikenal di kalangan masyarakat, pastilah permainan ini juga sudah lama ada. Setidak-tidaknya karena kegiatan semacam ini mulai digalakkan se­jak jaman menjelang kemerdekaan, maka mungkin sekali juga per­mainan ini mulai dikenal.

Mengingat-istilah ‘patrol’ itu sendiri jelas berasal dari bahasa Belanda, maka dapatlah diduga bahwa kegiatan yang semula sudah dikenal dengan nama meronda itu atau ‘ronda’ mendapatkan istilah baru dengan nama ‘patrol’ itu. Tetapi musik bambu bukanlah barang baru di Indonesia. Sejak jaman Indonesia Hindu orang mengenal musik bambu sebagai yang dipergunakan dalam patrol itu dengan nama-nama ‘kenthongan’, angklung, calung, ‘khotekan’, pukul, ataupun tabuh. Pastilah jauh sebelum alat musik itu sudah dikenal sebab po­hon bambu sudah lama tumbuh subur dipelbagai daerah di Indonesia.

Selanjutnya karena kegiatan meronda itu sering tidak melibat­kan banyak orang, maka permainan patrol pada malam-malam di- luar bulan Ramadhanpun tidak selalu dilakukan orang. Kalau toh dilakukan, maka pasti tidak selengkap dan semeriah pada bulan Ramadhan. Sekedar memenuhi fungsinya menghalau kesepian dan mengusir penjahat yang membahayakan keamanan desa. Dan pada bulan Ramadhan, patrol dimainkan orang dengan lebih lengkap, meriah, penuh dengan nyanyian kegembiraan ataupun nyanyian keagamaan, memenuhi fungsinya sebagai pertanda waktu sahur. 

Pemain-pemainnya

Tak ada batas usia bagi siapa saja yang memainkannya. Semua adalah laki-laki sejumlah delapan atau sampai sekitar dua pu­luh orang. Terbaur antara anak-anak, remaja, dewasa bahkan orang tua. Yang jelas wanita pasti tidak ikut serta di dalamnya karena per­mainan dilakukan tengah malam sampai menjelang pagi. Pakaian me­reka sekenanya saja, pakaian sehari-hari yang mereka kenakan, dan tentu saja karena harus melawan udara dingin diwaktu malam, pa­kaian hangat tak akan mereka lupakan.

Source http://jawatimuran.net http://jawatimuran.net/2013/03/04/patrol-kabupaten-banyuwangi/
Comments
Loading...