Perilaku dan Pitutur a la Jawa : Madhangisingturu, Madhang Ngising Turu Vs Madhangi Sing Turu

0 122
Judul di atas  kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sisi keindahan bahasa menjadi hilang. Lengkapnya adalah sebagai berikut: “Urip iku mbok ya aja mung madhang ngising turu nanging bisaa madhangi sing turu. (urip: hidup; aja: jangan; mung: cuma; madhang: makan; ngising: berak; turu: tidur; madhangi: memberi penerangan). Kalau di Indonesiakan menjadi: “Hidup itu jangan cuma makan, berak dan tidur; tapi bisalah memberi penerangan pada yang tidur”. Maknanya ada tetapi keindahan “madhangisingturu” hilang. Ungkapan ini akan kelihatan lebih mantap kalau ditulis dalam aksara Jawa “ha na ca ra ka”.
MADHANG NGISING TURU
Orang yang hidupnya cuma “madhang, ngising, turu”, tidak hanya sekedar hidup bermalas-malasan. Ada makna yang lebih luas bahwa ia sudah nyaman dengan kondisi yang ada plus ia tidak peduli pada lingkungan sekitar. Kalau hanya nyaman dengan kondisi yang ada, sudah diungkapkan Plato dalam “alegori penghuni goa”. Buat apa keluar dari goa kalau semua sudah tersedia di situ mana hangat lagi di dalamnya. Plato menginginkan mereka keluar, melihat matahari dan dunia yang luas. Keluar dari goa yang gelap memang ada rasa enggan. Mata menyipit bisa juga keluar air mata diterpa sinar matahari. Angin bisa dingin, tetapi kalau sudah melihat hijaunya rumput di luar sana, ternyata kita gembira sekali seperti anak kecil melihat ibunya datang dari pasar. Jadi orang tua kita mengingatkan: “Urip iku aja mung madhang ngising turu”.
MADHANGI SING TURU
Hidup tentunya harus punya visi dan misi, oleh sebab itu sesepuh kita memberi arahan: “Bisaa madhangi sing turu”. Mengapa? Di luar sana banyak orang yang “turu”. Yang dimaksud dengan “TURU” disini adalah orang yang masih terbelenggu dalam kebodohan, orang papa yang tidak bisa melakukan apa-apa, orang yang butuh diberi motivasi supaya timbul semangatnya dan orang yang tersesat dalam kegelapan. Maka para leluhur pun mengingatkan kita supaya cawe-cawe ” MADHANGI”
“Padhang” berarti terang dan di atas telah ditulis, “madhangi” adalah memberi penerangan. Penyuluhan adalah bahasa umum dari memberi penerangan. Tetapi juga harus melakukan penggerakan supaya mereka termotivasi. Untuk kelompok tertentu harus diberikan dukungan. Contohnya bagaimana masyarakat sudah mengerti gizi dan sadar bahwa anak bergizi akan pandai sekolahnya tetapi kemampuan ekonominya amat lemah. Harus diberi pancing, supaya mampu mengail. Sudah punya pancing tapi bagaimana dapat ikan kalau tempat mengailnya tidak ada? Ya harus diciptakan lapangan kerja. Bagi yang tersesat dalam kegelapan tentunya kita tuntun ke jalan yang terang, dan tempat-tempat yang gelap Jangan dibiarkan gelap.
Nenek moyang dahulu melalui “MADHANGISINGTURU” sudah meminta kita untuk tidak diam saja, tetapi “cancut tali wanda” menyingsingkan lengan baju untuk melakukan perubahan. Saat ini pun kita sudah amat menguasai “teori perubahan”,dan menyatakan diri sebagai “agent of change”. Mental madhang ngising turu harus dibuang jauh dan diganti dengan madhangi sing turu.
Source http://iwanmuljono.blogspot.com http://iwanmuljono.blogspot.com/2011/11/madhangisingturu.html
Comments
Loading...