Perbedaan Wayang Garing Dengan Wayang Nusantara Lainnya

0 183

Perbedaan Wayang Garing Dengan Wayang Nusantara Lainnya

Wayang kulit selama ini selalu melibatkan penabuh gamelan (pangrawit), pesinden (swarawati), dan sang dalang (juru barata). Bahkan, belakangan muncul “kecenderungan” baru menampilkan kolaborasi wayang kulit dengan pelawak, penari, dan penyanyi.

Wayang kulit tanpa iringan gamelan dan pesinden yang melawan arus kecenderungan baru tersebut dinamakan wayang garing. Wayang garing adalah salah satu kesenian wayang yang lahir di Kabupaten Serang, Banten, yang hingga kini sering muncul di pelosok pedesaan.

Istilah “wayang garing” itu diberikan masyarakat yang melihat wayang itu sebagai pagelaran seni yang unik dan berbeda dari lazimnya pertunjukan wayang. Garing artinya kering, tidak ada apa-apanya. Kalau sungai dikatakan kering, berarti enggak ada airnya. Begitu pula dengan wayang garing.

Hal yang membedakan wayang garing dari wayang kulit, selain gamelan dan pesinden, adalah soal bahasa. Bahasa yang digunakan dalam wayang garing adalah bahasa Jawa Serang. Tembang untuk kekimpoi atau suluk adalah tembang-tembang berbahasa Sunda.

Tidak jarang bahasanya campuran antara Sunda dan Jawa Serang. Salah satu contoh campuran itu berbunyi, “Gunung kelir ya aling-aling. Yaa wong wayang, wayang anut maring dalang, dalang anut maring wayang, kelire wong alam sepita. Dung pak dung ging, dung ging… ger.”

Sedangkan contoh narasi yang menggunakan bahasa Jawa Serang itu, seperti “Sinten kang medalipun saking negara Kota Ngastinaraya, ing endi kocapa Prabu Suyudana kasebatipun kaliyan Begawan Kumbayana, miwah kaliyan Senapati Adipati Karna, agung Mendura Baladewa, serta Tumenggung Jayadrata. Sapiye-piye sakpangandikane, mboten wonten kang ngabuka suara…”, dan seterusnya.

Source https://www.facebook.com/notes/wayang-nusantara-indonesian-shadow-puppets/wayang-garing-wayang-asli-dari-banten/10150763731431110/
Comments
Loading...